
Andina memanggil Safa, Reni, dan Diki untuk kumpul dilantai atas sebelum memulai bekerja. Semuanya duduk di sofa hadiah dari Mama Rita.
"Sebelum bekerja, ini aku mau ngasih dulu sesuatu buat semuanya," Andina memulai percakapan. "Alhamdulillah olshop kita selalu ramai order, omsetnya terus naik. Jadi aku mau kasih bonus buat kalian," Andina menyerahkan amplop kepada Diki dan Reni. " Untuk gaji, seperti biasanya akan ditransfer sesuai tanggal," ujarnya lagi.
"Wah Alhamdulillah...makasih banyak Teh Andin," Ujar Diki dan Reni bersahutan mengucapkan rasa terima kasih.
"Sama-sama...semangat terus ya kerjanya, kita harus selalu jadi tim yang solid. Sekarang kalian boleh turun. Semangat bekerja !" ujar Andina memberikan motivasi. Diki dan Reni pamit turun untuk memulai kerja.
"Nah, kalau ini spesial buatmu Fa," ujar Andina menyerahkan amplop yang lebih tebal.
"Wow thank you beb, Alhamdulillah. Berkah dan sukses selalu olshop nya," balas Safa.
"Aamiin...ini juga berkat suportmu juga beb," ujar Andina. Mereka tertawa bahagia.
Tring. Hape diatas meja berbunyi. Andina mengambilnya mengecek beberapa chat yang masuk. Ia balas satu-satu pesan dari konveksi, teman, dan yang terakhir 3 pesan dari nama Pak Arya.
"Assalamualaikum..."
"Mama Andin, Athaya ingin ke ruko sekarang bolehkah ?"
"Kalau boleh, aku akan antar sekalian berangkat ke kantor."
Andina mengulum senyum, lalu mengetikkan balasan.
"Waalaikusalam"
"Iya, Papi Athaya. Ditunggu !"
Andina masih memperhatikan chatnya, balasan yang ia kirim langsung diread.
__ADS_1
"Ehem...bu boss, siapakah yang mengirim pesan sampai anda senyum-senyum seperti itu ?" ejek Safa.
"Ha ? Eh ini ni chat dari Mas Arya, Athaya mau kesini katanya ," jawab Andina.
"Eitss tunggu-tunggu, sejak kamu memanggilnya Mas ?" selidik Safa sambil memicingkan matanya.
Andina tertawa cengengesan. "Sejak kemarin, pas malam minggu waktu dihotel, aku ketemu dia pas keluar dari toilet. Ternyata Mas Arya ada disana juga sedang reunian. Lalu kita ngobrol sebentar dan dia memintaku ganti panggilan Pak jadi Mas, biar lebih friendly, katanya."
"Kenapa waktu itu nggak langsung cerita ?" tanya Safa sambil tangannya bersidekap.
"Sikonnya nggak pas beb, kan ada Kak Dino," jawab Andina mengeles.
"Oke oke aku maklumi deh. Tapi coba sekarang kamu ambil kaca."
"Untuk apa ?" tanya Andina mengernyit.
"Untuk melihat wajahmu yang memancarkan aura kebahagian, lihatlah...manik matamu seperti ada kupu-kupu yang beterbangan, hmmm...aku akan selalu mendukungmu beb !" ujar Safa sambil menaik-naikan alisnya.
"Ok Din, aku ke bawah dulu ya," sahut Safa.
"Hmm"
****
"Mama...." Athaya berlari ke arah Andina dan memeluk kakinya dari belakang. Dirinya yang sedang fokus menyusun stok hijab di rak display langsung terkaget.
"Aduh adek...bikin kaget aja. Sama siapa kesini hmm ," Andina menarik tangan Athaya hingga berada didepannya.
"Cama Papi, tuh..." Athaya menunjuk ke arah tangga.
__ADS_1
Andina yang sedang merapihkan rambut Athaya langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjukkan. Ia melihat Arya tersenyum, berdiri diujung tangga menyenderkan punggungnya ke tembok. "Kalau sudah ketemu Mama nya jadi lupa deh sama Papi nya," Arya pura-pura kesal.
Andina terkekeh melihat akting Arya. "Mas, ayo duduk dulu," tawar Andina menunjuk ke sofa.
"Makasih Din, aku nggak akan lama mau langsung ke kantor sekarang. Eh maaf ya, aku langsung naik kesini tadi temanmu suruh langsung naik aja katanya."
"Iya nggak apa-apa kok," ujar Andina sambil tersenyum. "Adek salim dulu ya sama Papi, Papi nya mau kerja nih." Andina menuntun Athaya mendekati Arya.
Arya menjongkokkan badannya, Athaya mencium tangan dan kedua pipi Papinya. "Sayang, jangan merepotkan Mama, oke...," Arya mencium kedua pipi anaknya. "Oke Papi..." Athaya memiringkan wajahnya dan tersenyum menampilkan gigi-giginya yang putih terawat.
"Hmm Mama nya mau salim nggak ?" ujar Arya tersenyum menatap Andina sambil mengangkat dua alisnya.
"Ish apaan sih Mas..." ujar Andina sambil memalingkan wajahnya karena malu.
Arya terkekeh, ia senang sekali bisa menggodanya, melihat pipinya merona.
"Oke aku pergi dulu ya, ini tasnya..." Arya memberikan tas perlengkapannya Athaya.
"Bye sayang," Arya mengelus rambut anaknya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam," jawab Andina yang diikuti oleh Athaya dengan cadelnya.
"Mama...Taya mau main lobot ya ?" pinta Athaya.
"Boleh sayang, sebentar diambil dulu ya robotnya," ujar Andina. Ia lalu membuka tas mencari robot yang dimaksud.
******************
__ADS_1
Sedekah poinnya dengan cara VOTE jangan lupa ya say...
Saatnya istirahat...besok aku sambung lagi ceritanya. Laff u all 😍