
Hujan deras mengguyur kota Bandung sejak sore. Memang, sekarang seluruh wilayah Jawa Barat sudah memasuki musim hujan. Banyak pemotor yang memilih berteduh didepan toko-toko yang memiliki canopy lebar, karena air meluap dari gorong-gorong ke jalanan. Tak sedikit motor yang mogok karena memaksakan menembus jalanan hingga harus didorong.
Berbagai umpatan dari sebagian orang terucap karena hujan telah menyulitkan aktivitasnya. Mereka lupa, saat kemarau melanda, mereka berharap hujan segera turun. Huft, itulah manusia, selalu lupa untuk bersyukur.
Hujan itu membawa berkah dan kebahagiaan. Karena saat hujan udara menjadi bersih dan segar, aroma hujan memiliki efek menenangkan, bagus untuk kesehatan kulit dan rambut, menghilangkan stres dan meningkatkan konsentrasi.
Jangan salahkan hujan kalau akhirnya memberi bencana. Salahkan diri kita yang serakah mengambil keuntungan dengan merusak lingkungan dan alam.
Arya hanya bisa duduk sabar merebahkan kepala di senderan jok mobilnya yang dia rubah sandarannya agak turun supaya nyaman tiduran. Selepas sholat magrib dia sudah keluar dari kantor untuk segera pulang. Tapi kini, sudah 2 jam mobilnya terjebak macet karena didepannya ada beberapa mobil yang mogok karena mesinnya kemasukan air. Harapan untuk segera pulang memeluk istrinya, pupus sudah.
"Pak Asep, bisa puter balik nggak, nyari jalan alternatif ?" tanya Arya ke sopirnya.
"Susah pak, mobilnya terjebak didepan dan belakang. Tidak ada celah untuk manuver," Pak Asep memperhatikan jalan dari spion kanan dan tengah. Dua lajur jalan itu padat dengan antrian mobil yang diam diposisinya.
Beruntung air tidak sampai masuk ke dalam Pajero kesayangan Arya itu, karena body mobilnya tinggi.
__ADS_1
"Hm, aku belum hubungi Andina lagi...mungkin dia khawatir karena aku belum juga pulang." Arya membatin. Dia melihat hape nya yang mati karena habis daya.
"Pak Asep, bisa pinjam hape nya ? Saya mau hubungi istri takutnya khawatir menunggu. Hape saya lowbat."
"Aduh maaf Pak Arya, hape saya juga mati pak." Pak Asep menoleh ke boss nya yang duduk disamping, memperlihatkan hape nya.
"Ya sudah, kita rebahan aja pak Asep....nunggu normal. Percuma memaki-maki juga...buang-buang energi saja..." ujar Arya setelah melihat penumpang mobil didepannya yang teriak.
Jalanan aspal hitam sudah tak terlihat lagi karena genangan air yang tinggi laksana sungai. Meskipun sudah revitalisasi gorong-gorong, tapi karena curah hujan tinggi dan tanah serapan kurang, air jadi melimpah ke jalan.
***
Arya membuka pintu dengan kunci cadangan. Lampu malam menyala diruang tamu, terlihat Andina tidur telentang di sofa dengan kaki tersampir diatas bantal sofa. Sebuah kebiasaan yang baru Arya ketahui setelah menikah. Istrinya jika tiduran santai, dia bukan memakai bantal di kepala tapi di kaki.
Arya berjongkok memperhatikan istrinya yang tidur dengan tenang. Wajah yang cantik alami tanpa make up, bulu mata panjang dan lentik, alisnya hitam dengan bentuk asli tanpa dicukur.
__ADS_1
Dia teringat kembali kata-kata Hendra tadi siang tentang Andina. Suatu kejutan yang membuatnya takjub dan makin cinta serta sayang terhadap istrinya. Mata Arya tampak berkaca, rasa bahagia dan haru membuncah. Dia terus memandangi wajah Andina yang putih mulus, kedua pipinya terbit semburat pink. Yang akan merona merah jika siang terkena hangat sinar matahari.
Arya mengecup bibir ranum istrinya yang tidak tipis juga tidak tebal itu. Dia perlahan menggendongnya menuju kamar dilantai atas.
Selesai melaksanakan sholat Isya, Arya ikut bergabung tidur diatas ranjang dengan posisi Athaya ditengah. Diciumnya lama kening dua orang kesayangannya itu. Rasa syukur kepada Allah Arya panjatkan dalam do'anya, atas nikmat dan anugrah kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.
Rasa lelah yang dirasakan tubuh, membuat Arya langsung terlelap. Tidur dengan perasaan damai dan tenang dalam satu selimut bersama anak dan istri tercinta.
...Dan sungguh, Kami sudah mempergilirkan (hujan) itu diantara mereka agar mereka mengambil pelajaran, tetapi kebanyakan manusia tidak mau (bersyukur), bahkan mereka mengingkari (nikmat)....
...QS. Al-Furqon - 50...
*******
...Bersambung...
__ADS_1