SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
173. Mommy Kece


__ADS_3

Arya menaiki tangga untuk mengecek kamar Athaya dan Lala yang selalu rutin dilakukanya tiap malam di jam tidur. Ia memutuskan memberikan kamarnya menjadi kamar Lala dengan pertimbangan anak gadis membutuhkan ruangan yang luas dengan dengan koleksi mainannya yang banyak. Sehingga ia merenovasi satu kamar bawah menjadi lebih luas sebagai kamar utama.


Rencana mau mengecek kamar Lala terlebih dahulu urung, sebab dari kamar si sulung terdengar suara cekikikan khas gadis kecilnya itu.


"Kenapa belum pada tidur?" Arya melangkah masuk ke dalam kamar Athaya yang memang melarang kedua anaknya mengunci pintu. Ia duduk di ranjang samping Lala yang tengah menyaksikan sang kakak memainkan dua boneka tangan.


"Nanti lah, pi. Jam 10 ya ya...." Lala mengatupkan kedua tangannya dengan mata mengerjap-ngerjap sebagai jurus merayu orangtuanya agar luluh.


"Iya, Pi. Besok kan libur. Boleh ya tidurnya agak malam." Athaya mendukung permintaan sang adik. Meminta aturan tidur jam 9 malam tidak berlaku malam ini.


Arya tampak berpikir sebentar. "Oke, Papi ijinin. Tapi subuh tidak boleh kesiangan! Nanti mama marah."


Membuat Athaya dan Lala girang dan berjanji tidak akan bangun kesiangan. Athaya melanjutkan mendongeng di depan Lala dan juga Papi Arya yang ikut menyimak sambil tiduran.


Hari ini jadwal pelajaran Pak Haer, guru agama. Pak Haer dengan semangat menerangkan mengenai surga.


Athaya melanjutkan cerita baru sambil berdiri beralaskan karpet di depan2 penontonnya, Papi dan Lala.


Lalu pak guru bertanya kepada seluruh muridnya.


Athaya mengambil muppet (boneka tangan karakter) laki-laki berkacamata untuk memulai peragaan.


"Anak-anak, siapa yang mau masuk surga?"


Ujarnya membesarkan suaranya sambil menggerakkan mulut boneka sebagai peran pak guru.


"Saya pak saya..." teriak semua murid penuh semangat.


Tapi ada satu murid bernama Ucup yang tidak ikut berteriak. Membuat pak guru kembali bertanya.


Lala yang menyimak cerita sang kakak tampak fokus dengan mulut yang mangap sambil memeluk guling kecil.


"Yang mau masuk surga...acungkan tangannya!"


"Sayaaa...." teriak para murid berlomba mengangkat tangannya.


Lagi-lagi Ucup diam tak bergeming. Demi memacu semangat semua murid, pak guru pun bertanya lagi.


"Yang mau masuk surga, ayo berdiri!"


Mendengar itu, semua murid berdiri. Kecuali Ucup yang tetap diam dan malah menyibukkan diri membaca bukunya.

__ADS_1


Athaya mengambil satu lagi muppet berseragam SD sebagai peran Ucup.


Merasa ada murid yang tak bersemangat, pak guru pun menghampiri Ucup dan bertanya, "Cup, kamu mau masuk surga enggak?"


"Mau dong pak!" jawab si Ucup. Athaya memperagakannya dengan suara cempreng.


"Terus kenapa kamu enggak berdiri?" lanjut pak guru penasaran.


"Lha, memangnya mau berangkat sekarang pak?"


Membuat Lala tertawa terpingkal-pingkal, merasa lucu dengan jawaban si Ucup ditambah muppet yang dipegang sang kakak yang tampak culun dengan dasi yang miring mewakili karakter Ucup.


Arya pun tak bisa menahan tawanya dan mengacungkan 2 jempol. Bisa-bisanya si kakak mendongeng cerita lucu penuh penjiwaan. Really talented.


Arya menegur Lala yang meminta lagi sang kakak mendongeng sebab waktu sudah menunjukkan hampir jam 10. Sesuai perjanjian, waktunya tidur. Ia menunggu si sulung yang tengah mencuci tangan dan menggosok gigi sebelum meninggalkan kamar.


"Baca doa dulu!" Arya memasangkan selimut sampai ke dada.


Athaya mengucap doa sebelum tidur dengan pelan, lalu membaca 3 surat Qul dan ayat kursi sesuai yang diajarkan mama Andin agar malaikat menjaganya sampai pagi. Lalu mengusapkan telapak tangan yang sudah ditiupnya. Menyapukannya dari wajah sampai kaki.


"Nice dream, jagoan. Love you." Arya mengecup kening Athaya dan mengusap kepalanya sebelum beranjak.


Giliran Arya berpindah ke kamar Lala yang keluar dari kamar sang kakak minta digendong. Sama halnya dengan tadi, ia pun menunggui Lala saat lagi di kamar mandi sampai membaca doa sebelum tidur.


"Nice dream, princess. Love you." Arya mencium kening Lala dan mengusap poni sambil merapihkannya.


"Love you too, Papi."


****


"Kok lama?"


Pertanyaan Andina yang sudah telentang dalam balutan baju tidur dengan panjang selutut, sehingga memerkan kaki jenjang putih nan mulus. Membuat Arya tersenyum menyeringai. Ia selalu saja merasa tergoda, tersulut gairah meski hidup bersama sang istri sudah bertahun-tahun lamanya. Tak ada bosan-bosannya.


"Anak-anak minta dispensasi." Arya mulai menelusuri kaki Andina yang halus dengan bibirnya. Menghirup keharuman lembut lotion yang menempel di kulit lembut istrinya itu. "Minta tidur jam 10 karena hari libur. Jadi aku temani dulu. Malah ikut dengerin si kakak mendongeng." lanjutnya saat aktifitasnya berhenti di paha. Ia pun menceritakan dongeng Athaya yang lucu sehingga membuat keduanya terkekeh bersama.


"Gosok gigi dulu...biar langsung tidur." Andina menahan tangan Arya yang akan menyingkap baju tidurnya dengan kilat gairah yang tampak di mata tajam suaminya itu. Apalagi si kecil Al masih berada di ranjang yang sama. Meski lelap tetap harus dievakuasi dulu.


"Siap, sayang."


Dengan tubuhnya yang kekar berotot, Arya mulai beraksi mengungkung. Memberikan sentuhan level expert dengan tangan dan bibirnya. Yang mampu meloloskan ******* dan lenguhan dari bibir Andina sehingga menyulut gairahnya semakin menyala.

__ADS_1


Petualangan meniti puncak kenikmatan surgawi berakhir di pertengahan malam dengan Andina yang terkapar dalam rengkuhan Arya dan tak lama kemudian terlelap dalam lelah. Arya menarik selimut untuk menutupi bahu putih Andina yang tak sempat memakai kembali baju sebab terlanjur terbang ke alam mimpi.


"Nice dream, sayang." Arya mengecup kening Andina, ikut berbaring di sisinya usai mengecek si kecil Al yang tetap terlelap di tempat tidur berdipan rendah yang berada di kamar yang sama namun ruang berbeda. Tak lupa ia membukakan pintunya agar saat si kecil terbangun tidak menangis dan bisa langsung berpindah sendiri ke ranjang utama.


Pagi menjelang. Athaya dan Lala bergabung sarapan dengan mulut yang menguap berkali-kali.


"Lala...." Al menarik tangan Lala mengajaknya turun dari kursi untuk bermain.


"Teteh, sayang.....teteh Lala." Andina menegur Al yang belum genap 2 tahun agar memanggil sang kakak dengan benar.


"Ceceh.. main mbim..." Al menarik lagi tangan Lala memintanya menemani naik mobil-mobilan yang berada di belakangnya.


"Males ah adek...teteh ngantuk. Sama kakak aja..."


"Ih enggak bisa. "Athaya menggelengkan kepala. "Kakak juga ngantuk."


Membuat Al memberengut dan bersiap menangis karena penolakan kedua kakaknya.


"Makanya Mama larang bobo malam-malam. Biar pagi-pagi nggak ngantuk." Andina menatap kedua anaknya yang tampak ogah-ogahan menghabiskan sarapannya. Sementara Arya masih berada di ruang fitnes, belum selesai dengan olahraganya.


Al mulai terisak dengan kepala yang menelungkup di kursi yang kosong.


"Bentar lagi latihan taekwondo kan. Mau tau agar nggak ngantuk?"


Tawaran mama Andin membuat keduanya mengangguk.


"Main mobil sama adek. Pasti seru dan ngantuk pun jadi ilang..."


Athaya dan Lala menuruti saran sang mama. Al menjadi penumpang di mobil miniatur BMW yang dikemudikan Athaya. Sementara Lala menyetir sendiri di mobil mini cooper.


"Jangan ngebut!" ujar Andina usai mengarahkan Athaya dan Lala. Bahwa hanya boleh menyetir sampai depan rumah Opa Roby, lalu berputar balik. Ia pun berdiri di depan gerbang mengawasi ketiga anaknya.


Al tampak kegirangan dan bertepuk tangan. Sesekali menjerit senang begitu mobil Lala sejajar dengan mobil yang ditumpanginya.


"Morning, mommy kece."


Andina memutar tubuhnya begitu mendengar suara pria yang mungkin menyapanya sebab suaranya terdengar dekat. Ia mengangkat kedua alisnya sebab pria yang berdiri bersandar di mobil yang mirip dengan miniatur yang dipakai Athaya tengah tersenyum lebar menatapnya. "Bang Emran?!"


****


Kece (bahasa gaul) artinya cantik, keren, menarik.

__ADS_1


__ADS_2