SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
153.Dalang Utama


__ADS_3

Krettt.


Suara halus terdengar dari engsel pintu karena ada dorongan dari luar. Seorang pria tinggi besar dengan wajah brewokan dan bekas codet serta kumis baplang, berjalan dengan tegap. Tap tap tap...suara hentakan sepatu boots layaknya yang biasa dipakai polisi, memecah kesunyian di dalam rumah itu. Pandangannya menyusuri 4 anak buahnya yang berdiri tegang menatap kedatangannya.


"Kalian kenapa basah kuyup ?" Bang Jago dengan suara beratnya, menatap tajam 3 orang anak buahnya yang nampak menggigil.


"Ampun Bang Jago....tadi kami tercebur di solokan saat menangkap target," sahut si plontos bicara sambil menundukkan kepala mewakili kedua temannya.


"Cih. Memalukan wibawa preman saja kalian!" ujar Bang Jago mendelik kesal. "Mana orangnya !?" dengan nada dingin Bang Jago kembali menatap tajam anak buahnya itu.


"Sudah diikat di kamar Bang..."


Bang Jago melangkah memasuki kamar. Ia melangkah mendekati Arya yang terikat di kursi dengan mulut di lakban. Ia menelisik sang sandera dari atas sampai bawah sambil manggut-manggut lalu menarik lakban yang membekap Arya.


"Heuh, kamu memang barang bagus. Pantesan si boss menginginkan tidur denganmu dulu. Sayang sekali setelah itu, sebelum matahari terbit kamu hanya tinggal nama...." sinis Bang Jago dengan tertawa menyeringai.


"Jangan percaya diri dulu....lihat ke belakangmu!" sahut Arya dengan senyum mengejek.


Spontan Bang Jago membalikkan badannya. Ada keterkejutan nampak di wajahnya melihat sosok tinggi besar berambut gondrong menatap tajam ke arahnya. "Hendra" lirihnya.


"Rupanya kau masih mengenalku, Bang Jago alias Mamat Codet sang jawara tukang nyingsatkeun anderok (jawara tukang menyingkap rok)," Hendra berkata dengan sinis.


"Rupanya kamu butuh modal buat 'jajan' sampai mau jadi penjahat lagi. Saya kira kamu akan insyaf dengan codet yang sudah kubuat, rupanya kamu ingin menambah hiasan di pipi satunya lagi...." lanjut Hendra dengan senyum mengejek.


"Uang dan wanita adalah kesenanganku, nggak usah sok nasihati...kamu ada disini cari mati hah!" Tangan Bang Jago memelintir kumisnya. Dengan percaya diri, ia melangkah maju mendekati Hendra.


Hendra memilih mundur sampai keluar dari pintu kamar.


"Ck, takut kau rupanya ha ha ha..." Bang Jago tergelak dikiranya Hendra takut akan dirinya.


"Saya bukan takut, tapi memilih tempat yang luas untuk menghajarmu !" gertak Hendra dengan aura membunuh.


"Hey kalian...singkirkan semua kursi dan meja di ruang tengah ini. Lalu hajar sok jagoan ini !" perintah Bang Jago kepada 4 anak buahnya itu.


Buru-buru mereka meminggirkan kursi meja sampai ruang tengah itu kosong. "Maaf Bang Jago kami nggak berani melawannya, kami takut ditembak..." ujar salah satu preman, karena sebelumnya mereka sudah diancam dan tak bisa kabur karena di luar ada Ricky cs memantau.


"Shit! Dasar bodoh. Kalian semua tak berguna!" Bang Jago mengumpat marah, matanya melotot menatap anak buahnya.

__ADS_1


"Baiklah preman sok alim, ayo kita gelut (berkelahi). Jasadmu akan kucincang dan dilempar ke sungai Citarum...." Bang Jago memasang kuda-kuda untuk memulai duel.


Hendra hanya berdiri santai tapi tetap waspada menghadapi Bang Jago yang siap mnyerangnya.


Serangan cepat berupa tendangan kaki disusul pukulan tangan kanan mengarah ke perut dan wajah. Hendra meliukkan badannya ke belakang sehingga serangan hanya mengenai udara. Dengan gerakan cepat Hendra menangkap tangan Bang Jago dan menariknya disusul memasukkan tendangan lutut ke perut lawan.


Bang Jago langsung oleng, dengan sempoyongan dia mundur. Kembali memasang kuda-kuda, memulai jurus kedua. Kedua tangannya meliuk-liuk seperti ular, untuk memecah konsentrasi lawan. "Ciaaaatttttt" teriak Bang Jago mengarahkan serangan mematuk leher.


Hendra menangkis dengan tangannya. Dengan gerakan memutar ia menarik tangan Bang Jago dan membantingnya sampai terlempar ke atas meja.


Prang.


Suara kaca meja yang pecah karena tertimpa tubuh besar Bang Jago yang jatuh tengkurap. Darah segar mengalir dari kedua pipinya karena tergores pecahan kaca. Perlahan, ia berusaha bangun dengan meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Ampun Hendra....ja-jangan bunuh saya...." dengan terbata-bata Bang Jago bersimpuh di kaki Hendra.


"Kamu akan saya cincang dan dilempar ke Citarum!" Hendra balik mengancam Bang Jago.


"Ja-jangan...saya mohon...saya akan lakukan apapun yang kamu kamu...tapu jangan bunuh saya..." kembali Bang Jago mengiba.


"Arghh ampun Tuan, saya nggak tahu nama bossnya. Dia perempuan cantik, tadi posisi di tol Cipularang, sedang dalam perjalanan kesini...." Bang Jago bercerita sambil memekik kesakitan.


"Kang Hendra, suruh mereka bereskan kekacauan ini. Kita lanjutkan skenarionya....aku ingin urusan ini tuntas malam ini juga!"


"Siap kang Arya!"


Dengan sekali perintah, para preman sigap melaksanakan intruksi dari Hendra.


Satu jam menunggu, Ricky yang mengawasi diluar memberikan laporan kedatangan sebuah mobil yang melaju mendekati rumah.


*******


Tak tak tak.


Suara highheels yang beradu dengan lantai keramik menggema, saat Bang Jago membukakan pintu untuk sang boss yang baru datang.


"Kenapa mukamu babak belur ?" sang boss memicingkan matanya menatap Bang Jago.

__ADS_1


"Anu boss, target tadi melawan. Saya berusaha tidak melawan sesuai perintah boss kalau dia nggak boleh lecet, makanya saya mengalah kena pukul," ujar Bang Jago sambil menunduk.


"Bagus. Mana dia ?"


"Di kamar, boss." jawab Bang Jago, menunjuk lurus ke depannya.


Dengan langkah cepat, perempuan seksi itu memasuki kamar. Ia tersenyum puas melihat Arya yang terikat dan mulutnya di lakban. Ia mendekati Arya, jemari lentiknya menyusuri wajah tampan sang tawanan. Ia.membuka lakban yang menutup mulut Arya dengan gerakan sensual.


"Hallo Arya, masih ingat aku hmmm....wanita cantik yang kau usir dari rumah, yang kau sia-siakan kehadirannya. Padahal tak ada satu pria pun yang menolak tubuh ini ha ha ha...."


Ya, wanita itu adalah Dea. Ia sakit hati dan merasa terhina dengan perlakuan Arya yang telah mengusirnya.


"Apa maumu Dea !" Arya menatap tajam ke arah Dea yang kemudian duduk di tepi ranjang.


Dea menyalakan rokok yang ia ambil dari tas brandednya. Menghembuskan asapnya dari mulut sampai mengepul di udara. Dengan bertumpang kaki mengekspos paha mulusnya, Dea menatap sinis ke arah Arya.


"Aku benci laki-laki yang berani menolakku, aku benci kamu yang sudah membuat sudaraku mati." Teriak Dea dengan sorot mata penuh kemarahan.


Dea bangkit dari duduknya, kembali mendekati Arya. "Dan sekarang aku jadi terobsesi ingin menikmati tubuh kekarmu....tenang saja kamu nggak perlu membayarku, buatmu free," Dea berbisik sensual di telinga Arya.


"Kamu akan bebas dari kematian asal selalu mau jadi teman tidurku sayang, gimana hmmm...." ujar Dea dengan tatapan lapar mengarah ke bibir Arya yang membuatnya gairah. Ia membuka tutup air mineral dan memasukkan serbuk obat ke dalamnya.


"Minumlah babe...." Dea tersenyum lebar, ia membuka mulut Arya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya siap menuangkan minuman ke dalam mulut Arya.


...Bersambung...


*****


Dear Netizen tersayang,


Mohon maaf aku harus break dulu selama 6 hari, berhubung pekerjaan utamaku sedang sibuk-sibuknya sampai akhir tahun ini. InsyaAllah kembali update 1 januari 2021.


Semoga mau sabar menanti ya pemirsah akoh yang semuanya baik hati dan selalu menebar senyum.


See You at 2021


Love U All 😍

__ADS_1


__ADS_2