
Andina sudah terlihat lelah mengawasi Athaya yang tidak bisa diam, kadang harus mengejarnya karena anak itu berpindah-pindah main. Belum lagi harus sabar melerai saat rebutan main ayunan dengan anak lainnya. Peluh mengucur dari kening Andina. Dirinya kepanasan karena terus bergerak dan tegang mengawasi Athaya, meski ruang Play Zone itu ber AC.
"Adek, mainnya udah dulu ya...Mama lapar..." Andina mengusap perut datarnya dengan raut sedih untuk merayu Athaya yang biasanya luluh kalau dirinya merajuk seperti itu.
"Ayo Mama mamam..Taya juga lapal...Taya udahan mainnya," Athaya langsung turun dari ayunannya setelah melihat wajah sedih Mama Andin.
Andina mengulum senyum, merasa sudah berhasil aktingnya. Ia menggendong Athaya menuju food court janjian dengan Safa yang sudah menunggunya setelah disuruh membeli baby car seat buat dimobil Andina.
"Sudah selesai mainnya..." Safa menyambut dengan senyum lebar, mencubit pipi gembul Athaya yang memerah karena berkeringat.
"Syudah onti...mainnya selu...lame banyak olang..." celoteh Athaya dengan aksen cadelnya.
"Fa...minumannya buat aku...kamu pesan lagi gih sekalian pesan steak," Andina menyeruput es jeruk Safa yang baru dimimun 1/4 nya, sampai tandas.
"Ya ampun Din...kamu kayak habis lari marathon aja," Safa menggelengkan kepala lihat Andina yang kehausan.
"Gimana gak cape, main sampai 2 jam ! Ini anak seperti Kuda leupas ti gedogan (Kuda lepas dari kandangnya*), lari kesana kemari gonta ganti permainan gak ada lelahnya ditambah banyak anak lainnya tambah semangat dia main," keluh Andina, sambil mengusap dengan tisu tetesan keringat diwajah putihnya yang kini memerah.
"Kalau diruko gak seaktif ini, lebih anteng karena main sendiri dengan banyak koleksi mainan," lanjut Andina.
"Ya sudah Mama Andin sekarang makan dulu biar kuat....kuat menghadapi kenyataan punya anak sebelum menikah," Safa terkekeh melihat reaksi Andina yang mendengus.
"Fa...bantu cek lagi ya daftar undangan teman SMA dan teman kuliah, takutnya ada yang terlewat, daftarannya aku simpan dimeja kerjaku," ujar Andina disela makannya, sambil menyuapi Athaya yang duduk disisinya di kursi anak.
"Aku gak akan ke ruko lagi paling nganterin kamu aja, mau terus pulang. Cape banget ini badan rasanya remuk..." lanjut Andina.
__ADS_1
"Oke tenang aja nanti aku cek lagi. Kamu jangan terlalu cape Din...hari H semakin dekat. Oh ya si Kintan tadi telepon, dia protes pengen juga jadi bridesmaid "
"Hmm berarti cewek jadi 6 orang ya, aku harus pesan 1 baju lagi ke konveksi," ujar Andina.
"Din, lihat nih ada berita update !" pekik Safa, menyodorkan hape nya ke depan Andina.
"Ya ampun, jadi pelakunya mantan bos sekaligus selingkuhan," Andina mendongak terkejut setelah membaca berita online tersebut.
"Kasihan sekali nasibnya...tapi aku lebih sedih dengan nasib anak ini..." Andina melirik dengan sudut matanya.
"Iya Din...untung Athaya masih keci belum mengerti apa-apa," sahut Safa turut prihatin.
Andina mengusap dengan tisu sekitar bibir Athaya yang belepotan. Dengan sayang, ia rapihkan rambut depan Athaya yang basah karena keringat.
"Andina, Safa...." keduanya menoleh ke arah orang yang memanggilnya, tampak menghampiri meja mereka.
"Alhmamdulillah baik, kebetulan sekali ketemu disini....ini anak siapa...lucu banget," ujar Dino. Ia duduk disisi Safa, berhadapan dengan Andina.
"Itu anaknya Andin..." Safa yang menjawab, sambil memasukkan ke mulut potongan steak terakhir.
"Apa ?? Becanda kamu..." kekeh Dino, melirik Safa disampingnya.
"Kak Dino, aku akan menikah sekitar 6 mingguan lagi...aku calon Ibu sambung anak ini," Andina menguatkan pernyataan Safa.
"Serius, Din !" Dino terkejut mendengar penjelasan Andina.
__ADS_1
"Iya, Kak. Nanti aku kirim undangannya kalau sudah dekat waktu."
Dino menggelengkan kepalanya, menatap tajam Andina. "Jelaskan dulu ! Kamu menolakku yang sudah bertahun-tahun berharap, dan kamu bilang tidak punya pacar. Tapi tiba-tiba sekarang mau menikah !"
"Aku memang tidak punya pacar, Kak Dino. Aku kenal baik dengan Papa nya anak ini. Sampai akhirnya dia datang ke Ayah untuk melamarku. Dia laki-laki yang mampu menggetarkan hatiku." Andina mengucapkan kalimat terakhir sambil menundukkan kepala."
"Wah, aku kalah telak sama duda nih..." Dino tertawa masam.
"Anyway, aku ucapkan selamat atas pilihanmu....dia laki-laki beruntung yang bisa mendapatkanmu," lanjut Dino.
"Makasih Kak. Jangan lupa nanti datang ya !" ujar Andina.
"Nggak. Aku nggak mau datang sebagai tamu. Aku mau daftar jadi groomsmen kamu !"
"Owh, kirain apa. Fa, catat nih Kak Dino untuk dibuatkan baju !"
"Size kemejanya apa, Kak ?" tanya Safa.
"Aku M," jawab Dino.
Obrolan berlanjut membahas no kontak teman-teman anggota BEM saat kuliah, yang jauh diluar kota, dan Dino memberikan daftar kontaknya. Mereka akan diundang memakai undangan digital.
"Kak, maaf aku harus pulang sekarang !" Andina menyudahi obrolan, melihat Athaya yang mulai merengek berkali-kali menguap.
"Mau aku antar ?" tawar Dino.
__ADS_1
"Nggak perlu, Kak. Aku bawa mobil...." Dino mengangguk, mereka keluar bersama menuju parkiran.
*****