SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
128. Tamu Itu


__ADS_3

Senin yang sibuk di ruko. Rekapan barang sudah menumpuk untuk dipacking karena terjeda libur hari minggu. Bisnis olshop Andina selalu ramai orderan karena model pakaiannya selalu up to date. Diki dan Reni mulai melakukan packing satu per satu.


" Diki, Reni, seperti biasa ya....jangan sampai salah barang apalagi ketuker, okay....?" ujar Andina mengingatkan. "Siap Teh...." kompak keduanya menjawab.


"Cieeee....sepertinya ada yang lagi berflower nih..." Andina melirik Safa yang lagi mesem-mesem memandang hape nya. Sontak Diki dan Reni ikut melihat.


"Wow sepertinya teh Safa lagi jatuh cintrong...." ledek Diki membuat Andina dan Reni tertawa.


"Hei hei...anak-anak....denger ya...Cinderella nanti malam akan kedatangan Pangeran Kodok. Cinderellai bingung harus pakai kostum apa..." ujar Safa dengan mimik sok serius. Andina dan lainnya sampai tertawa tawa.


"Mamaa....tenapa tetawa..."Athaya yang sedang menyobek-nyobek lakban mendongak.


"Ini sayang...onti Safa ngaboring. Ngabodor garing...." Andina menahan ketawanya.


"Siap-siap nih teh Safa bakalan nyusul teh Andin..." ujar Reni ikut nimbrung.


"Siap-siap aja kalian jadi bridesmaid lagi nanti." sahut Andina." Adek jangan ganggu Om Diki ya...Mama ke atas dulu !"


"Iya...." Athaya menjawab tanpa menoleh.


****


Jam 5 sore Arya sudah sampai di rumah. Pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak hingga bisa bisa pulang lebih cepat.


"Papiiii....." Athaya turun dari sepedanya berlari menuju Papi nya yang baru turun dari mobil.


"Sayang...." Arya langsung menyongsong membentangkan tangan, meraih Athaya. "Hmm anak Papi udah wangi..." Arya mencium wajah anaknya sampai Athaya tertawa-tawa.


"Papiiii jeliii...." tangan mungil Athaya berusaha menahan bibir Papi karena gesekan jambang tipisnya membuatnya geli.


"Eh Papi sudah pulang..." Andina mengelap tangannya yang basah selesai menyiram tanaman. Dia mendekat, mencium tangan suaminya.


"Mama Thaya makin cantik aja..." Arya mencium kilat pipi istrinya. Lalu merengkuh bahunya berjalan masuk ke dalam rumah dengan Athaya yang digendongnya.


"Sayang...sama Mama dulu ya, Papi mau mandi." Arya menurunkan Athaya dan mengusap kepalanya sebelum menaiki tangga. Arya bergegas membuka pakaian, memasukannya ke dalam keranjang baju kotor Dia melihat baju ganti sudah tersedia di atas ranjang.


Suara adzan magrib berkumandang dari masjid komplek. Arya dan Athaya yang merengek ingin ikut, bersiap dengan setelan koko nya.


"Sayang, aku nanti pulangnya setelah Isya, Athaya juga mau ikut..." ujar Arya sambil menuntun anaknya. Andina sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam.


"Oke Papi. Adek...di masjidnya jangan lari-larian ya...nanti yang lagi sholat terganggu..." ucap Andina memberi pemahaman.


"Iya Ma...Taya nda atan lali-lali..." jawabnya.


****

__ADS_1


Selepas Isya, Arya dan Athaya datang langsung menuju meja makan, duduk bersisian. Mereka bertiga makan dengan lahap. Sekali-kali teguran dilayangkan kepada Athaya yang tidak bisa duduk diam. Dia makan sendiri sambil diselingi nyanyi-nyanyi, bulir-bulir nasi sampai berjatuhan ke lantai.


Ting tong. Suara bel pintu rumah terdengar sampai tiga kali. "Bi Idah kemana ya..kok gak dibuka," ujar Arya merasa terganggu.


"Biar sama aku aja Mas...aku sudah selesai," sahut Andina. Ia beranjak sambil memakai kerudung instannya.


"Hai Malam....Arya nya ada ?" kalimat pembuka dari seorang wanita cantik memakai hot pant dan atasan sabrina. Andina saat membuka pintu, melihat seksama penampilan wanita yang berdiri dengan rambut pirang diikat kucir kuda, mengekspos leher dan bahu nya yang terbuka.


"Mas Arya ada. Maaf mbak siapa ?" Andina berusaha bersikap tenang, menormalkan suaranya. Tak dipungkiri, ada rasa resah di hati melihat penampilan wanita itu.


"Panggilkan saja Arya nya...dia kenal aku kok," jawabnya angkuh.


"Sayang...ada tamu siapa ?" suara dan langkah Arya terdengar mendekat. Dia berdiri di sisi Andina.


"Hai Arya....apa kabar..." dia tersenyum lebar, menyosor untuk cipika cipiki. Dengan cepat Arya menahan bahu wanita itu.


"Maaf Dea...." ujarnya. Wanita yang bernama Dea itu tampak santai menanggapi. "It's oke."


"Sayang kenalkan ini Dea dari Surabaya, sepupunya almarhumah Vita." Arya merengkuh bahu Andina yang wajahnya terlihat datar. Mereka pun berjabat tangan.


"Ayo silahkan masuk mbak," dengan enggan Andina mempersilahkan masuk tamunya.


"Kamu tau dari mana aku tinggal disini ?" ujar Arya setelah mereka duduk di ruang tamu.


"Aku ke rumahmu yang dulu ternyata sudah ganti pemilik. Lalu aku tanya ke pak RT dan dia memberikan alamat orangtuamu. Pas kesana hanya ada security, katanya lagi ke Jakarta ya...lalu dia menunjukkan rumahmu ini." jelas Dea yang duduk bertumpang kaki memperlihatkan paha mulusnya.


"Aku akan stay di Bandung selama seminggu Ar, ada pemotretan disini. Hm...boleh gak aku nginap disini, pengen deket dengan Athaya, dia kan baru sekali diajak ke surabaya, biar managerku tinggal di hotel" pintanya dengan senyum manis ke arah Arya.


"Maaf Dea, kamar tamu nya sedang direnovasi gak mungkin kan aku suruh tidur di sofa," ujar Arya menolak halus.


"Hemm gitu ya. Eh Athaya mana Ar....aku pengen ketemu nih."


"Sebentar aku panggilin ya..." Andina akan beranjak dari duduknya tapi ditahan Arya. "Duduk aja, yank !"


Arya lalu berteriak memanggil-manggil anaknya tanpa beranjak.


"Papi napa teliak-teliak....belisik..." Athaya datang memberengut, ditemani Bi Idah yang membawa air untuk tamu. Tak biasanya Papi nya seperti itu.


"Sini sayang...salim sama onti Dea ya !"


Dea turun dari kursinya, jongkok untuk memeluk Athaya sampai belahan dada nya terpampang. Arya memalingkan mukanya ke arah istrinya yang terlihat dingin.


Satu jam berlalu Dea belum menunjukkan tanda-tanda untuk pulang. Dia asyik menemani Athaya yang memainkan mobil remot oleh-oleh darinya.


"Dea maaf ya...bukannya aku ngusir, tapi ini sudah malam. Kami mau istirahat..." ujar Arya, yang melihat istrinya sudah gelisah.

__ADS_1


"Hm oke aku pulang. Besok malam boleh kesini lagi gak Ar... siang aku pemotretan jadi malamnya free," ujarnya.


"Sebaiknya tidak usah. Terus terang kami tidak nyaman dengan kehadiranmu, aku bukan saudaramu, kamu hanya saudara dari mantan istriku. Jadi, jangan datang lagi !!" tegas Arya dengan mukanya yang datar.


"Kamu sombong Ar....Athaya masih ada ikatan darah denganku," Dea terlihat kesal. Arya tidak menanggapinya.


"Bi Idah...." teriak Arya. Bi Idah datang dengan tergopoh-gopoh. "Bi antarkan tamu ini ke depan !" perintah Arya. Dea menghentakkan kakinya, berlalu tanpa pamit.


"Adek....ayo kita bobo..." Andina menggendong Athaya ikut meninggalkan ruang tamu.


****


Arya memejamkan matanya di sofa kamar. Istrinya begitu lama di kamar mandi sejak selesai menidurkan Athaya di kamarnya.


"Ehemmm." suara deheman membuat Arya membuka matanya. Dia langsung terduduk, matanya tidak berkedip memandang istrinya yang berjarak 2 meter. Dia menelan salivanya dan menahan nafas. Andina berdiri menggoda dengan lingerie merah yang dipakainya. Menampakkan jelas semua aset tubuh yang hanya terhalang samar kain tipis lingerie.


"Sayang...." Arya sampai tercekat saat Andina mendekat, duduk dipangkuannya.


Arya merengkuh pinggang Andina, membelai punggungnya yang terbuka. "Sayang...kamu seksi sekali...aku suka..." suara Arya mulai memberat. Bibirnya mulai mengarah ke gunung kembar yang menyembul.


Andina menahan bibir Aryadengan telunjuknya. "Katakan....cantik mana aku sama dia..." jari-jari Andina mulai bergerak erotis membuka kaos suaminya. "Tentu saja cantikan kamu sayang...istriku yang soleha..." bibir Arya kembali mendekat ingin mencium tapi ditahan lagi.


"Katakan....seksian mana aku sama dia...."bisik sensual Andina ditelinga Arya, sambil memainkan lidahnya ditelinga, turun ke leher...


"Tentu seksian kamu sayang...kamu ibarat roti yang terbungkus di etalase, dia ibarat gorengan yang dijual dipinggir jalan yang terpapar polusi dan dipegang bangak tangan saat memlilih...humphhh arghhhh" Arya mendesah nikmat saat istrinya bermain-main di area dada.


"Kamu jadi agresip yank, belajar dari mana...oghhhh" Arya kembali melenguh.


"Kamu mentornya suamiku sayang....." Andina mendorong Arya sampai telentang di sofa. Arya tersenyum lebar mendengar istrinya memanggil sayang. Dan ronde pertama dikuasai oleh Andina.


Arya membelai sayang wajah istrinya yang terlelap. Diusapnya keringat yang nampak.di kening Andina. Arya telah menguasai ronde kedua sampai Andina kelelahan dengan permainannya.


"Kamu hot kalau lagi cemburu. Love you so much my wife..." lirih Arya. Ia mengecup bibir istrinya yang bengkak. Dibenahinya selimut sampai ke leher, menutupi tubuh polos keduanya. Arya ikut terlelap, dengan Andina dalam dekapannya.


...Bersambung...


********


Wow panjang bingiiit. Ini udah 2 bab jadiin satu.


Othor mau ucapin selamat datang utk para readers baru. Coba yang baru2 acungkan tangan....☝


Mangga kalebet cai-cai wae mah aya....


Utk readers yang setia menemani dari awal sampai bab ini othor jg ucapin makasih banyak. Semua komen selalu aku baca. Othor senang kalau karyaku ini disukai. Alhamdulillah tak ada bullyan.

__ADS_1


Jangan lupa utk VOTE ya say !


Laf laf utk semua pokona mah 😍😍😍


__ADS_2