
Andina PoV
Aku mengantarkan Safa sampai depan ruko, ku lajukan kembali mobil menuju arah ke rumah. Aku memilih langsung pulang untuk mengistirahatkan badan yang lelah karena beberapa ini disibukkan dengan pekerjaan, mengurus persiapan nikah, ditambah Athaya yang sudah 2 hari ini nempel di dekatku.
Sampai dihalam rumah, aku melirik Athaya yang terlelap dijok samping dengan memakai baby car seat. Aku terenyuh melihat pipi chuby, bulu mata lentik, wajah polos tanpa dosa. Andaikan dia mengerti saat ini Mami nya sedang viral se Indonesia dengan berita aib, entah bagaimana dampak psikologis untuknya.
Perlahan, aku menggendongnya jangan sampai terbangun. Aku baringkan diranjang kamarku dengan hati-hati sambil ku kecup keningnya, membuka sepatunya. Bajunya basah karena keringat, aku membukanya perlahan diganti dengan baju kaos. "Tidurlah yang nyenyak sayang, semoga kamu jadi anak yang soleh," lirih batinku, sambil ku kecup lagi keningnya.
"Eh Teteh sudah pulang ?" Aku berpapasan dengan Ibu saat keluar menutup pintu kamar.
"Iya dari tadi, nih Teteh sudah mandi. Emang Ibu dari mana ? Nanya ke Zaki dijawab tidak tahu katanya..."
"Ibu dari rumahnya Bu RT bareng Ceu Edoh. Tadi pagi Ceu Edoh lapor sama Ibu, diwarung ada yang pada sirik bilang kamu mau menikah sama duda karena dia kaya dan ngasih mobil."
"Lalu Ibu jelaskan apa ?" Aku merebahkan kepala dipangkuan Ibu yang duduk diujung sofa, rambut panjangku dibiarkan terurai jatuh menyentuh lantai.
"Ibu tidak menjelaskan apa-apa, untuk apa menjelaskan sesuatu kepada orang yang tidak menyukai kita. Ibu hanya menenangkan Bu RT yang tampak mengkhawatirkan Ibu, takutnya Ibu jadi stres katanya..." ujar Ibu sambil terkekeh.
__ADS_1
"Bu, Teteh sekarang merasakan bagaimana capeknya mengurus anak. Kemarin-kemarin Teteh hanya mengasuh Athaya beberapa jam diruko tiap harinya, setelah pulang....lepas deh. Sekarang Athaya sudah 2 hari nempel siang malam, mana lagi aktif-aktifnya... ini badan rasanya remuk."
"Teteh menyesal ??" tanya Ibu sambil mengelus rambutku.
"Teteh gak menyesal Bu, hanya kaget aja. Kedepan, teteh akan mengurus suami dan anak, berarti teteh harus menyiapkan mental dari sekarang, beradaptasi dengan lingkungan dan keluarga baru."
"Jangan dijadikan beban, Teh. Nanti sambil jalan, dengan sendirinya teteh akan bisa melaluinya dengan bahagia asalkan ikhlas. Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia, ìa bekerja 24 jam tanpa ada hari libur. Nanti teteh jangan banyak mengeluh, karena banyak sekali pahala didalam rumah yang bisa ditabung untuk bekal akhirat. Harus LILLAH !"
Arghhh kata-kata Ibu bagaikan oase dipadang pasir, sangat menyejukkan. Aku malu, baru cape segini sudah mengeluh. Bukan...bukan mengeluh sih, lebih tepatnya belum terbiasa. Aku yang single, tanpa proses hamil dan melahirkan tiba-tiba mengurus anak 2 tahun yang aktifnya bikin nyut-nyut kepala dan harus punya stok sabar.
Aku mendengar suara salam dari depan rumah, itu suara Mas Arya. Aku memang mengirimkan pesan untuk menjemput Athaya ke rumah. Bergegas aku masuk kamar memakai jilbab instan. Ibu yang membukakan pintu untuk Mas Arya.
Andina menuju teras sambil membawa 2 gelas teh hangat dan sepiring brownis.
"Mas, kenapa gak duduk didalam ?"
"Disini aja dulu, Yank. Seger lihat yang hijau-hijau..." Arya memandangi hamparan rumput gajah yang disisinya berjejer rapih pot-pot bunga dan pohon-pohon mangga yang rindang serta pohon kersen.
__ADS_1
"Ini tempat pavorit kami kalau ngumpul akhir pekan, botram makan nasi liwet. Athaya aja seneng...kemarin main bola disini." sahut Andina.
Arya mengangguk-angguk. "Gimana tadi beres semua ?"
"Kartu undangan sudah naik cetak, sebagiannya dibuat digital. Souvenir sudah dipesan, seminggu lagi dikirim ke rumah. Terus aku lanjut ke play zone bawa main adek. Dia seneng banget lho Mas...makanya sekarang langsung tepar kecapean..." Andina melaporkan kegiatan seharian ini.
"Oh ya, aku juga beli car seat buat dimobilku karena adek gak diam kalau gak diikat," lanjut Andina sambil terkekeh.
"Pokoknya pakai aja kartu itu semaumu dari sekarang sampai kita udah nikah. Itu nafkah dariku, nanti aku isi terus tiap bulannya," ujar Arya sambil meneguk teh nya.
"Okay, Mas."
"Yank, mukamu agak pucat...kamu cape ya ?" Arya menatap lekat wajah Andina yang duduk bersisian terhalang meja.
"Eh...gak kok, ini aku baru mandi terus gak pakai bedak jadi ya terlihat pucat," Andina mengeles, menutupi kekhawatiran Arya.
"Kalau sakit bilang aku ya....aku gak mau kamu kenapa-kenapa, sini...biar mukanya gak pucat..." Arya mecondongkan badannya, memencet gemas hidung mancung Andina sambil menatap mesra. Hasilnya, pipi Andina blushing karena malu, memerah seperti udang rebus.
__ADS_1
"Argghhh rejeki ini mah, Eceu dapat vitamin A....pas banget lihat Mas ganteng lagi godain Neng Andin," lagi-lagi Ceu Edoh kegirangan. Ia membungkuk disisi pagar, kebetulan abis dari warung beli gula.
...BERSAMBUNG...