SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
181. Siapa Berani Mengusik Keluarga Syahputra


__ADS_3

Andina membawa Athaya ke dalam pelukannya. Diusap-usapnya punggung yang terguncang sebab si sulung tengah terisak. Ada rasa perih menggores hati mendengar isakan untuk pertama kalinya seumur ia mengurus putra sambungnya itu. Tersirat sorot kecewa, terluka, sedih, kala ia memandang dalam kedua manik mata berwarna coklat itu.


"Kakak adalah anak Mama----sampai kapanpun tetap anak Mama." Andina mulai berkata sambil mengelus rambut setelah Athaya tak terdengar lagi terisak.


Athaya menarik diri dari pelukan mamanya. Lengannya dipakai untuk menyeka sudut mata yang basah. "Mama belum jawab. Benar nggak aku bukan anak mama?" ujarnya dengan suara serak sambil memalingkan wajah ke arah berlawanan.


Andina memejamkan mata. Keputusan berat harus diambilnya. Padahal ia tahu selama ini Athaya selalu membanggakannya sebagai mama the best pada teman-teman di sekolahnya. Ia dan Arya pun sudah sepakat menyiapkan waktu yang pas untuk memberi tahu Athaya tentang siapa sebenarnya mama kandungnya. Tapi bukan sekarang. Bukan diusia yang masih anak-anak.


"Kak, liat Mama sini---" Andina memutar bahu si sulung agar menghadapnya. "Mama mau cerita, tapi sambil makan ya!"


Athaya menggeleng. "Nggak laper."


"Mama yang suapin ya. Kayak dulu kakak masih kecil seusia Al, kan mama suka suapin kakak di ruko. Kadang kakak datang ke ruko dianterin sama papi, atau Oma, atau onty Marisa. Ingat nggak?!" Sembari mengambil piring makan di meja, Andina mengajak Athaya mengingat-ngingat masa kecilnya.


"Nggak inget, Ma."


"Hm, wajar sih kalau nggak ingat. Kakak waktu itu usianya belum 2 tahun."


Andina menyuruh Athaya membaca doa sebelum mulai menyuapinya. Satu suapan mulai masuk ke mulut anak yang lagi merajuk itu.


"Mama memang bukan yang melahirkan kakak Athaya. Tapi itu nggak penting. Kakak tetap anak Mama."


"Mama sangat sayang sama kakak dari sejak masih kecil sampai sekarang dan sampai besar nanti."


Athaya menghentikan kunyahannya, beralih menatap lurus wajah mama Andin tanpa kata.


"Mama kandung kakak udah meninggal. Mungkin kakak juga nggak ingat ya?!"


Pasti nggak ingat karena tidak pernah dekat.


Athaya menggeleng lemah.


"Sekarang yang bikin kakak sedih apa, hmm?" ujar Andina tanpa berhenti menyuapi.


"Kata tante itu, mama tiri suka jahat seperti di sinetron. Mama hanya baik sementara nanti bakal berubah jahat." Adu Athaya dengan wajah murung lagi.


"Astagfirullah---" Andina menggeleng tak percaya ada orang yang tega menghasut sedemikian rupa.


"Jika ada orang yang bicara suka menjelek-jelekkan orang lain, kakak jangan mudah percaya. Bisa jadi orang itu iri."


"Sekarang coba kakak ingat-ingat, selama ini pernahkah mama marahin kakak?"


"Nggak." Athaya menjawab yakin. "Mama selalu sayang dan sabar sama aku."


Andina memberikan minum sebagai penutup makan yang sudah habis tak bersisa.


"Terus kakak percaya kalau mama nanti akan berubah jadi mama jahat?"


"Nggak, Ma. Tapi aku mimpi buruk, Mama sama Lala sama Al pergi jauh nggak ajak aku. Aku teriak nangis-nangis tapi Mama acuh." Athaya menyeka lagi sudut mata yang tiba-tiba menggenang.


Andina merengkuh bahu Athaya, mengusap-ngusap rambut hitamnya untuk memberi ketenangan, kehangatan kasih seorang ibu. Ia terus memberi sugesti positif dengan kata-kata penyemangat, untuk menghilangkan sugesti negatif yang telah masuk ke pikiran Athaya sehingga terbawa ke dalam mimpi. Ia pun mengajak Athaya tidur bersama-sama dengan Lala dan Al di kamarnya. Namun Athaya menolak.


Andina memutuskan menemani dulu Athaya tidur sambil bercerita tentang masa kecilnya. Bagaimana Athaya selalu nempel padanya tak hanya waktu kecil tapi sampai sekarang pun masih ketergantungan padanya. Yang membuat Athaya tertawa dan menyembunyikan wajah di balik bantal.


Andina perlahan beranjak turun dari ranjang usai memastikan Athaya sudah lelap. Begitu keluar kamar, ia berpapasan dengan Lala yang menyusulnya dengan wajah mengantuk.

__ADS_1


"Mama kok lama sih di kamar kakak." Lala merajuk diiringi mulut yang menguap.


"Nemenin dulu kakak bobo. Ayo sekarang Lala yang bobo. Gosok gigi dulu!"


"Mau bobo sama Mama ya, Ma!"


Andina mengangguk. Ia menyuruh Lala menyusul ke kamarnya jika sudah selesai menggosok gigi. Di bawah, tampak Al sudah tertidur di sofa ditemani ceu Edoh.


"Ceu, tolong gendong ke kamar ya!"


"Mangga, Neng."


Tadi Arya sempat melakukan panggilan video namun ia reject dan balas mengirimkan pesan.


"Nanti aku call back, nunggu anak-anak tidur."


Sekarang saat semua anaknya telah lelap, Andina memilih ke ruang kerja Arya untuk menghubungi suaminya itu. Baru saja memanggil, video call langsung terhubung. Dengan wajah cerah, Arya tampil full senyum memenuhi layar.


"Sayang, ada apa?" Arya mendadak mengendurkan tarikan bibirnya demi menatap Andina yang lesu. Tak seperti biasanya.


"Ada masalah di rumah, Pih." Keluh Andina tanpa melepaskan tatapan yang dipenuhi riak rindu. Ia sungguh sangat membutuhkan kehadiran Arya saat ini.


"Sayang, ada apa? Cepat bilang." Arya tampak tak sabar.


"Kemarin ada kabar dari sekolah kalau Athaya mengundurkan diri dari lomba. Aku belum bilang sama Papi karena lagi berusaha merayu lagi tapi kakak tak bergeming dengan keputusannya. Juga tak bilang alasannya apa."


"Tadi pagi aku sudah ke sekolah meminta maaf sama kepala sekolah dan wali kelasnya karena sudah memutuskan sepihak padahal seminggu lagi lombanya."


Arya pun mendengarkan dengan seksama semua cerita Andina tentang orang yang mengintimidasi sampai dengan kondisi psikologi Athaya saat ini.


"Aku akan pulang besok. Masalah ini nggak bisa dibiarkan."


Kalau Arya sudah berkata tegas dengan mimik serius, ia tidak berani menyanggah. Itu sudah menjadi titah yang tidak bisa dibantah.


Andina berbaring paling sisi menghalangi Al yang tidur tak beraturan. Ia tidak serta merta bisa tidur usai berbicara panjang lebar dengan suaminya itu. Pikirannya masih dipenuhi tanda tanya tentang siapa orang sudah membuat Athaya berubah murung dan pendiam.Tak menyangka ketenangan kehidupan rumah tangganya terusik oleh orang luar.


****


Andina mendadak terjaga dari tidurnya. Tetiba ada kegelisahan melingkupi hatinya dan teringat akan Athaya. Diliriknya jam yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Ia bergegas keluar kamar dan menaiki tangga menuju kamar Athaya.


"Mama---"


"Mama---"


Ia langsung meraba kening Athaya saat melihatnya tidur gelisah dan bergumam. Tampak bibirnya pun makin merah. "Ya Allah, Kak." Ia terkejut merasakan suhu yang panas.


Dengan berusaha tetap tenang, Andina menuju kotak P3K mengeluarkan termometer dan paracetamol yang selalu tersedia.


"Neng lagi apa?" Bi Idah muncul di dapur mengagetkan Andina yang tengah menyiapkan wadah untuk mengompres.


"Athaya panas, Bi."


"Tolong kompresin dulu kakak ya bi. Aku mau buat bubur oat dulu." Andina menyerahkan wadah berisi air pada bi Idah.


"Handuk kecilnya udah ada di kasur."

__ADS_1


Bi Idah mengangguk. Segera ia beranjak meninggalkan dapur.


Andina sama sekali tak memejamkan mata sampai pagi penjelang. Ia terus mengecek suhu tubuh Athaya yang awalnya 39,5°C kini turun menjadi 38°C, membuatnya sedikit lega.


"Lala, berangkat sekolahnya sendiri ya. Kakak nggak bisa ke sekolah, sakit demam."


"Yaah, nggak seru dong nggak ada kakak." LaIa tampak kecewa. "Lala libur aja ya Ma, mau nemenin kakak di kamar. Mau bacain dongeng lucu biar kakak cepat sembuh." Pintanya penuh harap sang mama mau mengabulkan.


Andina menggeleng. "Lala nggak boleh bolos. Biar Mama yang jagain kakak. Nanti pulang sekolah aja ngedongengnya." Ia pun mengantar Lala sampai teras dan mewanti-wanti Pak Asep agar mengawasi sampai memastikan Lala masuk ke kelasnya.


Dari arah gerbang yang sudah terbuka usai mobil yang dikendarai Pak Asep keluar, tampak Mama Rita dan Papa Roby masuk dengan mengayuh sepeda. Sepertinya baru selesai gowes.


"Mama liat cuma Lala aja di mobil. Athaya nggak sekolah?" Mama ingin memastikan penglihatanya sebab hanya melihat Lala saat membuka kaca jendela untuk melambaikan tangan.


"Iya Ma. Athaya demam. Aku udah telepon wali kelas, ijin sakit." Andina pun mengajak Mama dan Papa menuju meja makan untuk sarapan.


"Pantesan ada mata panda, kurang tidur rupanya." Mama mengamati wajah menantunya yang pucat dengan lingkar hitam di bawah mata. Andina hanya tersenyum tipis.


"Ma, Pa, ada masalah dengan Athaya." Andina membuka pembicaraan serius setelah melihat mertuanya selesai makan.


"Ada apa, sayang?" Mama tampak antusias menanggapi menantu kesayangannya itu.


Fokus ketiganya teralihkan melihat Safa yang datang dengan wajah panik.


"A Iky sama Kak Arya udah take off. Ada masalah apa, beb?!" Safa merasa penasaran sebab Rikcy mendadak mengabari akan pulang hari ini dari yang seharusnya besok sore. Mengatakan ada masalah keluarga Arya.


Sekalian saja Andina menceritakan di depan semuanya kejadian yang menimpa Athaya, kronologis dari awal sampai dampaknya sekarang. Mama tampak geram, Papa tetap tenang, Safa mengusap punggung Andina, usai mendengar keseluruhan cerita.


"Siapa orangnya yang berani mengusik keluarga Syahputra. Harus berhadapan sama Mama!" Dada Mama tampak naik turun dengan cepat sebab menahan marah. Tak terima cucunya dicurangi apalagi dengan cara yang menurutnya tak punya hati nurani.


"Pa, kita kenal hampir semua tokoh dan pengusaha Bandung. Kalau pelakunya salah satu dari keluarga mereka, mama ngak akan segan. Harus dikasih pelajaran tuh orang."


"Tenang, Ma." Papa merengkuh bahu Mama. "Jangan bertindak saat hati panas. Kita tunggu dulu Arya pulang."


"Athaya sama sekali nggak tahu siapa namanya?!" Papa menatap lurus Andina yang duduk berhadapan dengannya.


Andina menggeleng. "Athaya hanya tahu ciri-cirinya aja, Pa. Katanya tante itu badan tinggi gemuk, rambutnya pendek warnanya belang merah ungu."


Mama dan Papa naik ke kamar Athaya diikuti Andina dan Safa di belakangnya dengan membawa bubur. Tampak Athaya baru membuka mata saat keempatnya masuk ke dalam kamar.


"Uluuuhh cucu oma kenapa inih----" Mama memasang sikap wajar seolah tidak tahu apa yang telah menimpa cucunya itu. Ia meraba kening Athaya yang berkeringat dan terasa suhunya yang hangat.


Athaya hanya tersenyum malu, lalu menyapukan pandangan kepada semua orang yang berada di kamarnya. Ia tampak terkaget melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7.30.


"Mama, aku kesiangan." Athaya bangun terduduk dan terbatuk sebab panik, merasa sudah terlambat untuk sekolah.


"Hari ini nggak usah sekolah. Kakak lagi panas. Mama udah telepon Bu Puspa tadi." Andina duduk di sisi Athaya untuk menyuapi bubur.


"Ayo sayang, makan yang banyak biar cepet sembuh." Oma menyemangati cucunya yang setengah enggan untuk makan. Pahit katanya. "Nanti libur sekolah, Oma ajak semua cucu ke Taman Safari. Mau ya?!"


Athaya mengangguk.


"Ajakin juga temennya Lala. Siapa tuh ya namanya----" Oma Rita tampak berpikir dengan mengetuk-ngetuk jari di pelipis. "Namanya tuh kayak merk brownies gitu deh," lanjutnya dengan kening mengkerut.


"Namanya Amanda." Athaya menjawab cepat. "Oma mah, cantik-cantik kayak orang Arab gitu disebut brownies." lanjutnya sambil terkikik merasa lucu dengan istilah oma nya itu.

__ADS_1


Ada senyum kelegaan terpancar dari wajah Andina, Safa dan Papa melihat Athaya tertawa-tawa saat Mama Rita yang terus melucu saat berlanjut membahas kaitan brownies dan Manda yang sama-sama manis.


__ADS_2