
"Siapa Hendra ?" Ricky kembali menoleh sekilas, keningnya mengkerut. Ia merasa tak kenal dengan nama itu.
"Kamu ingat nggak dulu pernah lihat Andina lagi ngobrol dengan seorang preman di parkiran Bank ?"
"Oh ya ya....jadi dia itu Hendra ?" tebak Ricky. Pandangannya fokus memperhatikan jalan, tangannya erat memegang setir akan membelokkan mobil memasuki gerbang komplek perumahan. Ia menghentikan mobil dan membuka kaca saat security menghadangnya.
"Selamat malam Pak. Eh, ada Pak Arya... silakan lanjut Pak." dengan merunduk sopan security mempersilakan mobil masuk.
"Untuk beli kopi..." ujar Arya dengan senyum, memberikan selembar uang 50ribu yang membuat security sumringah dan mengucap terima kasih.
"Iya dia Hendra temannya Andina. Awal pertemanan mereka karena satu misi aksi sosial membantu anak-anak jalanan. Hendra punya skill taekwondo sabuk hitam, modal dia survive di jalan menghadapi banyak preman yang suka memalak anak-anak pengamen,makanya aku mau rekrut dia jadi bodyguard" jelas Arya melanjutkan bahasan yang terpotong tadi. Ricky tampak manggut-manggut faham.
Mobil Ricky tiba didepan gerbang. Arya memencet remot sehingga gerbang model kupu-kupu itu terbuka otomatis. Senyum Arya mengembang melihat anak dan istrinya berdiri di ambang pintu rumah dengan senyuman manis menyambut kedatangannya.
"Papiiii....." Athaya berlari menyongsong Arya yang baru turun dari mobil, menggelayutkan tubuhnya di paha kanan sang Papi karena ia tahu Papinya belum bisa menggendongnya. Athaya tertawa-tawa sambil melingkarkan kaki dan tangannya dengan erat saat sang Papi berjalan ala robot ke arah pintu.
"Kenapa bisa bareng Kak Ricky...mobilnya kemana Mas ?" tanya Andina setelah mencium tangan Arya.
"Pak Asep ada urusan dulu sayang, aku suruh dia pakai saja mobilnya. Aku ikut mobil Ricky karena ada pekerjaan yang mau dibahas di rumah..." sahut Arya tanpa memandang wajah Andina. Ia sedikit membungkuk mengusap-ngusap kepala Athaya yang masih nemplok di pahanya.
"Siapa yang mau digendong di pundak....sini sama Om...." seru Ricky berjalan ke arah ketiganya.
Athaya langsung melepaskan cengkramannya dari paha sang Papi. Menoleh ke arah Ricky dengan raut senang.
"Kaka mau Om Iky...." Athaya merentangkan kedua tangannya sambil berjingkrak-jingkrak kecil.
Ricky langsung meraih Athaya dan mengangkatnya ke belakang kepala dengan kedua paha bertumpu pada pundaknya. "Kaka pegangan pada telinga Om ya...biar nggak jatuh..."
Arya dan Andina tersenyum melihat Athaya yang dekat dengan Ricky. Mereka beriringan masuk kedalam rumah. Arya pamit dulu kepada Ricky untuk mandi.
"Yank, bantu pasang perban lagi...." Arya keluar dari kamar mandi hanya menakai handuk yang melilit di pinggangnya.
__ADS_1
"Mas makan berdua sama kak Ricky ya, aku sudah siapin...aku sudah makan tadi sore sama Kakak soalnya jadi gampang lapar sekarang mah..." ujar Andina disela dirinya mengoleskan salep anti biotik ke perut Arya.
"Iya sayang, duluan saja kalau sudah lapar jangan nunggu aku...utamakan keaehatanmu dan baby..." sahut Arya. Ia mengecup kening sang istri selesai memasang perban.
"Mama duluan aja bobo sama Kakak, habis makan aku mau lanjut ngobrol dengan Ricky di ruang kerja..." ujar Arya sambil merengkuh pundak Andina berjalan menuruni tangga. Andina hanya menganggukkan kepalanya.
****
Selesai makan, Arya mendengar suara mobilnya datang. Ia buru-buru beranjak keluar diikuti Ricky di belakangnya. Tampak mobilnya memasuki halaman, diiringi mobil patroli yang parkir di luar pagar.
"Bagaimana Pak Asep ?" Arya tak sabar ingin mendengar cerita.
"Aman Pak Arya. Setelah dikawal mobil patroli, mobil mereka tak terlihat lagi..." jelas sang sopir.
"Ya sudah, Pak Asep bisa istirahat..." Arya menolehkan kepalanya ke arah paviliun. Pak Asep membungkukkan badannya pamit menuju kamarnya di paviliun.
Arya berbincang-bincang sebentar dengan 2 orang Polisi yang mengawal. Mengucapkan terima kasih dan tak lupa menyelipkan lembaran uang saat mereka akan pamit.
"Ini mobil sama dengan yang tadi mengikuti...." jelas Arya saat memperbesar tampilan layar.
Ricky manggut-manggut sambil matanya fokus menatap layar LED. "Apa kamu mencurigai seseorang..?"
"Hm. Ini seperti dendam pribadi bukan rivalitas bisnis. Aku curiga dengan seseorang tapi aku nggak mau suudzon dulu ..."
Arya melihat kembali layar LED, nampak camera 1 menampilkan sebuah motor yang berhenti di depan gerbang. "Itu Hendra sudah datang. Ky, tolong ajak masuk kesini ya...aku ke atas dulu mastiin Andina nggak akan turun."
Arya dan Ricky keluar bersamaan dari ruang kerja. Arya menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Pintu kamar Athaya sedikit terbuka, ia menjulurkan kepala melihat ke dalam. Tampak Andina dan Athaya sudah tidur saling memeluk. Arya menyunggingkan senyum melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat.
"Apa kabar kang Hendra...?" Arya menyapa Hendra setelah dirinya kembali ke ruang kerja. Mereka bersalaman ber tos tinju.
"Alhamdulillah sangat baik. Kang Arya dan teh Andin apa kabarnya ?" jawab Hendra berbalik tanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik juga..."
"Oke. Kita langsung saja bahas permasalahannya...." Arya mulai menceritakan kejadian yang menimpanya dengan detail. Hendra menyimak dengan seksama keterangan Arya kitu.
"Aku ingin ini cepat selesai. Aku nggak suka berlarut-larut dalam masalah..." tegas Arya mengakhiri penjelasannya.
"Oke kang. Aku sudah lama tidak olahraga, kang Arya kerja saja dengan tenang. Aku yang akan mengurus para cecunguk itu. Akang ikuti saja skenario yang akan aku buat." sahut Hendra penuh optimis.
"Deal."
Mereka bertiga saling bertos tinju menandai kata sepakat. Setelah mengobrol panjang membahas berbagai hal, jam 10 malam Ricky dan Hendra memutuskan untuk pamit pulang.
"Kang Hendra kok ada disini..." suara seorang wanita dari atas tangga mengagetkan tiga orang pria yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Sontak ketiganya terkaget, menoleh ke arah tangga dimana Andina sedang berdiri terpaku dengan pandangan heran.
"Sebaiknya jujur saja kang Arya..." Hendra berkata sambil berbisik.
"Aku diundang kang Arya teh....tanya saja nanti sama suamimu. Maaf ya mau langsung pulang sudah malam..." Hendra mengatupkan kedua tangannya. Ia terkekeh melihat Arya menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
"Mas, kang Hendra ada apa kesini...." Andina masih penasaran karena Arya tadi belum menjawabnya. Kini mereka berada di kamar, Andina baru berganti baju tidur dan selesai memakai krim malamnya.
"Ngobrol santai kok yank, besok pagi aku akan ceritakan ya....sekarang aku pengen...." Arya memeluk Andina yang masih berdiri sedang menggerai rambut panjangnya.
"Mau naik kuda lagi hmm..." bisik Arya disela mengecupi leher dan telinga Andina.
"Aku mau tidur saja mas....ehmph arghh..." Andina mulai mendesah saat merasakan gelenyar-gelenyar nikmat yang dibuat sang suami dibelakang telinganya.
"Giliranku yang pegang kendali sayang....." Arya membimbing Andina mendekat ke ranjang. Menumpukan kedua tangan sang istri pada sisi ranjang.
Arya menyibak piyama seksi istrinya itu dari belakang, mulai menyusuri punggung putih nan halus dengan bibirnya. Tangannya ikut bergerilya menuju dua gunung kembar memberi sentuhan yang membuat Andina yang merunduk, menggigit bibir bawahnya. Lenguhan dan desahan tak tertahan keluar dari bibirnya. Sungguh, Arya sangat pandai dan lihai memanjakan sang istri sampai terbang melayang....
Dan...Arya pun mulai mengisi daya sampai penuh agar semangat untuk menyambut misi esok hari....
__ADS_1