
Arya melaksanakan sholat Jama' Takhir Isya dan Magrib dengan duduk di kursi. Tadi, pesawatnya take off jam 5 sore sehingga belum melaksanakan sholat Magrib. Sakit, bukanlah alasan sampai harus meninggalkan sholat sebagai kewajiban umat muslim. Selama raga masih bernafas, selama masih dalam keadaan sadar, sholat harus dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan situasi.
Raut keteduhan dan ketenangan nampak di wajah Arya selesai melaksanakan sholat. Ia menuju ranjang, merebahkan badan setengah duduk dengan bersandar pada tumpukan bantal. Andina sedang menina bobokan, tangannya menepuk-nepuk bokong Athaya yang tidur miring memeluknya. Ia senandungkan lagu Opick - Alhamdulillah.
Bersyukur kepada Allah
Bersyukur sepanjang waktu
Setiap nafasmu, seluruh hidu**pmu
Semoga diberkahi Allah
Bersabar taat pada Allah
Menjaga keikhlasannya
Semoga dirimu, semoga langkahmu
Diiringi oleh Rahmat-Nya
Setiap nafasmu, seluruh hidupmu
Semoga diberkahi Allah
Arya ikut larut menikmati suara lembut nan merdu Ardina. Matanya terpejam, menikmati dan menghayati bait demi bait lirik lagu itu.
Alhamdulillah, Wasyukurillah
Bersyukur padaMu ya Allah
Kau jadikan kami saudara
Indah dalam kebersamaan
Andina kembali mengulang lirik dari awal sampai ref. Suasana nampak hening, pelukan tangan mungil Athaya mengendor dengan mata terpejam sempurna.
Andina melirik Arya, sepertinya juga sama ikut tertidur. Ia coba memanggil Arya pelan tapi tidak ada sahutan. Mungkin rasa lelah yang tersirat di wajah membuatnya langsung tertidur.
__ADS_1
Andina mengulum senyum melihat dua pria beda generasi telah tertidur pulas. Ia ulurkan selimut untuk mereka bertiga. Andina mengecup kening Athaya yang tidur di tengah. Lalu beringsut mencium pipi Arya perlahan, dengan berbisik lirih ditelinganya "Aku mencintaimu karena Allah, suamiku..."
Lampu terang diganti dengan lampu tidur. Andina melafalkan doa dan dzikir sampai matanya ikut terpejam terserang kantuk. Andina berdoa, semoga Allah menjaga keluarga kecilnya selama tidur sampai besok pagi terbangun kembali.
Diluar sana, di ujung komplek, sebuah mobil silver berkaca hitam gelap mulai menghidupkan mesin mobilnya. Sang pengemudi mendekatkan hapenya ke telinga.
"Target sudah pulang ke rumahnya Boss !"
"Oke!" suara singkat terdengar. Tut. Panggilan diputus dari sebrang sana.
Mobil pun melaju meninggalkan komplek perumahan Arya.
*****
"Din, Arya dimana ?" Dengan tergopoh-gopoh Mama menghampiri Andina yang berada di dapur. Barusan Andina telah mengabari orangtuanya juga mertuanya mengenai kejadian yang menimpa Arya. Sengaja Andina mengabari pagi-pagi, kalau mengabari malam takutnya mereka menjadi susah tidur karena cemas.
"Mas Arya tidur lagi Ma, tadi abis minum obat..." sahut Andina sambil mengocek susu yang sedang ia buat untuk Athaya.
Mama terbelalak melihat jejeran dus susu di lemari kitchen set yang terbuka. "Andin, kamu lagi hamil ?" Mama menatap tajam netra Andina, ingin memastikan.
"He he he...iya Ma...maaf lupa ngabarin Mama...." Andina tertawa kecil menatap Mama Rita dengan sorot mata minta maaf.
"Ada apa Ma...pagi-pagi sudah heboh..." suara Papa terdengar, ia menghampiri ke dapur diikuti Marisa dibelakangnya.
"Ini Pa, Sa, Andina lagi hamil...." pekiknya lagi.
"Berapa bulan Din, sejak kapan tahu hamil hmm...kenapa nggak ngabarin Mama ?" Mama memberondong Andina, tangannya bersidekap di dada pura-pura marah.
"Aku baru periksa lima hari yang lalu Ma, awalnya aku nggak tahu lagi hamil karenga nggak merasa ada gejala. Tapi Ibu curiga dan suruh tespek dan Alhamdulillah ternyata positif. Sekarang jalan 7 minggu Ma..."
"Alhamdulillah....aku akan nambah keponakan..." Marisa berseru girang. Ia mengusap perut Andina yang masih rata itu.
"Ini kabar bahagia...anak-anak harus dikasih kabar juga Ma..." ujar Papa ikut mengucap syukur.
"Empat sekawan sudah tahu Ma..." Andina tersenyum meringis.
"Apa ??!!" Mama melotot. "Jadi kita yang rumahnya paling dekat yang paling akhir tahu...kalian sungguh terlalu!" Mama kembali menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Maafin kita ya Ma...rencananya mau ngasih kabar setelah Mas Arya pulang dari Sumatera. Waktu pulang dari dokter, ke rumah Mama pada nggak ada...kita maunya ngasih kabar langsung bukan lewat telepon Ma..."
"Hmm gitu ya. Baiklah Mama maafkan...sehat-sehat ya Mama dan baby..." Mama mengelus perut Andina dengan senyum sumringah.
"Aamiin..." sahut Andina ikut tersenyum bahagia mendapat perhatian mertuanya.
"Mama...mana susunya...." Athaya menyusul ke dapur dengan cemberut karena menunggu lama.
"Eh iya, ini sayang...maaf ya, Mama ngobrol dulu sama Oma."
*****
Arya menuruni tangga menuju ruang keluarga dimana seluruh keluarga sedang berkumpul menunggunya bangun tidur.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Ar ?" Mama yang sudah tidak sabar, segera menyibakkan kaos yang Arya pakai. Ia meringis ngilu melihat luka panjang berbalut perban itu.
"Alhamdulillah sekarang nyerinya mendingang Ma..."
"Ar, apa mungkin kamu punya musuh bisnis ?" tanya Papa.
"Nggak ada Pa. Arya nggak merasa punya musuh. Arya selalu berhubungan baik dengan siapapun..." sahut Arya yakin.
"Laporan dari Ricky tadi pagi, hasil cctv motor pelaku tidak memakai plat nomor jadi agak sulit mencari keberadaan pelakunya. Dan Arya sudah putuskan tidak memperpanjang urusan, hanya akan menyita waktu dan pikiran saja Pa..."
Semua tampak menyimak penjelasan Arya. Mereka manggut-manggut setuju dengan pemikiran Arya.
"Nak Arya, Ibu sudah buatkan sop ikan Gabus. Itu akan mempercepat pengeringan luka...dimakan ya...mumpung masih hangat," ujar Ibu yang baru datang beberapa menit yang lalu bersama Ayah.
"Iya Bu...makasih. Maaf Arya jadi ngerepotin Ibu..." sahut Arya merasa tidak enak.
"Ya nggak lah nak." sahut Ibu dengan senyum.
"Bentar, aku ambilin dulu ya Mas..." ujar Andina, beranjak menuju meja makan.
"Iya, sayang."
...Keluarga Sakinah bukanlah keluarga yang tanpa masalah, tapi mereka terampil mengelola konflik menjadi buah yang penuh Hikmah....
__ADS_1
...(Abdullah Gymnastiar)...