
Disebuah cafe, Mauren sudah duduk menunggu dua orang suruhannya datang. Tampak 2.orang pria tinggi besar berpakaian serba hitam datang menghampirinya.
"Ini boss, saya sudah mendapatkan informasi yang diminta," salah satu dari mereka menyerahkan amplop coklat besar.
"Kamu ceritakan saja, saya malas membacanya," perintah Mauren.
"Namanya Andina Ayu Affandi, umur 22 tahun. Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Pajajaran. Merupakan pemilik olshop Triple A Collection, juga tergabung di marketplace terbesar dan terkenal.
Ayahnya dulu sopir pribadi keluarga Arya selama 28 tahun. Gadis ini sangat dekat dengan anaknya Arya yang bernama Athaya Zaydan Syahputra umur 2 tahun. Hampir tiap hari anak itu datang ke ruko."
"Aku ingin lihat wajahnya !" perintah Mauren lagi.
Salah satu orang bayaran membuka amplop dan menyerahkan foto-foto yang ia jepret saat diruko.
Mauren mengamati satu-satu foto itu. Semua foto dalam posisi sedang memangku anak kecil. "Hmm cantik juga," batinnya.
"Cukup. Kalian boleh pergi, ini sisa bayarannya," Mauren menyerahkan amplop diatas meja. Kedua orang preman itu langsung pamit pergi meninggalkan cafe.
__ADS_1
Mauren termenung, jarinya mengetuk-ngetuk meja seperti sedang berpikir berat. Melihat foto-foto itu ia merasa punya rival yamg berat untuk dikalahkan.
****
Rumah Keluarga Andina
Sebuah mobil Xpander putih masuk ke halaman rumah, diikuti sebuah motor dibelakangnya. Mereka datang dari showroom mengantarkan mobil, untuk surat-suratnya akan menyusul paling lambat 14 hari kerja. Ayah dengan ramah menerima kunci mobil tersebut, lalu memberikan uang tip kepada pengantar itu yang pulangnya menaiki motor berboncengan.
"Alhamdulillah, Ibu mah nggak nyangka teteh bisa kebeli mobil ya Yah..." ujar Ibu sambil melihat-lihat kedalam mobil yang semua joknya masih berbungkus plastik.
Suara motor terdengar masuk ke halaman. "Asaalamualaikum..." Andina mendekati Ayah dan Ibu setelah mereka menjawab salamnya.
"Wah, kapan datangnya, Yah ?" tanya Andina berbinar melihat mobil impiannya sudah tiba.
"Baru saja orang showroom keluar, teteh datang," jawab Ayah. "Mau test drive, teh ? Jalan-jalan keliling sini aja," tawar Ayah.
"Ngak usah Yah...kan udah kemarin waktu ke Showroom. Takut nanti dikira riya," jelas Andina. Terkadang, ada saja tetangga yang iri jika melihat ada yang beli barang baru, entah itu kulkas, tv, motor atau apapun. Makanya Andina lebih memilih membiarkan mobil barunya terparkir di garasi.
__ADS_1
Andina mengedarkan pandangannya ke sekitar, tersenyum puas. Nampak pintu pagar besi sudah terpasang, canopy juga sudah selesai jadi mobil tidak akan kepanasan dan kehujanan.
"Adeuh....mobil baru ya Pak Wahyu," celetuk Ceu Edoh yang baru melintas, sepertinya habis dari warung. Ia mengangkat dasternya setengah berlari mendekati, mengelus-ngelus mobil. "Uluh...meni kinclong gini...ini belinya cash atau kredit, Pak Wahyu?" si Lambe Seuhah mulai melakukan investigasi.
"Alhamdulillah cash, Ceu. Ini yang beli Andina hasil dari kerjanya," jawab Ayah. Bicara dengan Ceu Edoh harus jelas karena ia infotainment sejati, jangan sampai Lambe Seuhah bergosip yang aneh-aneh.
"Duh Neng Andin mah hebat sekali...udah bisa beli mobil. Anak Eceu mah kerjaannya tik tokan we...pusing deh lihatnya," keluh Ceu Edoh.
"Eh itu...si ganteng tea...kapan mau kesini lagi Neng, perasaan belum lihat-lihat lagi... Eceu mah hapal mobilnya nu gagah hitam lampunya sipit. Eceu mah betah lihatnya iihhh ganteng pisan, mata jadi segerrr...," lanjut Ceu Edoh antusias, sampai hafal ciri mobilnya segala.
"Ishh Ceu Edoh kepo ah....." Andina mengerucutkan bibirnya, melengos masuk ke dalam rumah. Lama-lama dekat Ceu Edoh bisa sakit kepala.
"Ceu Edoh habis beli apa?" Ibu melirik kantong kresek hitam yang di tenteng Ceu Edoh. Sebetulnya, itu sebuah kode agar Ceu Edoh cepat pergi karena ia orangnya seneng sekali ngobrol, dan ujung-ujungnya ngobrolin orang.
"Astagfirullah, kok jadi lupa. Kang Adang pasti marah nungguin beli mie lama." tanpa pamit, Ceu Edoh langsung saja berlari ngibrit tanpa menoleh lagi ke belakang.
Ayah dan Ibu sampai tertawa-tawa melihat tingkah Ceu Edoh yang berlari mengangkat dasternya.
__ADS_1