SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
171. Anugrah


__ADS_3

PoV Arya


Bismillah. Aku memberikan nama untuk anak keduaku, sambil ku tiup ubun-ubunnya diiringi doa.


Aqila Sabrina Putriya


"Semoga engkau menjadi putri papi yang rupawan dan cerdas serta bijaksana, nak."


Si kecil yang sedang terlelap setelah kenyang menyusu, tampak mengulas senyum tipis seolah nalurinya mendengar bisikan lembut dari sang Papi. Aku dan Andina ikut tersenyum melihat respon baby Aqila yang imut itu.


Masih imut saja sudah pintar.


Semua keluarga sudah pulang jam 2 dini hari. Hanya aku dan Ibu yang tinggal, menemani Andina yang kini sudah terlelap, lelah.


Ibu juga sudah tertidur di sofa. Hanya aku yang masih terjaga duduk di kursi menemani istri dan si kecil yang tidur di dalam box. Meski lelah, tapi mata ini belum ingin terpejam. Masih terbayang bagaimana perjuangan Andina saat melahirkan tadi, sampai keluar bayi merah berlumuran darah. Birat merah di lengan karena cengkraman kuat Andina tak seberapa dibandingkan kesakitan dia saat persalinan.


Aku makin khidmat kepada Mama dan Ibu. Mama telah mengandung dan membesarkanku dengan curahan kasih sayang yang penuh tanpa bantuan pengasuh. Itulah mengapa akupun tidak mau anak-anak diasuh baby sitter, disamping takut melihat berita buruk kasus baby sitter yang saat ini tengah viral.


Mama selalu mendampingi aku belajar dan mendatangkan guru mengaji ke rumah. Aku merasakan hasil kesuksesan Mama dalam mendidikku, hingga menjadi aku yang seperti ini. Meski aku pernah salah dalam memilih pasangan hidup, tapi dari situ aku bisa belajar mengambil hikmah.


Dan, Ibu. Beliau juga Ibu hebat yang telah membentuk wanita cantik, lembut, dan soleha yang kini menjadi istriku. Aku sangat bersyukur dengan anugrah yang telah Allah beri.


MasyaAllah. Tak bosan-bosan aku menatap putri kecilku yang cantik menggemaskan. Dia menjadi pahlawan yang membantu meluluskan pembalasan si Pitung terakhir, sungguh konyol tapi membahagiakan. Impas lah, semua tidak mengalami malam pertama. "Hahaha...Jahat banget ya aku"


"Papi, kenapa belum tidur?" Rupanya Andina terjaga. Ia menatapku yang tengah membetulkan selimut baby Aqila.


"Tanggung, sayang. Sebentar lagi adzan subuh. Nanti saja tidurnya setelah subuh..."


Setelah minum segelas air, aku menyuruh Andina melanjutkan tidur, agar tenaganya segera pulih dan segar kembali. Ku kecup keningnya penuh sayang, wanita yang telah berkorban mengasuh dan mendidik Athaya seperti anak kandungnya sendiri.


Author PoV


Pukul 8 pagi suara gaduh saat pintu dibuka membuat baby Aqila terperanjat sesaat di pangkuan Andina. Baby Aqila baru saja menyusu, hingga kembali terlelap dalam buaian sang Mama.


"Mama....mana adek..." Athaya lah yang tergesa membuka pintu dan membuat gaduh karena teriakannya. Ia datang bersama Marisa dan Celine yamg semalam tidak ikut karena menemani Athaya di rumah.

__ADS_1


"Aduh ini bocah baru bangun tidur aja sudah merengek-rengek pengen kesini," adu Marisa yang juga di iyakan oleh Celine.


Andina yang duduk di tepi ranjang, tersenyum sambil merapikan rambut Athaya yang langsung naik ke atas ranjang. "Kaka mau cium ade ya Ma..." Athaya mendongak meminta persetujuan Mama Andin.


"Boleh sayang, tapi pelan-pelan ya, biar adeknya enggak kaget."


Mata bening Athaya berbinar, dengan naluri sayangnya ia mencium pipi dan kening sang adik dengah hati-hati.


Marisa dan Celine ikut berbahagia melihat bayi mungil dan lucu, anteng tertidur saat Ibu membantu Andina memindahkannya ke box. Marisa dan Celine belum berani menggendong bayi yang usianya belum sehari itu, takut salah gendong katanya.


"Kapan ya aku nyusul, gemes deh lihat baby Aqila..." Celine menatap penuh harapan. Hampir setahun pernikahannya, Celine masih menunggu anugrah titipan Tuhan.


"Sabar ya Mbak Cel, semoga bulan depan positif!" Andina memberikan motivasi kepada Celine agar tetap optimis.


****


Dua malam di rumah sakit, Andina bisa pulang kembali ke rumah. Mama dan Papa sudah menunggu di teras saat mobil tiba di halaman. Mama sepertinya sudah tak sabar ingin menggendong cucu keduanya itu sampai menyongsong saat Ibu Desi baru turun dari mobil.


"Bu Desi, sini biar saya yang gendong....du du du cucu Oma yang cantik...." Mama mengambil alih mengendong baby Aqila, menimang-nimangnya masuk ke dalam rumah. Si kecil sudah mencuri perhatian kakek neneknya, dengan sabar mereka menunggu giliran. Sampai Ayah Wahyu dapat giliran menimang paling akhir. Dan si kecil tetap saja anteng terlelap meski suasana riuh orang-orang dewasa terdengar bersuka cita, ia hanya merespon dengan geliat-geliat kecil dengan mata tetap terpejam.


"Kaka mau celita, ade halus dengelin ya...." Athaya tengkurap sambil menopang dagu di samping baby Aqila yang tidur di tengah ranjang.


"Ini celita tikus yang kelapalan...." Dengan mimik serius Athaya memulai dongeng yang pernah ia dengar dari Mama Andin. Mata sang adik hanya mengerjap halus saat mendengar suara kakaknya, kemudian lanjut terpejam.


"Ada seekol tikus yang sudah bebelapa hali tidak makan kalena tidak punya makanan. Syudah mencali-cali juga nda ada...syampai badan si tikus menjadi kulus....."


Disela ceritanya, Athaya memain-mainkan kakinya naik turun.


"Hmmm...syuatu hali, tikus menemukan kelanjang yang berisi buanyak jagung. Di dalam kelanjang itu ada lubang kecil, tikus melayap masyuk ke dalam. Teluuuuss...kalena sangat lapal, tikus makan dengan lakus syampai badannya gemuk, sepelti ini..."


Athaya merubah posisinya menjadi duduk sila, mempraktekan tangan membentuk bulatan di perut tanda si tikus menjadi gemuk. Tentu saja, baby Aqila tidak melihatnya, ia anteng merem, hanya seulas senyum terbit di bibir mungilnya. Semoga itu tanda sang adik seneng mendengar Kakaknya bercerita.


"Teluuss...apa ya? kaka lupa..." Athaya menoleh ke sofa, dimana ada kedua orangtuanya memperhatikan tingkahnya sambil senyum-senyum.


"Terus, karena badannya sangat gemuk, tikus itu kesulitan untuk naik keluar dari keranjang. Sampai tikus itu berteriak, bertanya pada tikus lain yang ada di luar keranjang" Andina langsung menyambung, melihat gestur Athaya seolah minta bantuan.

__ADS_1


"Syetop Mama, kaka ingat....!" Athaya menempelkan jarinya di bibir agar Mama Andin tidak meneruskan lagi. Athaya yang akan menyambungnya.


"Hai teman, aku mau kelual...gimana calanya? tikus temannya bilang, kalau mau memanjat kelual dali kelanjang, kamu halus nunggu badanmu jadi kulus lagi...." "Holeee...celitanya tamat..."


Athaya heboh sendiri bertepuk tangan, lalu mencium pipi dedek Aqila yang kembali mengulas senyum.


"Jadi dari cerita tikus itu, kita belajar. Jadi oramg harus selalu bersyukur, tidak boleh serakah. Iya kan, Kak?" Andina mengingatkan Athaya akan hikmah dibalik cerita. Athaya mengangguk kuat.


"Sayang, memangnya seperti itu saat kamu mendongeng ke Athaya?" tanya Arya. Tangannya merengkuh bahu sang istri dan memijatnya pelan.


"Secara garis besar isi ceritanya benar, Papi. Kakak mengulang lebih singkat dengan bahasanya sendiri. Ia ibarat busa, gampang banget menyerap segala sesuatu yang ia dengar."


"Tentu saja itu karena ibu hebat sepertimu. Makasih sayang...aku setiap hari selalu jatuh cinta berkali-kali kepadamu." Kecupan mesra Arya mendarat di pipi dan bibir sang istri. Andina balas menyandarkan kepalanya di dada sang suami, tempat yang memberinya kenyamanan dan perlindungan.


Athaya dan Aqila, mereka di atas ranjang. Sang kakak tampak sekali menyayangi adik kecilnya. Usapan tangan mungilnya di atas selimut sang adik, malah membuatnya menguap berkali-kali dan ikut terpejam di samping adiknya yang lebih dulu anteng dalam lelapnya. Baby Aqila hanya akan terbangun jika sudah merasa haus. Biasanya 2 jam sekali ia akan merengek bahkan menangis kencang meminta jatah nutrisinya.


Sakinah, mengandung makna ketenangan.


Rumah tangga yang tidak diisi dengan Ilmu Agama, selama-lamanya tidak akan pernah menjadi keluarga sakinah.


Keluarga sakinah bukanlah keluarga yang tanpa masalah, tapi mereka terampil mengelola konflik menjadi buah yang penuh hikmah.


...TAMAT...


...………………………...


Alhamdulillah, karya pertama season 1 sudah selesai. Makasih banyak readers tercintah, atas atensi dan apresisi terhadap novel ini. Mohon maaf jika ada typo, jika tak sesuai ekspektasi, pun jika ada istilah yang tak tepat. Author juga manusia biasa yang tak luput dari salah & khilaf.


Pelajaran yang terkandung di dalamnya adalah nasehat untuk aku. Tak ada maksud untuk menggurui teman readers semua, aku mah apa atuh....


Makasih sudah membersamai.


Salam hangat & peluk onlen utk semua 😍


Me Nia

__ADS_1


__ADS_2