SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
53. Ikatan Batin


__ADS_3

Tring.


Ada chat masuk ke hp Marisa.


"Sa, temenin kakak makan siang ya. Ditunggu dikantin 10 menit lagi.


"Ok"


Marisa membalas cepat chat dari Dokter Rendi.


"Ma...aku ke kantin dulu ya lapar, ada yang mau nitip ? tanya Marisa memandang semuanya.


"Gantian aja Sa...nanti Mama sama Papa makan dikantin juga. Kamu jangan lama-lama aja...jangan lupa sholat !" Mama ngeluarkan ultimatumnya.


"Siap Mam...abis makan langsung ke Musholla," Marisa bergegas keluar kamar perawatan Athaya. Ia menyusuri lorong rumah sakit mengikuti petunjuk arah jalan menuju kantin. Masuk ke dalam kantin dengan mudah menemukan keberadaan Dokter Rendi karena pengunjung kantin tidak banyak.


"Mau pesan apa ?" Rendi menyodorkan daftar menu saat Marisa sudah duduk didepannya.


"Aku Soto ayam kampung sama es jeruk, kak Ren apa ?"


"Samain aja..." jawab Rendi.

__ADS_1


Marisa memanggil pelayan dan menyerahkan memo pesanannya.


"Mama sama Papa udah datang ?" Rendi membuka percakapan sambil menunggu makanan datang.


"Sudah, tadi pas Kak Ren keluar Mama Papa datang." "Oh ya kak, tadi Athaya ngigau manggil-manggil mama...mama thaya...sampai nangis kejer pengen ketemu mama thaya gitu. kita semua bingung nggak ngerti siapa yang dimaksud," ujar Marisa menceritakan keadaan tadi.


"Hmm ada faktor x yang bisa mempercepat kesembuhan seorang pasien. Coba deh Sa..kamu tahu nggak siapa orang yang paling dekat saat ini dengan Athaya," ujar Rendi menganalisa.


"Ya Tuhan..." Marisa terlonjak berdiri, ingat seseorang. "Andina...ya benar Andina Kak..." Marisa berseru senang dengan intonasi tinggi, membuat orang-orang yang ada disana menoleh.


"Sstt tenang dong jangan teriak gitu," Rendi menyuruh Marisa duduk kembali. "Hmm bisa jadi maksudnya Mama Thaya itu Andina. Secara psikologis kasih sayang Andina dirasakan Athaya sebagai kasih sayang seorang Ibu. Hingga alam bawah sadarnya memanggil namanya Mama...."


Marisa manggut-manggut mendengar penjelasan Dokter Rendi.


"Sekarang makan dulu...abis ini kamu hubungi Andina suruh kemari, nanti kakak visit jam 2."


"Siap pak dokter...," Marisa menimpali sambil terkekeh.


*****


"Din, kenapa ? Dari pas datang kamu banyak diam dan lesu gitu, sakit ?" Safa mendekati Andina yang duduk bengong menghadapi laptopnya.

__ADS_1


"Huftt...nggak tahu kenapa Fa..pas mau berangkat tiba-tiba hatiku gelisah, jantung berdetak cepat. Aku sampai diam sejenak menetralkan rasa itu. Dan sekarang aku keingetan sama Athaya, tumben belum kesini...ada apa ya ?" Andina menutupkan kedua telapak tangan ke wajahnya sambil berucap istigfar.


"Kamu coba tenangkan diri dulu, banyak-banyak dzikir...positif thingking aja mungkin Oma atau Onty nya sibuk nggak bisa nganterin kesini," ujar Safa.


"Din...hp mu bunyi nih," Safa mengambilkan hp milik Andina yang tergeletak di karpet. Dilihatnya nama panggilan, Marisa.


"Halo Assalamualaikum..."


"Innalillahi..."


"Ya ya aku kesana sekarang, kirim chat aja nama ruangannya..."


"Iya..makasih ya Marisa."


"Waalaikumsalam."


Andina menyudahi panggilannya. Menoleh ke arah Safa yang terlihat minta penjelasan.


"Athaya dirawat dirumah sakit karena demam. Aku mau kesana sekarang Fa...kamu handle disini ya," Andina menjelaskan percakapannya dengan Marisa.


"Hmm berarti ini jawaban kegelisahanmu. Ya udah pergi gih...jangan khawatir urusan disini. Oh ya sebaiknya jangan bawa motor Din...takut nggak konsentrasi."

__ADS_1


"Kamu benar Fa...aku pesan taxi online dulu," Andina menyetujui saran Safa.


...BERSAMBUMG...


__ADS_2