
Mobil Arya yang dikemudikan pak Asep mulai memasuki gerbang tol Cipularang, mengantri untuk menempelkan e-toll. Dari spion terlihat mobil Alphard Papa Roby tepat berada di belakang. Hari libur antrian memasuki tol cukup panjang, banyak wisatawan lokal yang menghabiskan liburan di Bandung yang dikenal dengan surga kuliner dan fashion.
"Pak Asep, jangan terlalu ngebut. Maksimal 80 aja !" Arya mengingatkan dulu setelah pak Asep menempelkan kartu e-toll."
"Siap, pak Arya !" sahut pak Asep mengangguk patuh. Mobil mulai melaju dengan kecepatan 60 km/jam menembus tol di siang hari yang panas terik, belum ada hujan dari kemarin.
"Hm, teh Andin...itu bapak nya Safa galak tidak ya ?" tanya Ricky memiringkan badan ke belakang, dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Dia duduk didepan bersama sopir.
Setelah menikah, ketiga sahabat Arya juga Marisa merubah panggilan ke Andina, biasanya hanya menyebut nama saja kini menjadi Teteh Andin.
"Hmmm dibilang galak bisa, dibilang tidak galak juga bisa...." jawab Andina sambil mengawasi Athaya yang menonton kartun Nussa dari hape nya.
"Hah ! Maksudnya ?" Ricky mengernyit, masih memiringkan badannya ke belakang.
"Tunggu-tunggu....setelah nembak waktu itu, berarti lo belum pernah main ke rumahnya...?" Arya memicingkan matanya.
"He em....gue belum ada keberanian, bro..." sahut Ricky tersenyum smirk. Arya hanya menggelengkan kepalanya.
"Kak, Bapaknya Safa galak kalau ada laki-laki yang gangguin Safa. Kalau kesehariannya baik juga humoris, kayaknya bakalan cocok deh sama Kak Ricky..." Andina menyahut obrolan mereka.
"Oh ya, nanti jangan kaget ya....Bapak Safa kumisnya kayak suami Inul lho....." lanjut Andina, terkekeh pelan.
"Bentar-bentar....dibayangan gue...berarti wajahnya tidak mencerminkan karakter. Kalau kumis baplang kesannya galak, jutek, tapi ini kok humoris ya..." Ricky memegang dagunya, menerawang dengan analisanya.
"Lagak lo kaya Roy Kiyoshi aja," Arya mencebik. "Bro, cowok yang punya niat baik harus berani datang menemui orangtuanya, jangan berhubungan dibelakang. Bagaimana pun nanti penerimaan orangtuanya, lo harus hadapi. Tunjukkan itikad baik lo !" Arya menepuk-nepuk bahu Ricky dari belakang, memberi motivasi.
__ADS_1
"Ashiap bro ! Besok malam gue main ke rumahnya. Mumpung jadwal boss Arya besok tidak padat, gue bisa pulang sore." Ricky mengacungkan jempolnya tanpa menoleh ke belakang.
"Om Iki....Taya cudah hapal lagu Nussa... " Athaya berseru girang. Rupanya dari tadi fokus mengikuti lagu yang ditontonnya.
"Oh ya ? Coba Om mau dengar Thaya nyanyi...." sahut Ricky menengok sebentar ke Athaya.
Hai tawan ku atan tabalkan tentang lukun iman....enam lukun yang paling utama halus tita yakini...
satu iman tepada Allah
dua iman tepada malaikat
tiga iman tepada....
"Ma...apa lagi...Taya lupa..." Athaya menatap Mama Andin, netra nya penuh harap minta bantuan.
Empat iman kepada Rasul
Lima iman kepada hari akhir
Enam iman pada qodo dan qodar
Andina ikut bernyanyi menuntun Athaya yang langsung mengikuti bernyanyi.
"Yeay...Taya pintel tan Om...." Athaya bertepuk tangan heboh setelah berhasil menyelesaikan lagunya.
__ADS_1
"Good boy....kamu memang pinter dan ganteng seperti Om...." Ricky kembali memiringkan badan, mengacungkan dua jempolnya.
Athaya yang mendapat pujian terlihat senang, kembali mengulangi nyanyinya berkali-kali. Semua penumpang menarik sudut bibirnya, hingga suara Athaya melemah dan hilang karena kantuk menyerangnya.
Arya mencium gemas kedua pipi gembul anaknya yang terkulai dipangkuan Mama Andin.
"Haha....akhirnya tumbang..." Ricky tertawa pelan melirik Athaya yang sudah tidur.
Mobil tiba dengan selamat di halaman rumah. Sebelumnya mengantar dulu Ricky sampai depan apartemennya. Arya menggendong anaknya yang masih tertidur, membaringkannya di kamar Athaya.
"Den Arya, kemarin sore ada tamu mencari Aden...." Bi Idah menghampiri kedua majikannya yang duduk diruang keluarga, membawakan dua gelas es jeruk.
"Siapa bi ?" Arya mengernyit menatap bi Idah.
"Bibi sudah tanya namanya siapa, dari mana. Tapi gak mau ngasih tau, katanya nanti aja kesini lagi," jawab Bi Idah.
"Laki-laki atau perempuan, bi ?" tanya Arya lagi.
"Perempuan, den. Hm...cantik, rambutnya pirang, badannya seperti model di tv. Dia juga bawa koper..." jelas bi Idah seadanya.
Andina langsung menatap tajam Arya, kedua alisnya bertaut.
"Aku gak tau sayang... nanti aja kita lihat kalau iya dia mau datang lagi." Arya seolah bisa membaca arti tatapan istrinya.
******
__ADS_1
Hmm, siapa ya ? 🤔🤔🤔