SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
155. Malam Yang Melelahkan(2)


__ADS_3

Arya berdiri di depan Dea yang sudah terikat di kursi bekasnya tadi saat pura-pura tersandera. Tubuh Dea ditutupi sehelai kain gorden yang dicabut dari tirai ruang tamu, karena ia sempat membuka boleronya saat menggoda Arya. Sehingga, yang tampak adalah belahan dada yang menonjol setengahnya di balik tanktopnya yang ketat seolah bongkahan itu ingin loncat dari


tempatnya. Kalau laki-laki itu bukan Arya, pastinya akan rontok pertahanan imannya melihat pemandangan seolah kucing lapar melihat ikan dihadapannya.


Dengan bersedekap tangan di dada, Arya memandang dingin perempuan di depannya yang sorot matanya masih memancarkan kemarahan. “Aku bisa saja memberikan minuman obat perangsang inibke salah satu preman disini. Dan kamu akan jadi pelampiasan nafsunya,” hening sesaat, Arya menggantungkan bicaranya.


“Beruntung aku masih punya hati nurani, karena aku teringat istriku, Mama, juga adikku. Mereka adalah wanita-wanita terhormat yang sangat


menjaga harga dirirnya. Kamu pun seorang wanita, tapi harga dirimu sudah tidak ada, kamu tak lebih berharga dari sampah rongsokan yang masih ada nilainya saat pemulung menjualnya. Semoga penjara bisa membuatmu bertobat, Dea!”


“Ck, Jangan sok alim kamu Arya. Harta, tahta , dan wanita bukankah jadi  kesenangan semua pria.


Saat kedudukan dan uang melimpah, pria tak akan cukup dengan satu wanita, dia akan bermain-main di luar. Aku sudah membuktikannya menjadi simpanan pria-pria kaya,’” ujar Dea penuh bangga.


“Tapi Arya jauh beda dengan David, suami yang kau rebut hatinya dan kau kuras uangnya sampai habis, kemudian kau tendang!” dengan suara


bergetar menahan marah, Mauren menyahut dari ambang pintu, dirinya sudah mendengarkan dahulu pembicaraan antara Arya dan Dea.


Arya membalikkan badannya, terkejut melihat adanya Mauren. Arya mengkerutkan kening menatap penuh tanya ke arah Ricky dan William yang berdiri di belakang Mauren. Ricky memberi isyarat jari tangan membulat bahwa everything it’s oke.


Dea juga tak luput merasa kaget melihat Mauren. Kejadian di singapura tiba-tiba flashback, berputar di kepalanya saat dirinya saling jambak dan saling cakar karena terciduk sedang ***-*** di kantor suami mauren saat itu.


Plak.


Mauren menampar pipi kanan Dea sekuat tenaga. “Ini hadiah untuk keberhasilanmu menghanancurkan rumah tanggaku.”


Plak.


Tamparan keras kedua mendarat di pipi kiri Dea. “Ini hadiah untuk kelakuanmu ingin merusak rumah tangga Arya dan Andina. Kamu harus


berhadapan dulu denganku!” geram Mauren menatap penuh amarah wajah Dea yang


merah bekas tamparannya.


“Perempuan jala** sepertimu harusnya mati duluan…” teriak Mauren, lalu tangannya mencekik leher Dea kuat-kuat sampai Dea tersengal


dan matanya melotot.


Semua pria yang ada dalam kamar terkesiap, tak menduga dengan tindakan Mauren. Arya dengan sigap melerai tangan Mauren dari leher Dea.

__ADS_1


“Ren, istigfar….jangan bertindak gegabah. Ini hanya akan menambah masalah baru. "Istigfar, Ren…..” Arya menyadarkan Mauren yang sudah terbawa nafsu amarah.


“Astagfirullahhal’adziim….aku khilaf ya Allah,” Mauren mengusap mukanya dan beristigfar berkali-kali. Ia memundurkan tubuhnya menjauhi


Dea yang tampak pias dan ketakutan.


“Ayo keluar dari sini, Ren…” Ricky menepuk bahu Mauren mengajak keluar rumah untuk menenangkan diri. Bersaman dengan itu, dua mobil Polisi tiba di depan rumah. Empat orang aparat satreskim turun dari dua mobil tersebut, Ricky langsung mengajak mereka masuk.


Tak butuh waktu lama, lima orang tersangka dengan tangan terikat digiring memasuki mobil. Arya bersama satu orang Polisi yang dikenalnya


tampak berjalan paling akhir. “Baiklah Pak Arya, semua barang bukti kami bawa


sekarang. Secepatnya Pak Arya saya tunggu di kantor untuk membuat laporan, agar


segera diproses ke tahap penyidikan.” Arya mengangguk siap. Ia dan sang polisi berjabat tangan sebelum mobil meninggalkan tempat itu. Suara sirine sengaja tidak dibunyikan agar tidak mengundang perhatian warga sekitar yang mungkin sudah terlelap dalam buaian mimpi.


Arya menjabat tangan Hendra dengan erat dan kuat. “Kang Hendra, terima kasih banyak untuk bantuannya. Aku sangat berhutang budi sama


akang, sekali lagi makasih banyak ya.”


“Sama-sama kang Arya. Sudah kewajiban kita saling membantu, kang….” Jawab Hendra. Mereka berpelukan saling menepuk bahu.


“Kang Arya, saya membantu dengan tulus ikhlas.  Apalagi Teh Andin selama ini banyak berjasa


untuk kami, kang. Di tambah sekarang pembangunan rumah singgah sudah 90% itu


kan jasa kang Arya. Jadi jangan berpikir untuk memberi saya imbalan, kebaikan


kalian sudah terlampau besar,” jelas Hendra. Arya tak berkata apapun hanya menepuk bahu Hendra tanda haru.


Mobil Pajero datang dengan dikemudikan oleh Asep, disusul di belakangnya mobil Ricky yang dibawa oleh William.


“Mauren, kamu berani nggak pulang sendiri ?” Arya menoleh ke arah Mauren yang berdiri menyandarkan tubuhnya ke tembok pilar.


 “Jangan khawatir Ar, aku berani kok. Aku  bawa mobil sendiri,” sahut Mauren mengangguk yakin.


“Kamu cepat pulang Ar, kasihan Andin pasti


gelisah menunggumu…” lanjut Mauren mengingatkan.

__ADS_1


Arya tersadar akan ucapan Mauren.  Ia melirik jam di tangannya, buru-buru memasuki mobilnya setelah saling berucap perpisahan. Hendra masuk ke mobil Ricky untuk diantar pulang ke rumahnya.


*****


Di perjalanan pulang Arya memeriksa hapenya, benar saja ada 2 misscall dari Andina. Arya segera mengirimkan pesan pada sang istri. “Sayang, aku on the way pulang. Aku baik-baik saja…”  Beberapa saat Arya memperhatikan chatnya yang centang 2 tapi belum terbaca, mungkin Andina sudah


tidur, pikirnya. Jalanan yang lengang di tengah malam membuat mobil leluasa melaju dengan kecepatan tinggi, hanya butuh 30 menit  sudah sampai di depan rumah.


Arya langsung menuju ruang keluarga yang masih menyala lampunya. Dilihatnya sang istri tertidur di sofa dengan kaki beralaskan bantal. Di karpet ada bi Idah yang juga teridur  karena dari tadi ia memilih menemani Andina.


TV masih dibiarkan menyala sebagai teman pengantar tidur. Arya menggoyangkan lengan bi Idah yang kemudian terbangun, mengucek-ngucek kedua matanya. “Bibi tidurnya pindah ke kamar ya. Makasih udah nemenin istri saya bi….” ujar Arya


bicara pelan. Bi Idah hanya mengangukkan kepalanya sambil senyum, ia pamit menuju kamarnya.


Arya mematikan TV dan lampu sebelum menggendong tubuh Andina, memindahkannya ke kamar. Dengan perlahan ia merebahkan tubuh sang istri yang makin berisi dan berat. Arya merapihkan rambut yang terurai menutupi wajah


Andina, dipandanginya wajah ayu sang istri yang terlelap dengan damai dan tenang. Setiap hari, rasa cinta dan sayangnya makin bertambah kepada. Ia mengecup keningnya dengan mesra dan lama, “Semoga tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan kita, sayang,” Arya membatin.


Jam di kamarnya menunjukkan pukul 2 dinihari, Arya segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, mandi dengan air hangat. Tubuhnya sangat lelah dan lengket, setelah melalui berbagai drama di malam ini.


Selepas melaksanakan sholat Isya, Arya menuju ranjang ikut berbaring di samping Andina yang tiba-tiba menggeliatkan badannya. Tangan


Andina  merengkuh dada Arya dengan wajah


menelusup di bawah ketiak sang suami itu. Arya menyunggingkan senyum, mengecup


puncak kepala sang istri yang kebiasaan tidur dengan posisi nyaman seperti itu.Tak lama setelah berdoa, rasa ngantuk pun menyerangnya.


******


Selamat Beristirahat  Mas Arya!


Yuk pemirsah dorong lagi story ini dengan :


LIKE


COMENT


VOTE

__ADS_1


__ADS_2