SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
85. Ambil Hati Anaknya, Baru Dapat Bapaknya.


__ADS_3

Andina PoV


Aku mengirimkan pesan kepada Mas Arya kalau aku akan ruko siang. Dia senang, mengira aku minta ijin padanya, padahal maksudku ngasih tahu agar adek jangan ke ruko pagi. Aku ada urusan dulu ke konveksi. Ah, Mas Arya senang sekali becanda deh. Dia tulis nama "Andinaku", manis sekali. Rasanya jantung ini akan meledak karena bahagia membuncah. Tapi aku gak mau ge er, dia kan suka becanda, jadi belum tentu itu mewakili perasaannya.


Aku terkesiap kaget saat jempolku terpeleset mengirim pesan dengan emot cium. Astaga, kaget campur malu jadinya. Untung dia gak lihat bagaimana merahnya mukaku. Yang benarnya aku tuh mau kirim emot senyum. Saat ku ralat, eh dia malah protes gak boleh ralat. Dia suka emot yang pertama, malahan mau discreenshoot untuk moodboster, katanya. Hadeuh, Mas Arya ada-ada saja....


"Kok belum siap-siap ke ruko, teh." Tanya Ayah yang melihatku duduk santai dibangku teras.


"Nanti Yah, 1 jam lagi mau pergi ke konveksi. Pulangnya langsung ke ruko," kataku.


"Oh ya, hari ini akan ada tukang. Ayah mau pasang pintu pagar besi sebelum mobil datang, untuk keamanan, Teh," lanjut Ayah.


"Perlu uang berapa, Yah ? Teteh transfer sekarang, karena gak pegang uang cash banyak."


"Nggak usah, Teh. Ayah ada uang kok. Simpan saja buat tabungan Teteh." Aku hanya mengangguk. Ayah memang selalu begitu, tak mau merepotkan anak-anaknya.


****


"Pokoknya kamu pantau terus rumah Arya tapi jangan sampai menimbulkan curiga," Mauren memberikan perintah kepada orang suruhannya sambil menyodorkan amplop coklat.

__ADS_1


"Kalau Arya atau siapapun bawa anak ini, kamu ikutin jangan sampai kehilangan jejak." Mauren memberikan foto Athaya yang sedang digendong Arya yang dia ambil dari foto profil Arya.


Dua orang suruhan Mauren pun pergi setelah selesai mendapat perintah dari bossnya.


Flashback On


Selesai dengan modus mobil mogoknya, Mauren menghubungi William minta ketemuan. Awalnya William menolak karena cape bari pulang lembur tapi Mauren memaksa dengan alasan penting menyangkut Arya. Deal, mereka janjian di caffe S setengah jam lagi.


"Ada apa, Ren. Kenapa dengan Arya ?" tanya Willi to the point setelah duduk berhadapan dengan Mauren.


"Santai dong Will, mau pesan apa ?"


Mauren memberikan catatan pesanannya ke pelayan. "Ini buat kamu, koleksi terbaruku lho ini," Mauren menyerahkan paperbag berisi kemeja pria.


"Thanks ya. Jadi mau bicara apa nih ?" William nampak sudah gak sabar.


"Hmm aku mau tanya, Arya sekarang lagi dekat dengan siapa, Will ?" tanya Mauren.


"Maksudnya cewek ?" William bertanya balik dengan mengerutkan kening.

__ADS_1


"Iya. Pasti kamu tahu kan kamu teman dekatnya."


"Dia dekat dengan banyak cewek tapi secara profesional kerja. Dia kan humble pada siapapun. Kalau dekat sebagai pacarnya gak ada," jelas William sambil menyesap minumannya yang baru datang.


"Tapi yang lagi dekat tuh Athaya, anaknya. Dia lengket banget dengan cewek yang mengasuhnya," lanjut William jujur.


"Maksudnya punya babysitter ?" Mauren mengernyit, merasa belum ada korelasi.


"Bukan babysitter, lebih tepatnya aku juga gak tahu. Yang jelas keluarga Arya sangat menyukainya, hampir tiap hari Athaya diantar ketempatnya. Mungkin aja calon Mama sambung," ujar William menggedikkan bahunya.


Mauren hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Williamn.


"Kamu masih mau mengejar Arya, seperti dulu ?" William memicingkan matanya.


"Why not, toh kita sudah sama-sama single," jawab Mauren tersenyum tipis. Nggak ada salahnya kan mencoba mendekati, pikirnya.


"Kalau kamu menyukai Arya, kamu juga harus menerima anaknya. Itu artinya kamu harus bisa ambil hati anaknya dulu, baru bisa mendapatkan hati bapaknya. Karena kebahagiaan anaknya adalah yang utama buat Arya." William hanya memberikan saran, bukan berarti mendukungnya.


Flashback Off

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2