SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
163. Pasangan Hidup (2)


__ADS_3

Mama Rita mencubit kaki Ricky yang terbalut celana panjang hitam. Gemas dengan kelakuannya yang tidak tahu situasi dan kondisi. Ricky nyengir kuda melihat Mama yang melotot padanya. Ia pun kembali duduk sila.


"Punya asisten kagak ada wibawa banget," Willi mencondongkan tubuh, berbisik ke telinga Arya. Ia menahan tawanya sampai bahunya terguncang-guncang. Arya hanya mengangguk, masih ada senyum dikulum di sisa tawa lepasnya tadi.


Acara utama berakhir dengan penyematan cincin di jari manis Safa oleh Mama Rita sebagai pengikat bahwa sang pria telah serius memilihnya sebagai calon pasangan hidupnya. Senyum sumringah tergambar jelas di wajah Ricky melihat pemandangan dua wanita di depannya saling memeluk penuh kasih. Malam ini pula, telah ditentukan waktu pernikahan akan dilaksanakan dua bulan lagi.


Langit malam yang cerah bertabur bintang seolah mengiringi kebahagian yang melingkupi rumah itu. Para tamu yang tak banyak hanya sekitar 50 orang, menikmati makan malam yang tersaji di meja teras rumah.


Andina memilih duduk di luar menikmati semilir angin, menyegarkan tubuhnya yang gerah. Kehamilan yang makin besar membuat tubuhnya mudah berkeringat, ia pun tidak bisa lama-lama duduk di karpet karena kakinya akan keram.


Mauren dan Dino menghampiri Andina yang duduk sendirian. Dino menarik kursi untuknya dan Mauren agar menjadi duduk melingkar. "Din, aku mau ngasih kabar gembira sama kamu...." Dino menjeda kalimatnya, ia melirik dulu Mauren yang nampak tersenyum malu.


"Wah wah dari aromanya sih sepertinya kabar bahagia...." Andina menegakkan punggungnya. Matanya berbinar menatap silih berganti wajah Dino dan Mauren.


Dino pun tersenyum lebar, menganggukkan kepalanya. "Aku telah melamar Mauren...InsyaAllah akan segera menyusul Safa!" Dino memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manis calon istrinya itu. Mauren pun tersenyum dengan rona merah di pipinya.


"Alhamdulillah....ahhhh aku tuh seneng banget," Andina memekik pelan mendeskripsikan rasa terkejut sekaligus senang. Ia memeluk Mauren dengan ucapan selamat yang tulus dari hatinya.


"Semoga Allah mudahkan rencana baik kak Dino dan mbak Mauren..." keduanya pun mengaminkan. Andina tersenyum lebar, memegang kedua tangan Mauren sebagai wujud dukungannya karena telah menerima Dino sebagai calon imamnya. Ia yakin Dino adalah pria yang ideal untuk Mauren.


Di didalam rumah, suasana ramai dengan bincang-bincang orang-orang yang duduk menjadi berkelompok. Arya mengedarkan pandangannya mencari sosok istri cantiknya yang tak terlihat. Ia selesai makan bersama Papa dan Ayah sambil berbincang santai. Ibu Desi tidak datang karena kurang fit.


"Fa, Andina kemana ya?" Arya menghampiri Safa yang duduk bersama Ricky, juga ada Marisa dan Rendi.

__ADS_1


"Andina tadi keluar cari angin dulu, di dalam gerah katanya..." jawab Safa.


"Cieee, ada yang takut istrinya kabur..." Marisa memeletkan lidahnya yang dibalas Arya dengan jitakan di kepalanya.


Arya pergi keluar kembali mengedarkan pandangannya mencari sang istri.


Yang dicari nampak sedang duduk di kursi paling ujung. Hati Arya berdesir melihat sang istri yang tertawa-tawa bersama Dino dan Mauren. Ada sedikit cemburu di hatinya, bagaimanapun Dino dulu pernah menyukai Andina meskipun cintanya ditolak dan kini hanya terjalin pertemanan yang baik.


"Sayang, aku cari-cari di dalam gak ada...." Arya menarik kursi, duduk di sisi sang istri dan merengkuh bahunya posesif.


"Aku cari angin dulu disini Mas...enak dingin..." Andina menatap suaminya yang menunjukkan gelagat bucin show.


Tuh benar kan, batin Andina. Arya mengusap-ngusap puncak kepalanya yang berbalut hijab, berakhir dengan mengecup sisi kiri kepalanya. Sontak pipi Andina memerah, ia malu terhadap dua orang di depannya yang mesem dan memalingkan muka.


"Din, kita sekalian pamit aja, mau duluan pulang. Ada keperluan lagi soalnya..." Dino dan Mauren pamit kepada Arya dan Andina sebelum mereka ke dalam untuk pamitan kepada Safa. Andina pun berkata akan menunggu surat undangan dari keduanya.


"Memangnya mereka mau nikah, yank?"


"Iya mas Arya...Kak Dino tuh sudah melamar mbak Mauren. Jadi tak ada alasan suamiku ini cemburu..." Andina mencubit gemas pipi Arya sampai membuatnya meringis.


"Kata siapa aku cemburu..." Arya mengelak dituduh padahal iya. Hatinya bersorak girang, ternyata Dino sudah move on tak lagi mengharapkan Andina.


Ah, Aryanya saja yang ketakutan. Sebelum janur kuning melengkung pun, Dino sudah menyerah, menerima keputusan Andina yang memilih Arya duda beranak satu.

__ADS_1


"Jangan bohong...aku tahu mas bersikap posesif tadi apa...." kini Andina mencubit kedua pipi Arya dan menggoyang-goyangkan kanan kiri.


"Iya iya ampun nyonya Arya, aku ngaku deh..." Arya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Kembali dirinya merengkuh bahu sang istri. "Aku cemburu kamu duduk bersama pria tampan, tapi tetap aja aku yang paling tampan kan sayang...yang selalu bikin kamu melayang..." bisik Arya di telinga Andina.


"Tuh kan, mesumnya kambuh lagi," Andina membulatkan matanya. "Kruwukkk.." terdengar suara orkes dari perut Andina yang membuat Arya mengkerutkan kening.


"Jangan bilang kalau Mama Athaya belum makan!" Arya memicingkan matanya, menatap Andina yamg tertawa cengengesan sambil menganggukkan kepala.


"Aku lupa.mas, keasyikan ngobrol tadi..." Andina mengangkat dua jari tangannya, menggaungkan salam perdamaian.


Arya menggelengkan kepalanya. "Kamu tuh ya, pikirkan baby kita juga dong. Ia pasti kelaparan Mamanya belum memberinya nutrisi, kamu juga, jangan menunda makan nanti kalau sakit gimana. Biar aku yang ambilkan..." Arya pergi setelah mencubit sekilas hidung sang istri, menuju meja hidangan setelah ceramah satu menitnya.


"Aku makan sendiri mas..." Andina ingin mengambil piring yang dipegang Arya.


"Kamu duduk manis aja. Aku mau suapi adek bayi kok, bukan suapin kamu..." ujar Arya tersenyum menaikkan kedua alisnya.


Andina hanya pasrah dengan kemauan suaminya itu. Memangnya kalau mau ngasih makan debay lewat mana, tetap aja lewat mulutnya. Untung tamu luar keluarga sudah pada pulang, Andina tak terlalu malu menerima suapan dari Arya.


"Mamaaa....kaka cali-cali nda ada..." Athaya menghampiri kedua orangtuanya dengan wajah cemberut dan bibir manyun. Tangan mungilnya langsung memeluk pinggang Mama Andin yang hanya sampai ke tengah perutnya.


Andina hanya tersenyum. "Gak bapaknya, gak anaknya, sama-sama posesif," batin Andina. Ia mengecup kepala Athaya yang satu bulan lagi berusia 3 tahun. "Kakak tahu darimana Mama disini hmm?"


"Dali onti cafa..." jawabnya sambil mencium perut sang Mama dengan mulut mungilnya yang menggemaskan.

__ADS_1


Akhirnya, aksi menyuapi dilakukan Arya untuk tiga orang kesayangannya. Tiada hal yang paling membahgiakan baginya, melihat senyum dan tawa anak istrinya. Andina menyuruh Athaya untuk mendongeng pengalamannya saat main bersama kucing. Ia mulai mendidik anak ganteng itu untuk melatih kefasihan bicara dan latihan dasar membentuk karakter.


__ADS_2