SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
145. Arya Cs


__ADS_3

"Assalamualaikum, calon istri...."


"Aku menyuruh sopir kantor mengantar oleh-oleh, sudah sampai kah ?"


"Sama-sama, Fa...maaf aku nggak bisa ke ruko, si boss nggak masuk jadi kerjaanku double...hmm padahal kangen lho..."


"Bukan lebay ih...beneran !"


"Tahu nggak bedanya bintang dengan kamu...."


"Kalau bintang adanya di langit, kalau kamu adanya di hatiku...."


"Oke deh, Aa juga lanjut kerja dulu ...."


"Waalaikum salam my Safa...."


Ricky menyimpan hapenya di atas meja. Senyumnya mengembang sempurna seusai menelepon sang pujaan hati.


"Aa...kerjanya yang rajin ya...biar cepat melamar akyu...." suara kemayu terdengar. Ricky menyipitkan pandangannya ke arah pintu yang sedikit terbuka.


"Eh kampret...sejak kapan lo berdiri disana...?" Ricky bangkit dari duduknya, berkacak pinggang.


William masuk ke ruangan Ricky. Ia tak mampu menahan tawanya "Bhuahaha...." Ia tertawa lepas sambil memegang perutnya.


"Adeuhh...coba kalau ada Rendi disini....ha ha ha...." William kembali melanjutlkan tawanya.


"Nggak ada yang lucu !" Ricky melengos kesal.


William mengangkat kedua alisnya. Bibirnya terkatup rapat agar tawanya tak meledak lagi.


"Tahu nggak bedanya bintang dengan kamu ! Ih geli gue..." ledek William menggedikkan bahunya.

__ADS_1


Ricky menoyor kepala William sambil bersungut-sungut. "Dasar kampret!"


"Ha ha....gue seneng banget hari ini, bisa ketawa lepas. Mahal lho ini..."


"Jadi mau apa lo kesini...ada loe bikin bad mood aja." Ricky mendengus kesal.


"Ck, yang lagi bucin jadi sensi amat !" ledek William yang dibalas tatapan galak Ricky.


"Oke gue serius nih." William menepuk sofa agar Ricky yang masih berdiri, ikut duduk.


"Bagaimana ceritanya sampai ada yang bertindak jahat sama Arya ?" tanya William dengan wajah serius.


"Kejadiannya sangat cepat dan tak terduga bro, aku curiga ini bukan suatu kebetulan tapi direncanakan..." Ricky mengutarakan dugaannya.


"Tapi Arya memilih tidak melanjutkan penyidikan, dia menganggap itu musibah. Kita ikut waspada aja Wil, kalau dua kali lagi ada upaya serupa berarti ini sabotase." jelas Ricky.


William manggut-manggut mendengar penjelasan Ricky yang menurutnya masuk akal.


"Gue ikut bro. Ya udah gue selesaikan dulu pekerjaan. Nanti nebeng mobil Aa Iky ya...." William langsung lari terbirit-birit saat Ricky melayangkan bantal sofa ke arahnya hingga hanya mengenai daun pintu.


*****


"Ar, aku cek dulu lukanya...." Rendi mulai membuka perban perlahan-lahan. Setelah tadi pagi mendapat kabar dari Marisa, ia baru bisa datang sekarang menjenguk Arya, karena dari pagi pasien anak di kliniknya cukup banyak.


Andina, Marisa dan Athaya ikut memperhatikan tindakan yang dilakukan dokter Rendi.


"Berapa lama keringnya Ren ?" tanya Arya yang kini bertelanjang dada, memperhatikan lukanya.


"Kalau untuk kering waktunya kisaran seminggu. Kalau sampai menutup sempurna butuh waktu 2 mingguan....nanti kalau kering sempurna, sama aku saja melepas jahitannya nggak usah ke rumah sakit." jelas Rendi sambil mengompres luka yang masih memerah itu.


"Teh Andin, setiap mengganti perban, lukanya bersihkan dengan air biasa ya. Tidak boleh membersihkan luka dengan cairan alkohol. Juga perban harus selalu dalam keadaan kering." Rendi kembali menjelaskan sambil mengoleskan salep antibiotik.

__ADS_1


"Baik Om doktel...." sahut Andina menirukan suara Athaya.


Athaya yang duduk di pangkuan Andina langsung mendongak, "Ihhh Mama...napa bicalanya sepelti kaka..." serunya sambil tertawa. Andina tersenyum lebar sambil menggelitiki perut Athaya, gemas.


"Pas banget nih, pada ngumpul..." suara nyaring Ricky membuat semuanya menoleh ke asal suara. Ricky dan Willi menghampiri ruang keluarga tempat semua orang berkumpul.


"Bagaimana keadaanmu, Ar ?" tanya Willi melakukan tos tinju dengan Arya.


"Sudah mendingan bro...," sahut Arya dengan senyum.


"Aku tinggal dulu ke dapur ya...mumpung ngumpul, nanti kita makan siang bersama..." pamit Andina ke semuanya. Athaya tak mau lepas, ikut mengekori.


"Aku ikut bantuin teh..." Marisa bergegas menyusul di belakangnya.


Dan empat sekawan pun larut dalam obrolan santai mereka.


"Eh kalian tahu nggak, ada teman kita yang lagi bucin...." William tersenyum lebar melirik Ricky yang wajahnya mendadak asem.


"Eloe mah, gue jomblo diledekin....gue punya gebetan diledekin juga....hmm nasib orang ganteng..." Ricky mengelus dadanya dengan ekspresi teraniaya.


Arya cs kompak tertawa menyaksikan kekonyolan si Ricky. Mereka lanjut membicarakan berbagai hal, membahas perusahaan dan obrolan ringan lainnya.


Setengah jam kemudian suara adzan Duhur terdengar dari masjid komplek.


"Sebaiknya kita sholat dulu, nanti lanjut makan." Arya mengajak kedua temannya berjamaah di musholla rumahnya karena kondisi kesehatannya belum memungkinkan untuk ke masjid. Ricky dan Rendi mengangguk setuju.


"Will, kita tinggal dulu ya...." Arya sebelum beranjak, menepuk dulu bahu William yang dibalas acungan jempol William.


Ricky maju menjadi imam sholat. Suara sang imam saat takbiratul ihram tanda dimulainya kekhusyuan menghadap sang khalik, sejenak lupakan urusan dunia yang melenakan. Mereka bertiga selalu berusaha melaksanakan sholat awal waktu. Sungguh indah persahabatan yang saling mengingatkan dalam ketakwaan dan saling toleransi dalam perbedaan keyakinan.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2