SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
174. Shape of You


__ADS_3

"Silakan duduk Pak Ceo." Andina mempersilahkan Emran yang mengikutinya di belakang untuk duduk begitu masuk ke ruang tamu.


"Panggilan macam apa itu." Emran mendecak dengan wajah gusar sebab tidak suka dengan cara Andina memanggilnya.


Andina mengulum senyum sehingga menampilkan kedua lesung pipi. Senyum yang justru membuat sang tamu menelan saliva sebab senyumnya itu menjadi daya pikat.


"Maaf."


"Tapi kan beneran pak ce...."


"Shhh, saya ini temannya Arya." Emran memotong ucapan Andina. "Sudah ah jangan formal gitu," lanjutnya menggeleng tidak suka.


Andina terkekeh pelan. "Oke, bang Emran. Mau minum apa? Sekalian saya panggilin mas Arya lagi fitnes."


"Saya mau teh tawar."


Playlist tengah memutar lagu Shape of you milik Ed Sheeran. Terdengar menghentak memacu semangat begitu Andina menggeser pintu almunium ruang fitnes. Peralatan gym cukup lengkap seperti treadmill, statis bicycle, barbell, dan peck deck machine, memenuhi ruang berukuran 6x4 meter dengan jendela lebar menghadap taman samping. Tempat yang merupakan rahasia penunjang penampilan Arya yang selalu muda, bugar, ramping, dan berotot. Really hot daddy.


Arya terlihat tengah duduk di peck deck machine yang merupakan alat untuk membentuk otot dada dan punggung. Tubuh atasnya yang polos tanpa baju tampak dipenuhi buliran keringat.


"Pi...ada tamu. Udah dulu fitnesnya." Andina berdiri di depan Arya dengan memegang handuk.


"Siapa, sayang?" ujar Arya sambil menarik kedua tangan keluar dan ke dalam dengan mengatur menghembuskan nafas perlahan sebab beban berat yang membutuhkan banyak tenaga.


"Bang Emran."


Nama tamu yang disebutkan Andina membuat Arya menghentikan aktifitasnya dan meraih handuk dari tangan istrinya itu.


Andina kembali ke depan menemui sang tamu yang ternyata berpindah duduk di kursi teras ditemani Athaya dan Lala.


"Tunggu sebentar ya, bang. Mas Arya mandi dulu."


"Just relax, mom. Udah ditemani ini..." Emran menunjuk kedua bocah yang duduk sopan dan selalu tersenyum serta menjawab pertanyaannya dengan baik. Sungguh attitude yang dihasilkan dari didikan berkualitas.


"Ma, adek main di rumah mofa." Lapor Athaya yang telah usai bermain mobil-mobilan.


Andina mengangguk. Ia pun kembali ke kamar sebab tujuan ke depan hanya untuk menyampaikan pesan. Dan Arya memintanya menunggu di kamar agar menemui sang tamu bersama-sama. Ia hanya mengangguk tanpa menyela. Sudah bisa terbaca sikap posesif suaminya itu yang mengisyaratkan rasa cemburu.


"Ayo!" Arya yang sudah segar dan wangi maskulin yang semerbak, keluar kamar dengan merangkum bahu Andina.

__ADS_1


Di teras depan. Emran tertawa terbahak-bahak dengan kelucuan yang dibuat Athaya dan Lala. Dua bocah itu mengajaknya main tebak-tebakan dan ia belum satu pun menjawab dengan benar.


"Om, sapi apa yang bisa menempel di dinding?"


Pertanyaan yang diajukan Lala membuatnya berpikir keras. Ia menggeleng. "Mana ada sapi yang nempel di dinding."


"Ada dong."


"Apa?"


"Sapi dermen, hihihi...." Lala terkikik dan lalu adu tos dengan sang kakak sebab belum ada tebakan yang berhasil dijawab.


Emran kembali tergelak. Spiderman jadi sapi dermen.


Sungguh hiburan gratis yang menyenangkan hati, menghilangkan stres. Ia pun geleng-geleng kepala sambil belum berhenti tertawa. Otak pintarnya kalah sama keisengan dua bocah menggemaskan itu.


Beginikah rasanya punya anak?!


Ia menatap dua bocah di depannya yang tampak rukun dan kompak. Keputusannya masih melajang sampai detik ini bukan karena tidak ada wanita yang mendekat.


"Wow, mimpi apa semalam sampe kedatangan boss artis ke sini."


Kedua pria tampan itu bersalaman dan saling berpelukan juga bertanya kabar.


"Sama siapa, bro?"


"Alone."


"Ckck, ceo jalan sendiri. Gak takut ada yang nyulik apa."


Membuat Emran mendengus dan menoyor bahu Arya. Ia pun mengekori Arya yang masuk ke dalam sambil merangkum bahu Andina. Kembali duduk di ruang tamu.


"Ah lo, bisa gak jangan mesra-mesraan di depan jomlo. Kasihani apa." Emran menepuk keningnya seolah terdholimi sebab Arya menunjukkan kemesraan di depannya.


"Makanya nikah." Celutuk Arya tanpa sungkan sebab mengenal Emran dan saudara kembarnya dengan baik. Apalagi orangtua Emran juga teman baik Papa Roby dan Mama Rita.


"Tiap hari dikelilingi cewek cantik masa gak ada yang cocok melulu."


Emran tertawa sumbang. Sindiran Arya memang jawaban yang selalu ia beri jika ada yang bertanya kapan nikah.

__ADS_1


"Sorry. Kalau kedatangan gue ganggu aktifitas pagi kalian." Emran mulai serius berbicara.


"Gue sengaja datang nganterin undangan." Ia mengeluarkan kartu warna gold seukuran kartu atm sebagai bentuk undangan vvip.


Arya menerima kartu yang disodorkan Emran dan membacanya dengan cermat. "Saturday night?!"


Emran mengangguk. "Yes. Malam ini. Kalian berdua wajib datang! Gue sengaja sampe nganterin sendiri undangannya. Coz you are special guest."


****


Sabtu jam 9 pagi. Waktunya yang senggang dimanfaatkan Arya mengantar Athaya dan Lala latihan taekwondo yang menjadi jadwal rutin kedua anaknya setiap sabtu. Ia pun turut mengikuti latihan taekwondo yang pernah digelutinya dulu saat SMP. Namun kini tujuannya ikut serta hanya sebagai olahraga disamping ada manfaat perlindungan diri.


Keputusannya memasukkan Athaya dan Lala mengikuti seni bela diri taekwondo lebih dini bukan tanpa alasan. Ada banyak manfaat penting yang dapat berguna untuk kedua anaknya itu. Berlatih taekwondo bisa meningkatkan imunitas tubuh, berlatih fokus dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan motorik bagi anak, mengajarkan kedisiplinan dan rasa hormat, meningkatkan rasa percaya diri dan sosial, juga memelihara kesehatan jantung.


Athaya dan Lala turun dari mobil begitu tiba di parkiran gedung olahraga Peace Taekwondo. Langkahnya riang sambil menggendong tas punggung berisikan dobok (seragam latihan taekwondo) dan air minum. "Pagi, sabeum!" Athaya dan Lala kompak menyapa pelatih yang berpapasan di koridor dan dibalas anggukan dan senyum ramah pelatih yang masih berstatus mahasiswa.


"Ckckck, Boss Arya." Lin Dan sang pemilik klub taekwondo sekaligus teman Arya tampak geleng-geleng kepala. "Orang gak akan nyangka kamu punya anak 3. Kamu kayak kakaknya bukan bapaknya," lanjutnya menelisik penampilan Arya yang sudah berganti kostum bersama Athaya dan Lala.


Arya terkekeh mendapat sanjungan teman yang sudah bergelar Master itu. "Bisa aja kau...."


"Kamu gak nyadar apa...banyak cewek-cewek naksir noh." Lin Dan menunjuk dengan dagunya ke sekumpulan taekwodoin yang cekikikan dan berkali-kali melihat ke arahnya.


"Liat kamu kali." Arya tampak cuek dan malah melakukan peregangan otot di aula luas yang mulai dipenuhi para taekwondoin.


Lin Dan tergelak. "Sama gue mah pada takut bukan suka." Ia pun menepuk bahu Arya sambil berbisik, "Yang rajin latihannya, bro. Kehadiran kamu jadi iklan gratis. Jadi banyak peserta ciwi baru yang daftar."


Bisikan yang membuat Arya tergelak dan geleng-geleng kepala dengan kekonyolan teman bermata sipit itu.


Lala dengan sabuk kuning strip hijau, Athaya dengan sabuk biru, Arya dengan sabuk merah, berpencar sesuai kelasnya dengan sabeum (pelatih) yang berbeda. Arya bukannya tidak tahu kalau kehadirannya memang mencuri perhatian rekan-rekan cewek sekelasnya yang rata-rata berusia SMA dan mahasiswi. Namun ia bersikap biasa saja, tersenyum ramah. Bukan untuk tebar pesona sebab ia memang seorang yang supel dan humble.


Jam 12 siang ketiganya sudah pulang. Berganti Andina yang siap-siap pergi ke sanggar satu jam lagi sebab jadwalnya senam bersama soulmatenya, Safa.


Arya menjatuhkan tubuhnya di ranjang usai sholat Duhur. Ia memperhatikan Andina yang tengah pakaian senam ke dalam tas dangan kepala berbantalkan kedua tangan.


"Males ke party nya Emran." Arya menghela nafas panjang sebab sudah terbayang banyak artis dan model dengan suasana pesta yang glamour. "Mending kita party berdua," lanjutnya dengan kedipan mata sebagai kode mesumnya.


Andina memutar bola matanya. Tahu pasti apa yang ada di otak suaminya itu. "Gak enak kalau gak datang," ujarnya sambil duduk mendekat. "Dia bela-belain nganter undangan sendiri lho, Pi."


"Aku pergi dulu ya. Nitip Al lagi bobo." Andina mengecup pipi Arya sekilas. Namun tindakannya itu membuat Arya menarik tubuhnya sehingga berada di atas suaminya itu.

__ADS_1


"Kiss dulu...." Tanpa memberi kesempatan menjawab, Arya langsung me ***** bibir ranum kesukaannya itu. Tidak sekali, namun berkali-kali me magut dan menye sapnya. Baru berhenti saat terdengar ketukan di pintu dengan sura Lala yang berteriak memanggil. "Mama...ada mofa."


__ADS_2