SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
68. Tinggalkan Dia, Menikahlah Denganku !


__ADS_3

Suara bel pintu sebuah apartemen terdengar berkali-kali, Vita yang sedang fokus mengetik di laptopnya menoleh ke arah pintu. Keningnya mengkerut, ia melihat jam dinding yang jarum pendeknya menunjukkan angka 8. "Siapa malam-malam begini yang datang," batinnya heran. Ia bangkit dari sofa, lalu mengintip dari lubang yang ada dipintu.


Vita segera membukakan pintu lalu bersidekap tangan di dada memandang tamunya.


"Hai Sweetie, boleh aku masuk ?" Niko tersenyum lebar menatap ke arah Vita.


"Cckk kamu kenapa kesini lagi sih...nggak cape apa bolak balik Jakarta-Medan," Vita mendelik kesal saat Niko ngeloyor masuk dan duduk di sofa dengan tumpang kaki.


"Demi kamu aku lakukan ini...demi membuat hatimu luluh," ujar Niko tersenyum smirk. Vita hanya mendengus, ia berjalan ke pantry membuatkan 2 gelas kopi dan membawanya ke sofa.


Vita meletakkan gelas kopi dimeja. "Kamu nggak boleh seperti ini terus Ko...gimana nanti dengan pekerjaanmu," Vita mencoba mengingatkan.


"Whatever...aku kan boss nya," Niko mengedikkan bahunya. Ia mengambil gelas kopi, menyeruputnya pelan-pelan.

__ADS_1


Niko menggeser duduknya mendekati Vita. "Vit...ada yang harus kamu ketahui tentang Edward..." ujarnya, kini raut wajahnya tampak serius.


Vita yang sedang menyeruput kopinya langsung terhenti, terkejut. Dia menoleh ke arah Niko. "Soal apa ?"


"Hufft...kamu harus tahu...si Edward itu laki-laki brengsek, keluarganya juga kacau. Istrinya sama brengseknya juga, dia punya ******." Niko menjeda kalimatnya, menarik nafas sejenak. "Anaknya pecandu narkoba, dan si Edward sendiri punya sugar baby di Bandung." Niko kembali menjeda kalimatnya, melihat wajah Vita yang tampak shock.


"Kamu pasti mengada-ngada kan ?" Vita menyipitkan matanya, masih tidak percaya dengan penjelasan Niko.


Aku peduli sama kamu Vit, tinggalkan dia, jangan main-main denganya...menikahlah denganku Sweetie..." Niko menggenggam tangan Vita, mengecupnya penuh perasaan.


"Aku akan menerimamu apa adanya..." lanjut Niko tersenyum sambil membelai lembut pipi mulus Vita.


Vita hanya bisa terdiam, bayangan kedekatannya yang intim dengan Edward langsung berkelebat dikepalanya. Seolah-olah thriller dari sebuah film, semuanya tampak jelas muncul dikepalanya. Tubuhnya tiba-tiba bergidik, merasa jijik dengan perbuatannya sendiri. Lalu, perutnya kini ikut bergejolak, terasa diaduk-aduk. Bibirnya gemetar.

__ADS_1


"Are you oke Sweetie ?" Niko memperhatikan raut wajah Vita yang pucat, dirabanya kening Vita.


"A aku baik-baik saja," ujar Vita sambil tergagap. "Ko...aku ingin sendiri dulu, bisakah kamu pergi ?" lanjut Vita, wajahnya terlihat sendu juga pucat.


"Baiklah Sweetie...aku pergi dulu. Aku kasih kesempatan kamu untuk menenangkan diri, kalau ada apa-apa hubungi aku ya ," Niko mengecup kening Vita lalu melangkah menuju pintu.


Vita buru-buru mengunci pintu dan berlari menuju washtafel. Perutnya tiba-tiba bergejolak setelah mendengar penuturan Niko. Kini rasa mual semakin naik ke kerongkongan, ia memuntahkan isi perutnya sampai terasa sakit karena tidak ada lagi yang dikeluarkan.


Kembali dirinya merasa shock, ia memegang perut ratanya. Mengingat kembali percintaan terakhir yang dilakukannya dengan Edward sebulan yang lalu. "Aku lupa minum pil, jangan-jangan...," Vita menggeleng-gelengkan kepala.


Vita memerosotkan badannya ke lantai, lututnya terasa tak bertulang, badannya terasa lemah. Air mata mengalir tak terbendung, ia menangis tersedu sambik meremas kuat rambutnya. "Arghhh........"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2