
"Secret admirer?!" ulang Andina tampak ragu.
Emran mengangguk. Ia yang kini berpindah duduk menjadi berhadapan, tampak menatap Andina dengan wajah penuh semangat. "Saya ingin project film ini segera dimulai dalam waktu dekat. Tapi skenario belum rampung. Ending story masih abu-abu."
"Saya perlu pendapatmu. Sebaiknya ending nya bagaimana?" Emran menatap Andina dengan rona ceria. Bisa bicara berdua saja dan menatapnya lekat, membuat hatinya penuh rasa bahagia.
Andina menggeleng diiringi kekehan. "Bang Emran salah orang. Saya mana ngerti urusan perfilman."
"Bukankah sebaik-baiknya urusan, serahkan sama ahlinya."
Emran pun terkekeh dengan jawaban diplomatis Andina.
"Begini aja. Anggap saya sedang curhat." Emran mengambil jalan tengah yang entah bakal jadi blunder atau tidak untuknya.
Lagu Puja masih menggema menghangatkan suasana pesta yang dipenuhi suka cita dan canda tawa para tamu yqng berkelompok sesuai dengan seleranya.
"Anggap sayalah secret admirer itu." Dengan sedikit tegang, Emran memulai sesi curhatnya. "Sudah beberapa tahun saya menyukai seorang wanita. Hanya bisa mengagumi, tak mungkin dimiliki."
"Kenapa harus jadi pengagum rahasia?" Andina mulai terpancing untuk mengomentari. "Itu hanya akan menyiksa diri," lanjutnya dengan menggelengkan kepala sebab merasa tidak setuju.
"Karena dia sudah bersuami."
Andina tercenung menatap gelas yang terisa minuman setengahnya, mendengar jawaban Emran yang berucap dengan sorot penyesalan.
"Jadi saya harus bagaimana?"
Pertanyaan Emran membuat Andina mengangkat wajah dan menatap tajam pria tampan blasteran India di hadapannya itu. "Sudah berapa lama Bang Emran menyukainya?"
"Sekitar 3 tahun."
"Saya sudah terjebak dengan pesonanya. Dan saya pun tau diri tak mungkin bisa memilikinya. Tapi dengan memandang fotonya saja make me happy. Entah kapan bisa mengakhirinya," pungkasnya dengan menghela nafas panjang.
Andina sekilas melirik jam yang melingkar di tangannya begitu pandangan Emran sesaat mengarah ke depan panggung sebab penyanyi berikutnya tampil membawakan lagu pop.
"Kalau menurut saya, berhenti berharap dan ikhlaskan. Karena itu cinta terlarang. Hanya akan menyiksa diri, sementara orang yang kau harapkan juga tak mempedulikanmu."
"Faktanya tidak semudah itu."
"Akan mudah jika ada keinginan kuat." Andina berkata dengan tegas. "Niat yang kuat pasti bisa. Daripada terus tenggelam dalam kebimbangan dan angan yang menipu."
"Jangan sampai kamu mengorbankan kebahagiaanmu untuk sesuatu yang sia-sia dan salah."
__ADS_1
"Maaf, kok saya jadi galak. Terbawa suasana." Andina terkekeh dengan kedua tangan mengatup di dada begitu sadar intonasi bicaranya menjadi naik.
"It's.oke. Justru jadi titik terang inspirasi ending cerita." Emran mengulas senyum. Perih memang jawaban tegas yang disampaikan wanita cantik di hadapannya itu. Tapi memang benar.
"Keputusannya kembali pada dirimu sendiri. Tak ada yang bisa memaksa hati dan perasaan. Tapi ingat, kamu berhak bahagia. Mendapatkan cinta terbaik dalam hidupmu."
"By the way, mungkinkah ini true story bang Emran?!"
Kalimat terakhir Andina dengan tatapan menyelidik membuat Emran yang baru meneguk minumannya malah tersedak.
Memang iya. Tapi kamu tak perlu tau.
Emran mengusap bibirnya dengan tisu sambil menetralkan wajahnya sebab terkaget dengan praduga Andina yang benar adanya.
"Bukan lah," ujarnya mengeles. "Ini untuk project film. Thanks udah jadi koresponden."
Arya dan Ervan datang bergabung disaat Emran usai mengucapkan terima kasih kepada Andina, menutup pembahasan soal secret admirer. Tak lama Andina pun mengajak Arya pulang sebab tidak tenang meninggkan si kecil Al lama-lama. Khawatir menangis mencarinya.
****
Selama perjalanan pulang, tak banyak percakapan yang tercipta sebab ponsel Andina berdering panggilan video dari Lala dan Athaya yang kini tengah bermain di rumah Ayah Iki.
"Mama kapan pulang?" wajah Lala yang merajuk tampak memenuhu layar. Kalau Athaya hanya terdengar suaranya saja. Terdengar tengah mengajak bermain Al dan si kembar.
Andina menyimpan ponselnya ke dalam tas usai 10 menit lamanya meladeni ketiga anaknya berbicara lewat panggilan video. Kini ingatannya kembali kepada percakapannya dengan Emran. Entah kenapa ia merasa apa yang didiskusikan Emran adalah curhatan pribadi.
Dan ia berharap feelingnya salah, jika Emran menyukainya. Sebab ia beberapa kali menangkap sorot mata Emran kala memandangnya begitu dalam seperti tatapan mesranya Arya terhadapnya. Pertama saat Emran menyapanya depan rumah dengan memanggilnya 'mommy kece'. Kedua saat tadi ia menikmati lagu Puja, ketahuan Emran tengah bertopang dagu menatapnya lama sambil tersenyum.
Andina menarik nafas panjang. Ia sudah memberi jawaban tegas terhadap boss PH itu. Mau benar curhatan Emran atau memang sharing untuk project film, ia sudah memberi jawaban tegas jika perbuatan itu salah, sia-sia dan tidak bisa ditolelir.
"Kok melamun..." Andina terperanjat saat Arya mencolek dagunya.
"Kenapa sayang?" Arya meliriknya sekilas lalu kembali fokus menatap jalan di depannya.
Andina memiringkan badan sambil menyunggingkan senyum manis untuk suaminya itu.
Cup.
"I love you, sayangku," ujar Andina usai melayangkan satu kecupan di pipi Arya.
"Ho ho ho...tumben istriku romantis." Arya memekik senang sebab perlakuan Andina barusan.
__ADS_1
"Hmm, dampak jarang jalan berdua kayaknya." Sahut Andina kalem sambil menyandarkan kepala di bahu Arya begitu mobil berbelok memasuki kawasan perumahan.
"Iya ya. Aku lupa kapan terakhir jalan berdua. Kalau gak bertiga, berempat, kadang berlima." Arya terkekeh mengingat momen jalan-jalan didominasi bersama anak-anaknya.
"Gak papa kok, meski kita jarang pacaran kayak dulu lagi." Tangan Andina terulur menelusuri garis wajah Arya yang kini menyetir dengan pelan. "Aku sangat bahagia punya suami sepertimu...dan 3 anak yang maniiiis." Andina mendongak dengan sorot mata berkilat cinta dan senyum merekah.
Arya menepikan mobilnya saat hanya berjarak 300 meter lagi menuju rumah. Sebab hembusan hangat nafas Andina yang menerpa rahang, membuatnya tergoda untuk membalas. Kedua pasang mata kini saling beradu tatap dalam jarak dekat sebab Andina masih mendongak dengan kepala menyender di bahu Arya.
Andina memejamkan mata saat kedua bibir saling beradu. Suasana malam yang sepi mengantar aliran hawa panas dan gelenyar nikmat yang kini menjalar ke seluruh tubuh.
Arya mengusap bibir ranum kesenangannya usai penyatuan yang lembut, dalam dan menghanyutkan. Ia memeluk Andina penuh perasaan. Membiarkan suasana syahdu menghangatkan kalbu keduanya.
Arya mengurai pelukannya dengan telapak tangan merangkum wajah ayu istrinya itu. "Aku yang sangat bahagia dan beruntung memiliki istri sepertimu, memiliki ibunya anak-anak yang luar biasa dalam mendidik."
"Love you so much," Jemari Arya merayap menelusuri garis pipi dan berakhir di bibir yang sensual bekas gigitannya.
"Jangan pernah berniat meninggalkan aku, meninggalkan anak-anak...demi lelaki lain." Arya menatap Andina dengan sorot sendu dan suara serak sebab terbawa suasana syahdu. "Aku bisa gila dan hancur...."
Andina menggeleng dalam rangkuman tangan Arya dengan mata berkaca karena haru sebab suaminya itu memposisikan dirinya sebagai wanita istimewa. Ratu di hati dan istana keluarga, begitu Arya selalu bilang.
"Tidak akan, sayangku." Andina menatapnya penuh kehangatan. "Jangan ragukan kesetiaanku. Hanya maut yang bisa memi...."
Arya kembali menyatukan bibirnya. Tak membiarkan Andina menyelesaikan ucapannya. Lebih memilih menikmati sajian nikmat dan hangat yang kini menuntut lebih.
Dering ponsel dari tas Andina terus meraung. Sempat diabaikan namun ternyata tak kunjung berhenti. Membuat Arya menyudahi aksi romantic kiss on the car.
"Mama....katanya bentar lagi..."
"Ini udah kelamaan..."
"Papi...cepetan jemput ih...."
Suara nyaring Lala yang merajuk sebab sudah tak sabar sungguh memekakan telinga. Bahkan Andina belum ada kesempatan menjawab karena wajah di sebrang sana tengah memberengut dengan ucapan yang belum berhenti.
"Mama lagi dimana sih...."
"Kok mobilnya berhenti..."
"Kenapa jilbab Mama penyok-penyok...."
"Itu bibir Mama digigit nyamuk ya..."
__ADS_1
Andina baru sadar jika penampilannya acak-acakan setelah diintrogasi Lala di sebrang sana. Belum sempat mengaca sebab terburu-buru menggeser tombol panggilan vidcall. Ia mendelik sebal melihat Arya yang terus ketawa mendengarkan suara Lala yang ceriwis.