
Andina berjalan kaki menuju rumah Mama Rita yang hanya terhalang 2 rumah. Dirinya tersenyum ramah dan menyapa saat berpapasan dengan tetangganya yang kebetulan ada di luar.
"Assalamualaikum..." Andina langsung masuk ke dalam karena pintu rumah terbuka. "Kaka....Mama datang..." Andina memanggil Athaya sampai dua kali tapi tak nampak. Biasanya begitu mendengar suaranya, Athaya langsung berlari heboh.
"Din, Mama disini...." teriakan Mama Rita terdengar. Sepertinya dari arah halaman belakang. Benar saja, Mama sedang memotong tanaman yang sudah layu.
"Ma...Athaya kemana..." Andina mendekati Mama, ikut berjongkok membantu merapihkan daun-daun.
Mama langsung menghentikan aktivitasnya. Mengajak Andina duduk di bangku taman.
"Din, tadi pagi ada tamu, Oma dan Opa nya Athaya dari Surabaya. Mereka sedang ada acara di Bandung sejak kemarin dan menginap di hotel. Tadi mereka kesini ingin silaturahmi dan minta ijin mengajak Athaya jalan-jalan, sekalin nyari bubur ayam katanya..." jelas Mama.
"Mama mengijinkannya ? tanya Andina menatap serius.
"Iya Andina, Mama fikir kasihan sudah lama mereka tidak bertemu cucu nya. Arya memang bekas menantu, tapi tidak ada istilah bekas cucu. Kamu harap maklum ya nak..." Mama memegang tangan Andina.
"Iya Ma...nggak apa, aku akan tunggu disini. Sekalian mau kenal juga dengan beliau..."
Andina PoV
Entah kenapa perasaanku jadi gelisah mendengar penuturan Mama kalau Athaya dibawa oleh Oma dan Opa Surabaya. Aku mencoba bersikap biasa didepan Mama. Memang benar kata Mama, mereka punya hak juga atas Athaya, aku harus maklum.
Aku kirim chat ke Safa, memutuskan untuk tidak pergi ke ruko. Ini sudah jam 11, sudah 2 jam aku menunggu di rumah Mama.
"Ma, tadi Athaya perginya jam berapa ?" aku kini berada di ruang keluarga menemani Mama menonton tv.
"Tadi sekitar jam 7 an. Bentar Mama telepon pak Agung ya." Mama mengambil hape nya di meja. Aku perhatikan wajah Mama terlihat tegang. Apa Mama sama perasaannya seperti aku, cemas dan gelisah ?
__ADS_1
Mama berkali-kali menghubungi, samar-samar ku dengar suaranya sama, suara opeator.
"Keduanya tidak bisa dihubungi...aduh Mama jadi takut Din..." Mama menatapku dengan panik.
"Mungkin sama-sama lowbat Ma...kita tunggu aja..." aku memilih positive thinking. Meski tak dipungkiri hatiku makin cemas.
"Hmm, Ma...tadi Athaya mau aja pas diajak pergi ?" Aku penasaran soalnya kata mas Arya, Athaya baru sekali diajak ke Surabaya itupun saat umurnya belum 1 tahun.
"Awalnya memang nggak mau, malah merengek mau pulang ke Mama katanya mau dibawain kucing. Opa Agung membujuknya untuk ikut nanti dibeliin kucing, jadi Athaya mau..." Mama menggigit bibirnya, seperti orang gelisah.
"Tadi di rumah ada siapa saja Ma..." aku seperti orang yang mengintrogasi.
"Hanya ada Mama dan Marisa. Papa sudah berangkat ke perkebunan jadi tidak sempat bertemu. Din, Mama jadi khawatir nih...." Mama berjalan mondar-mandir tampak tidak tenang.
"Mungkin lagi puas-puasin ajak main Ma....moga aja Athaya tidak rewel..." Aku mencoba menenangkan Mama meski aku juga tegang. Aku nggak yakin Athaya akan anteng dengan mereka. Ya Allah aku benar-benar khawatir...
()
Sampai jam 4 sore, Athaya belum juga kembali. Hape mereka juga masih nggak aktif. Marisa yang baru pulang nampak heran melihat Andina dan Mama yang gelisah. Setelah mendapat penjelasan, Marisa pun ikutan panik
"Teh Andin sudah ngasih kabar kak Arya ?" tanya Marisa. Andina menggelengkan kepala. "Belum. Nanti aja Sa, aku khawatir mas Arya jadi nggak tenang."
"Mama, Marisa...aku pulang dula ya. Sebentar lagi mas Arya akan pulang. Nanti kabar-kabari ya Sa..." ujar Andina.
"Iya teh..." sahut Marisa. Andina dengan langkah cepat meninggalkan rumah Mama.
****
__ADS_1
Selesai sholat magrib, Andina menelpon Marisa, tapi kabar Athaya belum ada juga. Suara mesin mobil terdengar saat Andina menyiapkan hidangan untuk makan malam bersama suaminya.
Ucap salam terdengar penuh semangat dari suaminya. Andina menjawab salam dengan senyum manis menyambut Arya yang sudah membuka pintu, tak lupa mencium tangannya.
"Aku kena macet sayang...tadi ada kecelakan mobil sampai terbalik di jalan, rusak parah gitu....nggak kebayang nasib penumpangnya..." ujar Arya sambil merebahkan diri di sofa.
Andina langsung terkaget, kekhawatirannya makin bertambah mengingat Athaya belum juga pulang.
"Mas sudah sholat magrib belum...aku sudah siapkan makan malam..." ucap Andina mencoba bersikap tenang.
"Belum sayang...aku sekalian mandi dulu ya.." Arya beranjak bangun, mengecup pipi Andina saat melintasinya.
"Huft...untung mas Arya belum menanyakan Athaya.." Andina menarik nafas lega untuk sesaat.
Setengah jam kemudian Arya turun sudah terlihat segar, menghampiri Andina yang sudah menunggu di meja makan.
"Kaka kemana Ma....kok gak kelihatan..." Arya melihat sekeliling. Andina yang sedang menuangkan nasi dan lauk ke piring Arya langsung merasa terkesiap.
"Eh itu...kaka masih di rumah Mama...aku tadi sampai nggak ke ruko, seharian di rumah Mama..." Andina berusaha menetralkan gugupnya.
"Mas makan dulu ya....habis ini kita ke rumah Mama..." lanjut Andina. Mereka makan dalam hening. Andina makan tertunduk agar Arya tak melihat roman wajahnya yang gelisah. Untuk duduknya bersisian jadi tidak terlihat jelas.
"Ihh mas kayak anak kecil...ini ada nasi di dagu..." Andina tersenyum, jarinya mengusap dagu suaminya yang sudah selesai makan. Dia berusaha bersikap normal.
"Hehe sengaja...biar kamu bersihin..." ujar Arya sambil mencolek hidung istrinya.
"Mas...pindah yuk duduknya...ada yang mau aku bicarakan..." Andina menarik tangan Arya menuju ruang keluarga.
__ADS_1
"Ada apa sih sayang...kok serius sekali," Arya beralih memeluk bahu Andina. Mereka telah duduk bersisian di sofa. Andina menatap netra Arya sambil memegang tangannya. Dengan hati-hati mulai menceritakan kronologis di rumah Mama...
...Bersambung...