
Arya mematut diri didepan cermin. Untuk kesekian kali lagi ia memastikan penampilannya, style semi formal, pakaian kerja andalannya. "Perfect !" Arya membatin. Seulas senyum tipis tersungging dibibirnya.
Tring. Notif pesan terdengar, hape yang disimpan dimeja rias diraihnya. Beberapa chat masuk pagi ini, tapi ia abaikan dulu. Lebih semangat membuka chat dari seseorang yang selalu membayang diingatannya, sering hadir dalam mimpinya.
"Asaalamualaikum...Mas Arya."
"Mau ngasih kabar, hari ini aku ke rukonya siang."
Arya tersenyum lebar, lalu mengetikkan balasan.
"Ehem...minta ijin nih Mama Athaya...😎"
"Eh, bukan begitu...maksudku adek kalau mau main ke ruko jangan sekarang, ntar siang aja."
"Owh kirain...padahal aku sudah seneng loh."
"😊"
"Ih kenapa malah senyum 😐. Ini Athaya nya merajuk lho, dia udah semangat bangun pagi, udah rapih dan cakep."
Arya mengetik sambil melihat ke ranjang dimana Athaya tertidur lagi karena tadi bangun subuh dan ikut ke masjid. "Yang sudah tak sabar ingin ke ruko tuh aku." Arya membatin.
"Hehe...Mas bujuk dulu ya, aku mau ke konveksi dulu, selesai urusan nanti langsung ke ruko.
"Oke Andinaku...hati-hati bawa motornya ya. Aku berangkat ke kantor dulu."
__ADS_1
"Mas juga...hati-hati ya, jangan lupa doa 😘"
"Astaga maaf salah emot, harusnya ini 😊"
"No, gak boleh diralat. Aku akan screenshoot utk moodbooster. Thanks ya emot nya."
"Ishh ☺"
Arya menyimpan hape ke saku celananya. Sudut bibirnya tertarik. "Yes, selangkah lebih maju." Arya membatin.
Setelah mencium anaknya, Arya bergegas turun menuju meja makan dengan sumringah. Ia duduk disamping Marisa yang masih memakai pakaian rumahan.
"Kok belum rapih, gak kuliah ?" tanya Arya. Diambilnya nasi, ayam kecap dan capcay ke piringnya. "Dosennya hari ini gak masuk, diganti ngasih tugas seabrek. Aku kerjakan dirumah aja," jawab Marisa sambil mengunyah makanannya.
"Ma...nitip Athaya ya, sekarang masih tidur. Tadi bangunnya subuh, ikut Arya ke Masjid. Pulangnya tidur lagi dia..."
"Nanti kalau Athaya pengen ke ruko, dianternya siang aja. Soalnya Andina nya ada urusan dulu," lanjut Arya.
"Cieee...udah main kabar-kabaran nih ceritanya," ledek Marisa tersenyum smirk.
Arya membalas dengan mengacak-ngacak rambut Marisa.
"Issh..Kak, kelakuannya sama kayak Kak Rendi. Demen banget ngacak-ngacak rambut," Marisa mendengus.
Arya mengelap bibirnya dengan tisu, dia sudah selesai makan. "Oh ya, ngomong-ngomong soal Rendi, kamu suka gak sama dia ? Dia baik, dokter, ganteng pula. Tapi tetep sih gantengan Kakak," ujar Arya narsis.
__ADS_1
Marisa mencebik mendengar kepedean kakaknya itu. "Aku gak berani pacaran, entar digantung sama Mama," Marisa cengengesan.
"Hmm ada pengecualian, kalau prianya Rendi Mama kasih ijin. Karena Mama sudah tahu betul kepribadiannya," sahut Mama memberi lampu hijau.
"Really, Mam ? Argggh I'm so happy," Marisa teriak girang. "Hmm...Papa gimana,.ngijinin gak ?" tanya Marisa ke Papa, yang dari tadi hanya jadi pendengar.
"Papa, idem," jawabnya singkat sambil menyeruput kopinya.
"Hmm tapi aku gak tahu perasaan Kak Rendi, Kak," ujar Marisa lesu.
"Tenang aja, nanti Kakak bantuin. Rendi tuh gak punya teman dekat wanita, malah kakak lihat dekatnya sama kamu aja. Kakak udah feeling kalau dia menyukai adik nyebelin ini." Kali ini Arya mengusap lembut kepala Marisa, tersenyum dengan kedua alis terangkat.
Arya pamit berangkat kerja. Langkah kakinya terayun lebar menuju mobil yang sudah terparkir dihalaman, berjalan dengan siulan yang mengalun dari bibirnya.
"Ma, sepertinya Kak Arya sudah fall in love sama Andina deh," ujar Marisa yang masih duduk bertiga dimeja makan.
"Kita lamarkan aja Ma, Papa sudah gak sabar besanan sama Wahyu. Biar bisa sering tanam bibit bareng lagi," sahut Papa.
"Lah si Papa...urusannya perkebunan aja," Mama mendengus.
"Biarkan aja dulu dia lebih mengenal Andina, jangan terburu-buru. Nanti kalau Arya sudah siap menikah lagi pasti dia akan bicara sama kita," lanjut Mama bijak.
*****
Arya sama Andina meminta poinmu, say....
__ADS_1
VOTE yang banyak yah. Laff u all 😍