
Pesta pernikahan telah berakhir. Rasa lelah tak seberapa dibanding rasa bahagia dan lega yang dirasakan Ricky dan Safa . Arya cs beserta istri kembali berpelukan dengan sang pangantin untuk pamit pulang.
"Beb, jangan lupa nanti malam kado dari aku harus dibuka. Langsung dipakai ya!" Andina berbisik di telinga Safa saat mereka berpelukan. Safa mengangguk pelan meski wajahnya penuh tanda tanya, kado apa gerangan.
Saat Ricky dan Arya bersalaman adu tos, pandangan mereka beradu, dengan suara hati masing-masing. Ricky senyum-senyum sambil menaikkan kedua alisnya. "Sorry bro, gue lebih cerdas dari lo. Malam ini milik gue!"
Arya pun tak kalah membatin berusaha optimis. "Gue yakin selalu ada jalan menuju Roma!"
Dan mereka pun mengakhiri perang batin dengan berpelukan.
Arya mengambil Athaya yang tertidur di pangkuan Ibu Desi dan menggendongnya menuju mobil setelah menyalami Ibu dan Ayah mertuanya itu.
"Teteh, kelihatannya seperti mules? Apa udah kerasa?" tanya Ibu saat berjalan bersamaan keluar gedung menuju parkiran mobil. Ayah dan Zaki sudah keluar lebih dulu.
"Sudah dua kali kontraksi Bu, tadi jam 10an sama barusan. Kata dokter tandanya mau lahiran kan jarak kontraksinya dekat, 5 sampai 10 menit sekali. Ini berarti kontraksi palsu..."
Ibu memegang perut Andina dan menyasarnya perlahan. "Ini mah Teh sepertinya tidak akan lama lagi, perkiraan Ibu paling telat besok sudah keluar nih si utun. Posisi si utun sudah turun di panggul nih..." ujar Ibu masih meletakkan tangannya di perut anaknya itu. Ibu tampak bahagia, sebentar lagi cucunya bertambah menjadi dua.
"Iya bu, teteh juga merasakan posisi bayi sudah turun dan ini punggung sakit...." sahut Andina.
"Sabar ya Teh, sakitnya akan terganti dan terlupakan dengan rasa bahagia, saat si utun lahir ke dunia." Ibu mengelus punggung Andina dengan lembut. Mereka berpisah di parkiran menaiki mobil masing-masing. Andina berjanji akan mengabari Ayah dan Ibu jika nanti sering kontraksi.
Mumpung akhir pekan, Rendi dan William pun memutuskan menginap kembali di rumah Mama Rita. Tentu saja membuat Mama dan Papa tampak senang rumahnya kembali rame dengan anak-anaknya.
__ADS_1
*****
Sang surya mulai undur menuju peraduannya. Sinar senja yang indah di cakrawala mulai meredup bersamaan dengan pergantian petang menjadi malam. Dua insan yang baru hitungan jam menjadi pasangan halal, kini sedang berada di dalam kamar. Merebahkan badan yang pegal setelah hampir seharian berdiri menyapa tamu undangan. Di ranjang pengantin yang empuk yang merupakan kamar Safa, Ricky merengkuh sang istri ke dalam pelukannya. Dalam diam, mereka saling merasakan debaran jantung yang berdetak lebih kencang.
Selepas tadi ikut sholat Isya di masjid bersama Bapak mertua, Ricky pamit masuk ke dalam kamar, menyepi dari keriuhan keluarga besar Safa yang masih berkumpul dan bersenda gurau. Ia sudah tak sabar ingin memeluk dan mendekap erat kekasih halalnya itu.
"Sayang, mau kemana?" Ricky menahan bahu Safa yang akan bangun dari pelukannya." Kata 'sayang' yang diucapkan Ricky membuat dada Safa selalu berdesir. Kata itu baru mulai terucap hari ini, setelah mereka halal dan kata itu mampu membuat rona di pipi Safa.
"Aku ke dapur dulu ya ambil minum. Aa mau dibikinin apa?"
"Aku mau kamu aja, sini jangan jauh-jauh...." Ricky menarik lengan Safa yang sudah terduduk di sisi ranjang hingga Safa jatuh telentang di sisi Ricky.
Ricky merubah posisi tubuhnya menjadi miring. Pandangan mereka beradu dan saling mengunci. Hembusan hangat nafas menerpa pipi Safa, hingga membuatnya memejamkan mata mencoba mengendalikan gejolak rasa di dada. Safa kembali membelalak, saat merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat menyentuh bibirnya.
Safa hanya menganggukkan kepalanya dengan wajah yang kembali merona malu. Senyum Ricky mengembang sempurna mendapat anggukan Safa. "Terima kasih sayangku Safa, ini juga ciuman pertama untukku..." Ricky melanjutkan kembali pemanasannya. Awalnya hanya kecupan, berubah menjadi ******* dan pagutan yang membuat gairah keduanya naik ke ubun-ubun.
Safa melepaskan tautan bibirnya dengan nafas terengah-engah karena kehabisan oksigen. "Aa, sebentar ya aku haus..." Safa mendorong tubuh Ricky yang setengah menindihnya. Tanpa menunggu jawaban, ia beranjak turun dari ranjang sambil merapihkan dulu pakaiannya sebelum keluar kamar. Sungguh Safa merasakan sensasi aneh seumur hidupnya yang belum pernah berpacaran. Ia merasakan gelenyar, desiran panas dan setruman menjalar ke seluruh tubuhnya hingga membuatnya kehausan.
Ricky menatap punggung sang istri sampai menghilang di balik pintu. Ia tersenyum bahagia membayangkan malam pertamanya akan berjalan lancar tanpa gangguan seperti nasib ketiga sahabatnya. Ricky mengecek kembali hapenya dan punya Safa yang tersimpan di meja rias. Oke, hape sudah sudah mati, aman, batinnya.
Tak lama Safa masuk kembali dengan membawa segelas besar air putih hangat, diberikannya kepada sang suami.
"Pintu sudah dikunci, sayang?" tanya Ricky selesai meneguk air hangat yang terasa menyerap ke pori-pori.
__ADS_1
"Sudah."
Safa menyimpan gelas di atas meja rias yang masih tersisa air minum 3/4 nya lagi. Ia teringat pesan Andina untuk membuka kado pemberiannya.
"Sayang, besok saja buka kadonya...sini tiduran lagi..." Rcky yang duduk selonjoran di atas ranjang memanggil Safa yang sedang memilih salah satu kado yang menumpuk di sudut dinding kamar.
"Bentar Aa, aku hanya mau membuka dari Andina saja..." Safa mengambil kotak kado yang berhias pita gold dan bunga cantik dan membawanya ke ranjang, ikut duduk di sisi suaminya.
Ricky pun ikut penasaran, ia duduk sambil memeluk Safa dari belakang, mencium rambut panjang sebahu yang menguar wangi lembut lalu menyandarkan dagunya di bahu sang istri yang sedang mengurai pita untuk membuka tutup kotak cantik itu.
"Ya Allah Andin...." Safa menggelengkan pelan kepalanya saat melihat isi kotak berisi tiga buah lingerie dengan brand luar terkenal. Ada tiga warna berbeda, hitam, merah, ungu.
"Wah, hadiah yang istimewa. Pakai ya, sayang..." malah Ricky yang kesenengan melihat isi kotak itu berbanding terbalik dengan Safa yang risih dan malu.
"Nggak mau ah, malu..." tolak Safa sambil menutup kembali kotak itu tapi tangannya di tahan Ricky.
"Kan menyenangkan suami itu pahala. Please, pakai ya..." tangan Ricky menyibak rambut yang menutupi leher putih sang istri, memciuminya dengan lembut lalu memberi satu stempel kepemilikan yang membuat Safa menggigit bibir bawahnya dengan mata terpejam.
"Iya deh, aku ke kamar mandi dulu..." Safa mengurai tangan kokoh Ricky yang melingkar memeluk perutnya.
Baru sampai ke depan pintu kamar mandi, suara ketukan dipintu kamarnya terdengar. "Fa...Safa...ada telepon..." Mamahnya memanggil di balik pintu.
"Iya Mah tunggu..." Safa menyimpan dulu lingerie hitam yang dipegangnya ke atas ranjang dan ditutupi selimut. Malu, jika Mamahnya melihat.
__ADS_1
Safa membuka pintu setengahnya agar suaminya yang ada di atas ranjang tak terlihat dari luar. "Dari siapa Mah?"