
Andina PoV
Aku bangun Subuh tapi mas Arya sudah nggak ada. Hmm, berarti sudah pergi ke masjid. Duh, badanku terasa pegal-pegal. Inginnya rebahan lagi kalau nggak ingat akan kewajiban untuk mandi besar dan sholat Subuh.
Aku jadi malu sendiri mengingat percintaan semalam. Tiba-tiba aku jadi agresif ingin menggoda mas Arya. Ini gara-gara perempuan tak punya harga diri itu. Gesturnya sengaja banget ingin menggoda mas Arya, pamer paha dan dada. Beuh, dadaku rasanya hareudang (panas). Aku sengaja duduk rapat dengan tangan mas Arya yang tak lepas merengkuh bahuku. Apa artinya dia tak mau ditinggalkan ?
Aku coba tes suamiku, aku mau beranjak memanggil Athaya saat perempuan itu bilang ingin bertemu. Mas Arya menahanku jangan pergi, malah dia berteriak memanggil Athaya. Dan akhirnya dengan tegas mas Arya mengusir perempuan itu. Dalam hatiku tersenyum senang.
Pernikahanku baru seumur jagung, hama sudah mulai muncul. Aku menyadari, mas Arya itu tipe idaman semua wanita. Hm, aku harus selalu antisipasi menyiapkan pestisida agar setiap hama yang muncul bisa langsung dibasmi.
Aku berada di kamar mandi lama, hanya untuk browsing. Aku mengetikkan 'cara membuat suami tidak berpaling', coba ganti ketik lagi 'cara suami betah di rumah' Aku baca beberapa web sampai ketemu artikel yang pas : Merawat diri, berdandan cantik depan suami, berpakaian seksi saat berdua, puaskan suami di ranjang, dll...
Aku baru ingat aku punya beberapa lingerie dari hantaran. Mungkin yang belinya Mama karena mas Arya gak pernah meminta aku memakainya, berarti dia gak tahu. Dengan mengendap-endap aku menuju Walk in Closet yang masih satu ruangan dengan kamar mandi mengambil lingerie warna merah. Saat memakainya aku jadi malu sendiri dan gugup, melihat pantulan di cermin. Aku coba mengusir rasa gugup dengan menarik nafas tiga kali. Kusemprotkan parfum, dan kugulung rambut ke atas. Perfect, aku seperti wanita penggoda. Tapi saat aku ingat kalau menyenangkan suami adalah ibadah, perasaan malu aku tahan.
Author PoV
Andina melirik jam dinding sudah menunjukkan jam 6, tapi Arya belum pulang. Dirinya merasa heran, tak biasanya suaminya dari masjid pulang telat.
__ADS_1
"Adek....ayo waktunya mandiii...," Andina menggelitik pinggang Athaya yang kembali tiduran saat masuk ke kamarnya. Athaya sudah mulai dibiasakan tidur sendiri meski kadang suka pindah kalau tengah malam terbangun.
Athaya tertawa tapi matanya merem seolah masih tidur.
"Hm, oke Mama pergi ke ruko sekarang ah....dadah adek...." Andina pura-pura mau keluar kamar.
"Mamaaa....itut..." Athaya langsung bangun, merentangkan tangannya minta digendong. Andina tersenyum, sudah berhasil membujuk.
Selesai memandikan, Andina turun menuntun Athaya yang menuruni tangga sambil loncat-loncat. Suasana rumah tampak sepi seperti tak ada orang. Pak Asep biasanya jam segini sudah manaskan mobil, tapi tidak terlihat.
Ting tong.
"Mamaaa....ada tamu...." teriak Athaya menghampiri ke dapur.
"Ayo kita lihat...." sahut Andina menuntun Athaya yang akan memainkan tombol kompor gas.
Saat membuka pintu, Andina melihat 2 orang berseragam Polisi berdiri menatapnya.
__ADS_1
"Bapak cari siapa ?" tanya Andina heran.
"Selamat pagi Bu. Saya dari kepolisian. Maaf, apa betul ini dengan Ibu Andina Ayu Affandi ?" tanya Polisi serius, memperlihatkan KTA nya.
"Betul pak, saya sendiri. Ada apa ya pak ?
"Ibu Andina harap ikut kami ke kantor polisi sekarang. Ibu kami tangkap !"
Andina langsung terkejut mendengarnya. "Saya tidak merasa melakukan pelanggaran, pak." Andina menggelengkan kepalanya, jantungnya berdebar kencang, wajahnya langsung pucat. Athaya menyembunyikan wajahnya dibelakang Mama Andin, mencengkram tuniknya, merasa takut.
"Saya membawa surat perintahnya. Silahkan Ibu baca sendiri..." salah satu Polisi menyerahkan amplop yang dipegangnya.
Dengan tangan gemetar Andina membuka amplop, dikeluarkannya kertas putih didalamnya. Dia menatap kembali kedua orang Polisi itu untuk meyakinkan apakah Polisi asli atau gadungan.
Andina menarik nafas perlahan, lalu mulai membaca kertas putih ditangannya. Selesai membaca, Andina langsung terduduk lemas di lantai teras sambil menangis tergugu. Athaya yang melihat Mama nya itu menjadi ikutan menangis.
"Mamaaaa hwuaaa hwuaaaa....." Athaya memeluk Andina dengan erat.
__ADS_1