
Keluarga besar Papa Roby sedang diliputi rasa bahagia, Hari ini prosesi adat sunda siraman berlangsung dengan khidmat dan penuh haru di kediaman Papa dengan dekorasi nuansa putih gold penuh bunga-bunga mawar putih segar. Dengan mengenakan seragam keluarga berwarna putih pula, Arya dan Andina bergantian memeluk Marisa saat prosesi sungkem berlangsung. Setelah sebelumya Marisa yang berbalut kebaya modern putih itu sungkem minta maaf dan pamit kepada Mama dan Papa untuk memulai hidup baru.
"Adikku sayang, esok adalah perjalanan baru untukmu, jadilah istri yang taat pada suami ya," Arya mencium kening sang adik dengan penuh sayang. Marisa hanya mampu mengangguk lemah dan menitikkan air mata. Ia sangat terharu dengan kebaikan dan kasih sayang dari kakaknya selama ini, meskipun sang kakak sering usil padanya tapi ia tahu betul kalau Arya sangat melindungi dan menyayanginya. Hingga urusan jodoh pun ikut andil memilihkan yang terbaik untuknya.
"Teh Andin, maafkan Marisa jika selama ini ada salah sama teteh..." Marisa bergeser memeluk Andina yang duduk di kursi sisi Arya. "Sama sekali tak ada kesalahanmu Sa, kamu adik iparku yang cantik dan baik hati. Semoga kebahagiaan dan keberkahan selalu menyertai kehidupan rumah tanggamu..." Andina mencium kening Marisa dengan rasa sayang sepenuh hati. Ia pun tak bisa menahan air mata haru, kembali saling berpelukan.
Prosesi terkahir berupa siraman berjalan lancar. Aura kecantikan Marisa semakin memancar dalam balutan kebaya yang ditambahkan rangkaian bunga melati di badan dan kepala yang berbalut hijab putih. Keluarga jauh, teman dekat, serta tetangga, turut merasakan kebahagiaan hari ini. Esok adalah hari pernikahan Marisa dan dokter Rendi, akan digelar di hotel berbintang dikawasan Dago yang terletak di Bandung Utara.
"Sayang, biar aku aja yang ambil makanan, kamu nggak boleh capek..." Arya mengusap perut Andina yang makin membuncit di usia kehamilan 20 minggu, terasa sekali pergerakan baby meski tidak kuat, saat Arya mengusap perut sang istri. " Tuh kan baby juga merespon setuju, Mama nda boyeh cape..." ujar Arya dengan menirukan suara anak kecil.
"Iya deh. Papi, anakmu pengennya makan nasi sama gurame asam manis tiga potong, kentang mustopa, rolade dua, jangan pakai sayur sop, jangan disuapi. MALU!' Andina memberikan titahnya pada sang suami.
Arya mencubit hidung Andina yang menurutnya makin menggemaskan dengan pipi chubby yang merona merah alami, "Siap, ratuku..." Arya menuju stand yang berada di halaman rumah berbaur dalam keramaian para tamu yang menikmati sajian makanan. Anak-anak tampak berlari kesana kemari termasuk Athaya yang bermain bersama sepupu-sepupu yang jarang sekali bertemunya karena mereka diluar kota.
****
"Saya terima nikah dan kawinnya Marisa putri binti Roby Syahputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
__ADS_1
Dengan lantang dalam satu tarikan nafas, Rendi dalam busana adat sunda yang nampak gagah dan tampan itu mengucap kabul dalam jabatan tangan erat dirinya dengan Papa Roby. Papa dan Mama yang selama ini dianggap orangtua kedua karena persahabatannya dengan Arya, kini resmi menjadi mertuanya.
Kata SAH dari para saksi mengakhiri acara ijab kabul dengan diiringi lantunan doa terbaik untuk sang pengantin. Semilir angin yang sejuk dari pohon-pohon besar yang menjulang dengan view sore sedikit berkabut, menambah kesyahduan acara yang digelar dalam konsep out door ini.
"Anak Mama tinggal satu lagi yang belum nikah," Mama Rita melirik Ricky yang duduk dalam satu meja panjang menikmati jamuan makan. "Doakan segera menyusul ya Ma..." hanya itu yang diucapkan Ricky sambil menatap sekilas safa yang duduk di sisinya, Safa pun tersenyum malu.
"Bro, nggak nyangka akhirnya jadi adik ipar gue..." Arya menepuk-nepuk bahu Rendi yang duduk bersisian. Yang ditepuk menoleh ke arah Arya, "Rejeki anak sholeh..." Rendi menepuk dadanya sok menyombongkan diri. Yang dibalas Arya dengan hadiah toyoran kepala.
Semuanya duduk berpasangan, lontaran canda untuk sang pengantin baru membuat suasana penuh gelak tawa, tapi tidak untuk pasangan pengantin yang hanya menanggapi dengan senyum mesem. Sederet acara selepas ijab kabul yang ditutup dengan sawer panganten sudah selesai digelar dengan meriah. Mama dan Papa sangat bersyukur dan tersenyum bahagia empat pria yang beliau anggap semua anaknya, sudah memiliki pendamping hidupnya. Meski Ricky belum menikah tapi dia sudah punya calon yang menurut Mama Rita cocok dan merestuinya.
Saatnya istirahat sejenak, menunggu jam 7 malam untuk acara resepsi ya ng akan digelar di Ballroom hotel. Kumpulan keluarga membubarkan diri masuk ke kamar hotel masing-masing.
Arya duduk di sofa menyandarkan punggungnya, ia nampak sedang berpikir dibarengi dengan gerak bibir yang senyum-senyum. "Mas Arya kesambet ya...mau magrib malah senyum-senyum sendiri..." Andina pura-pura bergidik takut, berdiri depan sang suami.
"Si Pitung apa ? Kok kayak film tokoh Betawi..." Andina mengernyit tidak faham maksud dari suaminya itu.
"Ah bukan apa-apa, lupakan saja..." Arya meralat kembali ucapannya, lebih baik Andina tak boleh tahu rencananya. "Sini sayang tiduran aja.." Andina merubah posisinya menjadi rebahan dengan kaki menyampir di pangkuan sang suami. Dengan lembut Arya memijat-mijat kaki sang istri mulai dari paha sampai telapak kaki, hingga hampir membuat Andina tertidur. "Eh-eh jangan tidur yank, nggak baik tidur sore..." Arya menggelitiki telapak kaki Andina hingga kembali terjaga dan tertawa geli.
"Abis pijitannya enak sih...jadinya pengen lanjut tidur." Arya menaikkan kedua alisnya mendengar jawaban Andina. "Apalagi kalau pijat plus-plus ya sayang..." ujar Arya mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Ishh MESUM." Andina mengerucutkan bibirnya. Bagi Arya itu adalah pancingan untuk menariknya melakukan aksi serobot menyosor dan melum** bibir sang istri dengan rakus.
Ah, untung Athaya lagi bobo....
__ADS_1