
Tak terasa pernikahan Arya Andina sudah berjalan satu bulan. Sesuai rencana, mereka b ikut membantu kegiatan sosial istrinya bersama Hendra dan Uci dengan membuatkan Rumah Singgah. Kini, Rumah singgah itu dalam proses pembangunan diatas tanah wakaf dari Mama Rita dan Papa Roby.
Hari ini Sabtu, William dan Celine melaksanakan pernikahannya di Jakarta. Semua orang, ada Mama Papa, Arya dan Andina, Marisa dan Rendi, juga Ricky, fokus menatap layar Smart TV berukuran 50 inc di rumah Papa. Mereka menyaksikan video streaming yang direport pihak William. Acara pemberkatan nikah William dan Celine berlangsung di Gereja Katedral, yang lokasinya berdampingan dengan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
"Ughh...mbak Celine cantik banget..." Marisa berseru saat melihat Celine berjalan anggun menebar senyum dibalik cadar , memakai gaun pengantin putih yang panjangnya menyap lantai. Dia berjalan menuju Altar didampingi oleh Papa nya.
"Wow.. si Willi level gantengnya jadi naik diatas gue. Ck, apa dia oplas dulu ya...." ujar Ricky saat melihat William berdiri tegap, tersenyum menatap calon istrinya yang semakin mendekat ke arahnya. Dia tampak gagah dan tampan memakai jas putih.
"Itu namanya inner beauty nya keluar, Ricky...." Mama menjewer telinga Ricky yang duduk dibawahnya, sebel dengan komentarnya. "Ah-ah ampun Ma....sakit...." Ricky meringis, mengangkat kedua tanganya melihat Mama. Yang lain hanya terkekeh melihat kelakuannya.
Mereka menonton sampai selesai prosesi pemberkatan nikah William Celine.
"Kita berangkat ke Jakarta setelah sholat Duhur aja. Biar nanti ada waktu istirahat dulu di hotel sebelum hadir diresepsinya." Papa memberikan intruksinya yang disetujui semuanya.
Selepas Duhur, mereka berangkat ke Jakarta menggunakan 2 mobil.
****
Resepsi pernikahan William dan Celine berlangsung meriah diselenggarakan di Ballroom hotel. Keluarga dari Bandung nampak beramah tamah dengan orang tua William dan Celine. Empat sekawan saling berpelukan bahagia dan berfoto bersama dengan gaya gokil khas mereka.
William memeluk Mama dan Papa dengan rasa haru. Ya, keluarga Papa Roby adalah keluarga kedua untuknya, sejak dirinya bersahabat dengan Arya. Mereka juga tak luput memberi dukungan dana pernikahan William.
"Selamat ya nak, semoga kebahagian selalu menyertai rumah tangga kalian," Papa Roby menepuk- nepuk bahu William. " Amiin Pa" jawab William.
"Anak Mama sayang....selamat menempuh hidup baru ya....Willi, Celine, jadilah pasangan hidup yang saling melengkapi, saling memahami dan menghargai. Agar rumahtangga bahagia sampai maut yang memisahkan." Mama berucap dengan tatapan sayang, menautkan tangan William dan Celine didalam genggamannya. Mereka mengangguk dan kembali memeluk Mama.
"Ma...Taya mau es klim..."Athaya menarik tangan Andina menunjuk ke stand es krim.
"Oke...tapi hanya 1 ya !" Andina mewanti-wanti.
"Dua ya Ma...boyeh ya plis..." Athaya mengerjap-ngerjapkan matanya.
"No no...2 es krim hanya untuk dimakan siang 1, malam 1. Jadi sekarang makan 1 es krim ya anak Mama yang soleh..." Andina membujuk dengan lembut. Athaya akhirnya mengangguk patuh.
__ADS_1
"Mbak Mauren....apa kabar ?" Andina mencolek lengan Mauren yang sedang memilih menu disamping stand es krim.
"Hai Andina...." Mauren memekik senang. Mereka saling berpelukan.
"Aku tidak begitu baik, Din..." jawab Mauren lesu.
"Lho, kenapa mbak.... Mbak sama siapa kesini ?"
"Aku kesini bareng teman-teman SMA. Aku baru putus, Din. Ternyata dia tidak mencintaiku, hanya menguras duitku saja..." ujar Mauren dengan wajah sendu.
"Maaaa ayo...Taya mau itu..." Athaya kembali menarik-narik tangan Andina setelah habis memakan es krimnya.
"Aduh mbak maaf...kita ngobrolnya kepotong...ini anak gak bisa diam..."
"Gak apa-apa Din...lain waktu kita ngobrol lagi...".sahut Mauren.
"Mbak kalau butuh teman curhat telepon aku aja ya...mungkin aku bisa bantu mbak..." tawar Andina dengan tersenyum tulus.
"Beneran Din ! Ahh makasih banget sebelumnya," Mauren kembali memekik senang.
"Duh anak pinter....gantengnya kembaran sama Papa nya ya..." Mauren mencium pipi gembul Athaya, gemas. Dengan polos, Athaya mengusap pipinya yang dicium membuat Mauren dan Andina tertawa.
*****
"Sayang, tidurnya berdua sama Athaya gak apa-apa ya ? Aku ada urusan dulu sama Ricky dan Rendi. Pulangnya nanti subuh..." Arya menghampiri Andina ke atas ranjang, memeluknya dari belakang. Acara resepsi selesai, mereka sudah berada dikamar hotel.
"Mas mau kemana ?" Andina membalikan badannya menjadi telentang. Athaya sudah tertidur disampingnya.
"Ada urusan penting. Masih di hotel ini kok, gak keluar," Arya mendusel-dusel wajahnya di dada Andina sampai sekian menit. Tempat favorit yang membuatnya nyaman.
"Aku pergi dulu ya..." Arya memag😚t dalam bibir istrinya sebelum beranjak pergi.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, suasana koridor hotel tampak sepi. Semua penghuni kamar mungkin sudah terlelap ke alam mimpi. Beda dengan sebuah kamar Presidental Suit, kamar sepasang pengantin yang bertabur bunga mawar merah dan lilin. Romantis !
__ADS_1
Dua insan sedang merebahkan tubuh diatas ranjang, selesai mandi air hangat. Menghirup segarnya aromateraphy dari bunga mawar yang ditabur dibawah sekeliling ranjang. Tangan William baru mulai menjelajah tubuh atas istrinya saat terdengar pintu diketuk berkali-kali.
"Mas...sepertinya ada yang mengetuk pintu..." Celine melepaskan ciuman.
"Biarkan saja, honey..." bibir dan tangan William kembali sibuk. Ketukan di pintu tak juga berhenti, membuyarkan fokusnya.
William dengan menggerutu bangun menghampiri pintu.
"Kalian....," William melotot sambil berkacak pinggang.
"Hei hei....ngapain pada masuk..." William berusaha menghalangi Arya Cs, tapi percuma. William memicingkan mata melihat apa yang dibawa Ricky dan Rendi.
"Hmm aroma kamar ini serasa berada di alam....gue jadi pengen camping.... Bro, ayo pasang !" perintah Arya sambil duduk tumpang kaki di sofa.
Ricky dan Rendi bagaikan kerbau dicocok hidung, mulai menggeser meja dan sofa.
"Hei awas lo ya ! kenapa nurutin si Arha..." William mendekati mereka dan berbisik geram.
"Boss yang nyuruh....gue bisa apa ?" Ricky cuek.
"Ren....!!" William menggeram, menatap tajam Rendi.
"Gue kalau gak nurut bisa dipecat jadi adik iparnya..." sahut Rendi kalem. William hanya bisa meremas rambutnya.
Tenda lipat sudah berdiri tegak dengan matras didalamnya.
"Kita cuma mau camping aja bro....silahkan lanjutkan iya iya nya...kita gak akan ngintip kok...tenda ini gak tembus pandang..." Arya tersenyum mengangkat dua alisnya, menepuk bahu William yang wajahnya memberengut.
Dengan gontai, William melangkah ke ranjang menghampiri Celine yang dari tadi bengong memperhatikan.
"Honey, gini nih nasib punya teman-teman gak waras. Kita tidur aja ya...." ujar William dengan wajah lusuh.
Celine hanya geleng-geleng kepala. "Ya sudah...aku juga lelah dan ngantuk kok," Celine menarik selimut sampai ke dada.
__ADS_1
"Bro, misi BERHASIL !" ketiga orang dalam tenda tertawa cekikikan.
********