
Andina menatap terkesima ke arah sosok tinggi nan tampan itu. Laki-laki itu sedang tersenyum bukan ke arahnya, tapi mata Andina tertarik kagum menatapnya.
Buru-buru ia memalingkan wajah, berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan. "Ayah...Ibu jangan sedih ya...sepertinya teteh sakit jantung," batin Andina menjerit.
Arya duduk disamping Mama nya, mencium kening Athaya. "Sudah gak demam lagi sekarang Ma...," ujar Arya setelah merasakan hangat saat mencium kening anaknya.
"Iya..kan berkat ada Mama Taya...iya kan sayang," ujar Mama sambil mengusap kepala cucunya itu.
"Makasih ya Din..." Arya menoleh ke arah Andina, tersenyum tulus.
"Eh..i iya pak..." Andina balas tersenyum manis.
"Assalamualaikum," Ricky masuk dengan membawa beberapa berkas ditangan.
"Waalaikumsalam," serempak semuanya menjawab.
__ADS_1
"Hei jagoan Om...sudah sembuh hmm," Ricky mencubit gemas hidung mancung Athaya.
"Syudah dong Om...kalau ada Mama Taya jadi syembuh..," Mama yang menjawab dengan logat anak-anak. "Mama nda boleh pulang ya...nanti malam Taya nda bisa tidul kalau mama nda ada..," balas Ricky ikutan logat anak-anak sambil melihat ke Andina.
Blush...Andina yang mendengar percakapan itu merasa digoda, pipi putih mulusnya langsung memerah. Ia menggigit bibir bawahnya, salah tingkah dan merasa malu. Rasanya ingin menghindar keluar dulu dari ruangan itu.
Arya menoyor kepala Ricky sambil melotot tajam, " Bawa sini berkasnya !" ujar Arya sambil berjalan menuju meja makan. Aneh, kenapa aku jadi kesal sama si Ricky, batinnya.
Arya dan Ricky duduk dimeja makan, mereka fokus mempelajari berkas-berkas diatas meja. Ricky tampak menjelaskan setiap lembarnya, sebelum Arya meyetujui dengan tanda tangan nya.
Kini Athaya sudah kembali ke ranjang ditemani Andina yang duduk dikursi samping ranjang.Anak itu benar-benar tidak mau jauh dari Mama nya.
"Hmm nanti saya beli sendiri aja bu...soalnya pengen makan Nasi Padang," jawab Andina.
"Ok. Kalau gitu Ibu dulu ya makannya nanti gantian. " Andina mengangguk setuju.
__ADS_1
"Mama tinggal dulu mau ke kantin," Mama menepuk bahu Arya saat melewatinya. Arya hanya mengangguk, matanya tetap fokus mempelajari berkas.
*****
Arya dan Andina duduk berhadapan menunggu pesanan mereka datang. Kini mereka berada dirumah makan Padang, letaknya tidak jauh dari rumah sakit hanya tinggal menyebrang jalan. Tadi Mama memaksa Arya untuk menemani Andina makan.
"Ar, kamu harus temani Andina makan, soalnya tadi pagi ada yang menggodanya diparkiran. Mama jadi Khawatir kalau Andina keluar sendirian," ujar Mama mengarang bebas.
Kalau Ricky setelah selesai dengan urusannya, ia langsung pamit kembali ke kantor.
Dan disinilah mereka sekarang, menunggu pesanan yang sama, Nasi Kikil dan Jeruk Panas.
"Hmm kabar Pak Wahyu sekarang gimana Din ?" Arya membuka percakapan, memecah kecanggungan. "Alhamdulillah ayah sehat, beliau sekarang sedang di Garut mengolah ladang," jawab Andina.
"Wah ternyata benar ya meneruskan hobi dari dulu, sama dong seperti Papa," ujar Arya mengenang dulu setiap minggu Papa nya dan Pak Wahyu selalu bersama menyemai bibit.
__ADS_1
Andina membalas dengan tersenyum manis. Arya yang sedang menatapnya tak sadar jari tangannya bergerak. "Ya Tuhan, kalau dulu tanganku ini akan langsung mencolok lesung pipitnya dia," batinnya, mengenang Andina cilik.
Diam lagi, bingung harus mengobrol apa. Untung, pelayan datang menyelamatkan situasi. Akhirnya mereka menikmati makan tanpa suara.