SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
158. Romansa Rumah Singgah


__ADS_3

Acara makan-makan sudah berlangsung. Anak-anak nampak riang mengantri mengambil makanan catering, satu standeja panjang untuk makanan berat berupa nasi dan lauk pauk. Ditambah satu stand tersaji es krim, buah potong, dan puding.


"Maaf ya kita datangnya telat...." Marisa dan Rendi duduk lesehan bergabung dengan Andina yang sedang bercengkrama dengan Mama dan Ibu.


"Nggak apa-apa Sa. Gimana, sudah selesai ?" tanya Andina.


"Alhamdulillah semuanya beres tinggal menunggu hari H." Jawab Marisa sumringah, ia kini sudah berhijab sejak dirinya di wisuda, makin cantik dan anggun. Dua minggu lagi hari bahagia akan menyapanya, yaitu Siraman dan Pernikahan. Mereka baru datang ke rumah singgah karena sudah janji dengan pihak butik untuk fitting baju pengantin.


Arya datang dengan membawa sepiring nasi dengan lauk porsi besar di tangan kanan dan air mineral di tangan kiri. Ia duduk di sisi Andina, bersila.


"Kak Arya, itu doyan apa kelaparan? Kayak nggak makan seminggu." Marisa mengernyit melihat piring kakaknya yang penuh.


"Sembarangan..." Arya mendelik. "Ini porsi untuk tiga orang. Aku, Andina, dan baby..." jawaban Arya membuat orang-orang dikelompoknya terkekeh.


Papa Roby duduk berkelompok dengan Ayah, Hendra dan Pak RT setempat. Safa dibantu Uci, Mauren dan Celine mengatur anak-anak supaya tertib saat mengambil makanan.


"Sayang, aaa...." Arya mengarahkan sesendok nasi depan mulut Andina.


Andina menggeleng pelan. "Mas aja....aku bisa ambil sendiri."


"Bunda Andin kan sudah cape jadi narator, jadi sekarang istirahat biar aku yang suapi kamu oke...." Arya tersenyum mengangkat kedua alisnya.


"Malu atuh mas....kalau di rumah sih nggak apa-apa..." Andina memelankan suaranya agar tak kedengaran yang lainnya.


"Kalau di rumah aku yang akan memakanmu! Ayolah sayang...ini tangan udah pegel..." Arya ikut memelankan suaranya. Ia semakin mendekatkan sendoknya, mau nggak mau Andina membuka mulut dengan wajah merona menahan malu jadi pusat perhatian Mama dan lainnya.


"Teteh, nurut aja...anggap kita mah botol pajangan..." sahut Ibu dengan mengulum senyum. Mama Rita hanya mesem saja melihat tingkah bucin anaknya itu.


Marisa dan Rendi hanya geleng-geleng kepala. Mereka sudah sering melihat kebucinan Arya yang tak mengenal tempat.


"Aku ambil dulu makan ya..." Marisa bangkit dari duduknya yang juga diikuti Rendi menuju stand makanan. Mama dan Ibu sudah selesai makannya, mereka kembali melanjutkan obrolan santai. Membiarkan Arya yang makan sepiring berdua dan terus menyuapi Andina.

__ADS_1


"Udah ah mas, aku sudah kenyang..." Andina menyuruh Arya berhenti menyuapinya. Sebenarnya, bukan karena kenyang tapi malu dengan pandangan orang-orang yang senyum-senyum ke arahnya.


"Jangan pedulikan orang lain, aku tahu porsi makanmu naik, segini mah belum kenyang..." ujar Arya yang cuek dengan sekitarnya, kembali ia menyuapi sang istri diselingi dirinya makan sendiri.


Rima datang dengan menuntun Athaya mendekati Andina. "Bunda, adek Thaya mau es krim lagi. Padahal tadi sudah ambil satu..." lapor Rima. Sebelumnya ia sudah diwanti-wanti oleh Bunda Andin agar Athaya tidak makan es krim banyak.


"Boyeh ya Ma...." Athaya merajuk dengan mengerjap-ngerjapkan mata dengan sorot memelas dan memanyunkan bibirnya, senjata untuk meloloskan keinginannya.


"Hm. Oke, boleh makan satu cup lagi tapi kaka harus makan nasi dulu tiga suap ya..." Andina mengambil alih sendok, menyuapi Athaya yang luluh dengan syaratnya.


****


Ricky duduk sila bersisian dengan Safa menikmati makan bersama. "Fa, mau suapi aku nggak..." Ricky menyodorkan piringnya dengan wajah tanpa dosa. Rupanya ia juga menyaksikan duo 'A' yang makan romantis, menurutnya.


Safa yang sedang asyik mengunyah, langsung mendelik. "Apaan sih A Iki, kalau belum halal tak ada acara suap menyuap!"


"Berarti kalau sudah halal kita bisa romantisan kayak mereka dong." Ricky menaik-naikkan kedua alisnya.


"Setelah pernikahan Rendi, aku akan melamarmu!"


Satu kalimat yang membuat Safa tersedak, Ricky sigap memberikan air minum. "Hati-hati dong Fa...makannya santai aja..."


"Aku tersedak bukan karena makan kecepetan tapi barusan Aa bilang apa...aku takut salah dengar," Safa menatap Ricky ingin meyakinkan kembali pernyataannya.


"Hm perkataan yang mana ya...soal romantisan ?" tanya Ricky sok tidak peka dengan maksud Safa.


"Ah udah lah nggak jadi bertanya!" Safa memalingkan muka ke arah lain dengan raut kecewa.


Ricky mengulum senyum melihat Safa yang merajuk. Dengan ujung jarinya, Ricky menyentuh dagu Safa memalingkan kembali wajah agar kembali menghadapnya.


"Safa Fauzia, aku akan melamarmu setelah pernikahannya Rendi dan Marisa. Katakan Ayang Safa, mau acara lamaran seperti apa hmm ? InsyaAllah aku akan menyanggupinya...." tutur kalimat yang diucapkan Ricky dengan pelan dan dalam disertai tatapan teduhnya membuat wajah Safa merona dan tertunduk, malu dan grogi. Jantungnya berdetak lebih kencang, hari ini ia melihat sisi lain dari Ricky yang biasanya suka konyol, kali ini hmmm romantis.

__ADS_1


"Oh my God. Ternyata Aa Iki bisa romantis juga, du du du...hati ade meleleh Aa....."


Ricky dan Safa spontan menoleh mendengar suara orang di belakang punggung mereka. Dengan wajah tanpa dosa, William yang duduk sila memunggungi mereka nampak anteng menikmati makan bersama istrinya, Celine.


"Ishh, awas lo ya, gue gantung di pohon toge! Ngapain duduknya disini...tempat masih luas noh..." dengan tangan gemas ingin meremas, Ricky menonjok bahu William yang selalu usil meledeknya.


"Aduh ampun A Iki...sakitttt tapi boong..." William menoleh dengan menjulurkan lidahnya, reflek dirinya berpindah saat Ricky akan menyerangnya kembali.


"Harap maklum ya Safa, mereka kalau dekat seperti Tom and Jerry..." sahut Celine yang membuat Safa terkekeh dengab kelakuan absurb kedua pria dewasa itu.


****


Mauren duduk di bangku panjang yang tersedia di teras depan ruang acara. Ia memilih udara bebas setelah makan dan berbincang di dalam.


"Hai, boleh aku gabung ?" Dino, lelaki tampan yang pernah mengutarakan cinta berkali-kali terhadap Andina, tersenyum ramah kepada Mauren. Ia datang atas undangan Andina, cinta tak bersambut bukan berarti hubungan pertemanan harus berakhir buruk. Mengerti dan menerima kenyataan, membuat tali silaturahmi tetap terjalin baik.


"Oh, silakan...masih luas kok..." Mauren menepuk tempat kosong dengan mengulas senyum.


"Di dalam tadi kita sudah saling ngobrol tapi belum berkenalan dengan benar. Aku Dino, teman sekaligus seniornya Andina saat di kampus." Dino mengulurkan tangannya yang disambut jabat tangan kilat Mauren, yang juga memperkenalkan dirinya.


"Kalau aku teman keduanya, Arya juga Andina. Berteman dengan mereka sungguh menyenangkan..." Mauren menatap sekilas wajah Dino yang duduk renggang di sisinya. Aura kebahagiaan memancar di wajah Mauren yang bersyukur mendapatkan lingkungan pergaulan baru, berkumpul dengan orang-orang baik.


"Kamu benar. Mereka pasangan serasi dunia akhirat. Aku juga berharap mendapat pasangan hidup yang satu frekuensi, semoga bertemu jodohnya disini...." Dino tersenyum dan menatap penuh arti wanita berhijab di sisinya itu, yang sedang memandang lurus menerawang langkah hidupnya ke depan.


Gelak tawa dan keceriaan dari anak-anak asuh masih menggema. Halaman belakang yang terhampar rumput dan berbenteng tinggi menjadi arena bermain anak-anak. Mereka terbagi beberapa kelompok bermain, dan semuanya larut dalam permainan tradisional. Ada petak umpet, lompat tali, dan congklak. Athaya tampak bersemangat dan tertawa senang ikut dalam permainan petak umpet bersama Rima dan yang lainnya.


...Adakah yang rindu masa kecil dulu tanpa gadget ?...


...*D**imana semuanya begitu indah, hanya ada canda tawa saat bermain bersama teman-teman, pertengkaran pun hanya sesaat, kembali damai saat dua kelingking terpaut*....


...Kalaupun kita terjatuh, hanya kaki dan lutut yang sakit, bukan hati....

__ADS_1


__ADS_2