SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
131. Jadi Betah


__ADS_3

Andina menyusul Arya ke depan. Suara langkahnya membuat Arya yang sedang berdiri langsung menoleh, tersenyum lebar.


"Mas....makasih ya..." ujar Andina setelah mensejajarkan berdiri di sisi Arya. Senyum manisnya mengembang menatap hangat wajah suaminya.


"Untuk ?" tanya Arya mengangkat dua alisnya.


"Untuk semuanya...perhatian, kejutan, dan cinta yang begitu besar...." ucap Andina masih dengan senyum yang mengembang, lesung pipinya terlihat sempurna.


Arya menarik Andina ke pelukannya. "Aku yang harusnya berterima kasih. Karena kehadiranmu memberi kebahagiaan untuk aku dan Athaya. Karena doa mu usahaku semakin naik." Arya mengusap kepala Andina yang masih dipeluknya.


"Mas hari ini gak ke kantor ?" Andina mengurai pelukan, menatap wajah Arya.


"Ke kantor kok...tapi nanti jam 10 tadi sudah kabari Ricky kalau aku akan telat masuk. Yuk gabung lagi di dalam..." Arya merengkuh bahu istrinya masuk ke dalam rumah.


"Athaya....ambilin onti kue yang ada kelapanya itu dong...." Marisa menunjuk ke arah getuk.


"Onti....kata Papi cekalang halus panggil Taya KAKAK...." Athaya menatap Marisa menyampaikan protesnya. Semua yang berkumpul terkekeh melihat ekspresi Athaya.


"Oke oke maaf onti gak tau. Diulang ya....Kakak, ambilin onti kue yang ada kelapanya itu dong..." ulang Marisa dengan senyum ditahan.


"Okey onti.....ini kue nya..." Athaya menyomot satu getuk dari tampah diberikan kepada Marisa.


"Pak Wahyu...kapan ya kita adakan liburan bareng...seru kayaknya..." ujar Papa disela memakan nasi tumpengna.

__ADS_1


"Wah lagi bahas liburan nih..." Arya menyela saat baru datang bersama Andina, mereka duduk di sisi Mama.


"Boleh juga Pak Roby, ide yang bagus... kita atur waktunya minta sama nak Arya kapan senggangnya..." sahut Ayah Wahyu.


"Hm...gimana kalau setelah wisuda Marisa...jadi sekalian syukuran sambil liburan," usul Arya.


"Yes kak Arya memang the best...." Marisa memekik senang, mengacungkan dua jempolnya.


"Cieee yang mau merried usai wisuda...eh tapi sidang skripsinya aja belum...gak tau bakal lulus atau tidak..." Arya meledek Marisa.


"Yakin lulus dong...siapa dulu nih MARISA PUTRI gitu lho..." Marisa menepuk dadanya, penuh percaya diri.


"Mama...kaka mau telol..." Athaya menunjuk ke telor dadar. Andina tersenyum mendengar Athaya menyebut dirinya Kakak.


"Ayah, Ibu dan Zaki santai aja dulu disini....kalau bisa nginap sekalian. Arya tinggal berangkat ke kantor dulu ya..." ujar Arya melirik jam di tangannya.


"Iya nak Arya, paling kita disini sampai Duhur. Untuk menginap lain waktu aja soalnya nanti malam ada pengajian di tetangga," sahut Ibu.


Arya mengangguk, dia pamit ke semuanya sebelum naik ke kamarnya untuk mengganti baju.


"Mas mau pakai baju apa ?" Andina membuka lemari gantung yang berderet kemeja model slimfit berbagai merk terkenal.


"Kemeja putih aja sayang...celananya udah ini aja. Tadi aku ganti pakaian di rumah Mama, kan di kamarku masih ada beberapa pakaian."

__ADS_1


Arya memastikan lagi penampilannya di depan meja rias. Wajahnya yang tampan dan putih bersih terlihat cool dengan sedikit olesan pomade di rambut.


"Sayang, siap-siap nanti malam dandan yang cantik. Kita akan dinner berdua. Athaya nanti sore titipkan aja ke Marisa, biar nginep disana dulu." ujar Arya sambil memeluk Andina dari belakang. Pantulan keduanya terlihat dari cermin. Aroma parfum maskulin menguar membuat Andina terbuai, betah di peluk suaminya.


"Hm gimana cara ngerayunya ya...adek eh kaka takut nangis kalau ditinggal lama," ujar Andina menatap suaminya dari cermin.


"Kamu pikirkan aja sayang....pokoknya aku ingin quality time dulu. Kita kan belum sempat honeymoon, jadi momen sekarang kita habiskan malam berdua..." Arya membalikkan badan Andina menjadi berhadapan. Tangannya memeluk ketat pinggang istrinya. Arya memulai ciuman dengan lembut, Andina melingkarkan tangannya di leher Arya. Ciuman lembut berubah menjadi saling memagut, saling membelit lidah, kedua mata mereka terpejam, meresapi sensasi.


"Sudah dulu sayang....bisa-bisa aku gak jadi pergi ke kantor, " lirih Arya serak. Dia menyatukan kening, setelah mengakhiri ciuman panas karena kehabisan nafas. "Hm....Mas sendiri yang mulai..." sahut Andina manja, kedua pipinya sudah berubah warna seperti kepiting rebus setiap kali mendapat serangan dadakan dari Arya.


"Aku tuh pengennya ngamar terus kalau lihat pipimu seperti ini..." Arya mengecup gemas kedua pipi Andina. "Sudah ah...keburu siang Mas..." Andina mendorong dada Arya karena gak selesai-selesai menyosornya.


Arya menggandeng tangan Andina menuju pintu kamar untuk keluar.


"Jangan lupa nanti malam ya...!" Arya mengedipkan matanya. "Iya sayang...." jawab Andina lembut.


Arya langsung menghentikan langkahnya. "Aku suka mendengarnya. Sekali lagi dong...yank !"


"Iya SAYANG...." Andina menekankan kata nya. Senyum manisnya tersungging.


"Gimana gak betah di rumah coba....lihat istri manis seperti ini..." Arya mencubit gemas hidung mancung Andina sampai berbekas merah. Diciumnya lagi bibir Andina sebelum keluar dari kamar.


Andina mengantar Arya sampai teras. Saat mobil yang dibawa Pak Asep sudah tak terlihat, ia masuk. Kembali bergabung dengan keluarga.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2