SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
97. Acara Lamaran (1)


__ADS_3

Hari yang ditunggu kini tiba. Arya, meskipun dirinya sudah berpengalaman, tetap saja gugup dan tegang ada. Padahal baru lamaran, belum nanti kalau pernikahan, apakah akan lebih gugup lagi, pikirnya.


Arya telah selesai melaksanakan Sholat Duhur. Ia lalu memakai kemeja batik tulis premium berwarna cream yang tergantung dihanger dan celana kain hitam. Sambil menghadap cermin, ia rapihkan kembali tampilannya, menambahkan pomade ke rambutnya. Kemeja batik model slimfit berlengan panjang itu, sangat pas melekat ditubuh atletisnya. Menambah kharisma dan ketampanannya.


Arya turun untuk bargabung dengan keluarganya yang sudah menunggu diruang tamu. Ia menghampiri Athaya yang memakai kemeja cream polos dengan dasi kupu-kupu terlihat tampan dan menggemaskan.


"Papi...kata Onty sekalang mau ke lumah Mama ya ?" tanya Athaya.


"Iya sayang. Thaya seneng gak ?"


"Holeee...asyikk ke lumah Mama...Taya kangen Mama Papi..." Athaya berjingkrak senang.


Arya tersenyum melihat anaknya yang senang seperti itu. Diciuminya pipi gembul anaknya itu dengan gemas.

__ADS_1


"Ar, kamu gak kelihatan seperti sudah punya anak. Guantengnya poooll." Pakde mengacungkan 2 jempolnya.


"Haha...Pakde bisa aja..." balas Arya tertawa.


"Ayo semuanya segera masuk ke mobil, disana sudah siap," Ricky datang memberi komando. Ia kebagian tugas mengatur acara dipihak Arya. Mobil patwal sudah siap diposisi, mengawal rombongan keluarga besar Arya yang berjumlah 30 orang dengan memakai 10 mobil.


Arya masuk ke mobil paling depan dibelakang patwal yaitu Alphard hitam bersama kedua orang tuanya. Papa tampak masih gagah diusianya dengan memakai setelan jas. Mama terlihat cantik dan anggun dengan kebaya modern berwarna peach. Untuk rombongan keluarganya memakai drescode warna navy. Athaya ikut satu mobil dengan Onty nya Marisa dan Rendi.


Rombongan mulai melaju meninggalkan komplek.


Andina telah selesai dirias oleh Mua. Ditemani Safa dan Reni dikamarnya, Andina mencoba rilex menepis rasa gugup dan tegang yang menyelimutinya. Betapa tidak, dia tegang membayangkan akan dilamar disaksikan banyak orang.


"Din, kamu sudah dandan cantik dan mangling...jangan tegang begitu...ayo tarik nafas perlahan.." Safa mengarahkan Andina ke cermin agar tahu kalau wajah cantiknya itu menegang.

__ADS_1


Andina mulai menarik nafas lewat hidung perlahan mengeluarkan dari mulut, sampai tiga kali.


"Okay...aku sudah tenang, Fa." Andina tersenyum lebar, sudah berhasil menepis rasa tegangnya.


Ibu masuk ke dalam kamar, "Teh...keluarga Nak Arya sudah sampai, Ibu dan Ayah duluan ke depan ya mau menyambut."


"Iya, Bu," sahut Andina.


Dengan arahan petugas WO dan petugas keamanan, mobil rombongan berjejer rapih diparkiran yang sudah disediakan. Kecuali mobil yang ditumpangi Arya terparkir pas depan halaman rumah. Ada Ayah dan Ibu, Paman dan Bibi, serta tokoh setempat berdiri menyambut kedatangannya.


Semuanya duduk dikursi yang telah disediakan. Undangan dibatasi hanya untuk dua keluarga saja dan tetangga terdekat. Di spot utama, Arya duduk diapit Mama dan Papa. Didepannya juga telah duduk Ibu Desi dan ayah Wahyu, kursi tengahnya masih kosong karena Andina belum hadir. Arya tampak gelisah, berkali-kali menoleh ke arah rumah.


MC tanggap untuk menggoda sang pria. "Wah...Mas Arya sudah panik nih karena tambatan hatinya belum hadir," sontak semua orang ikut terkekeh.

__ADS_1


"Baiklah...mari kita panggilkan calon mempelai wanita yang akan dikhitbah oleh Mas Arya Syahputra. Mbak Andina Ayu Affandi....dipersilahkan masuk, " dengan menggunakan mic nya, bung MC memanggil.


__ADS_2