SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
120. Menggapai Berkah


__ADS_3

Andina perlahan mengerjapkan mata, pahanya terasa berat karena kaki panjang Arya menyilang diatasnya, sementara tangannya memeluk perut. Diliriknya jam dinding yang menempel di tembok sebelah kanan. "Astagfirullah, jam 5 pagi !"


"Mas, bangun...subuh kesiangan Mas..." Andina melepaskan kaki dan tangan Arya dari tubuhnya. Arya menggeliat, memicingkan matanya melihat jam. "Hm, kok bisa kesiangan sih..." gumam Arya dengan suara serak.


"Issh..salah siapa coba...Mas ngajak begadang sampe jam 1. Sampa lupa adek gak dibawa lagi kesini. Mas lihat adek dulu ya...aku mau mandi."


"Iya sayang, aku sekalian mandi di kamar Athaya aja," Arya ikut turun dari ranjang. Sejenak meregangkan otot-otot tanganya dulu sebelum menuju kamar Athaya yang berada disebelah kamarnya.


***


"Sayang, jadi ke ruko hari ini ?" Arya masih duduk di kursinya selesai sarapan.


"Iya Mas, nanti jam 9 ke ruko nya. Aku mau main ke rumah Mama dulu sebelum berangkat."


Arya hanya menganggukkan kepalanya. "Oh ya sayang, uang maharmu masih berupa tabungan. Apa mau beralih menjadi deposito ?"


"Hm, Mas..boleh gak aku alihkan ke Syariah ? Kebetulan Bank nya sama, tapi aku nasabah di syariah. Yang 1 M nya akan aku simpan dalam deposito syariah, sisanya ditabungan mudharabah, boleh ya Mas ?"


"Boleh sayang, itu sudah jadi hakmu. Tapi kenapa mau di Bank syariah ?" Arya merasa penasaran.


"Karena di Bank Syariah akad nya Islami, Mas. Tidak ada bunga alias bersih dari riba. Jadi tiap bulan kita tidak mendapat bunga tapi bagi hasil antara nasabah dan Bank. Besaran bagi hasilnya pun fluktuatif tergantung besarnya keuntungan Bank. Ya....biar lebih berkah aja Mas...meski aku juga belum bisa lepas dari Bank konvensional karena perlu untuk transaksi olshop."


"Wah sayang, aku nggak nyangka pola pikirmu sejauh itu. Istriku hebat !" Arya mengecup pipi Andina yang duduk disisinya.


"Kamu benar sayang, kita harus lebih mementingkan keberkahan. Untung belum tentu berkah, tapi kalau berkah pasti untung. Aku akan bertahap mengalihkan dana ke Syariah juga. Makasih sayang...sudah mengingatkan." Arya memeluk Andina dari samping.


"Iya Mas, semua Bank BUMN dan Bank swasta yang besar sudah memiliki Syariah, jadi kita tinggal mutasi aja, mudah. Nanti aku akan ke Bank dulu sebelum ke ruko. Hanya menghubungi CS aja untuk mutasi," ujar Andina.

__ADS_1


"Maaf Den Arya, kata sopir mobilnya sudah siap," Bi Idah datang dengan menuntun Athaya setelah menemani main sepeda.


"Iya Bi..."


Bi Idah permisi untuk kembali ke dapur.


Ya, mulai hari ini Arya telah menunjuk Pak Asep sopir kantor , menjadi sopir pribadinya.


"Papi...adik Taya mana...?" Athaya menagih janji Papi nya.


"Eh...nanti sabar ya sayang...kan harus ada proses," Arya menatap Andina seolah minta bantuan.


"Taya nda ngerti Papi...," Athaya menatap Papi dengan sorot mata bingung.


"Adek...nanti dede nya akan hadir di perut Mama. Nanti Mama kasih tau kalau dede nya sudah ada ya...sekarang kita main ke Oma dulu yuk...nanti ikut Mama ke ruko..." Athaya menganggukkan kepalanya meski masih terlihat bingung.


"MasyaAllah Mama...cantik sekali mau kemana...?" tanya Andina setelah mengucap salam.


"Din...kemarin-kemarin kan Mama pakai hijab semaunya, kadang asal nempel di kepala. InsyaAllah Mama mulai hari ini sudah mantap berhijab," ujar Mama berbinar, setelah menjawab salam.


"Alhamdulillah...aku turut senang Ma," ucap Andina tulus. Mereka duduk di ruang keluarga.


"Ini berket kamu juga, Andina. Melihatmu berhijab, Mama merasa hati terketuk ingin mengikuti. Makasih ya nak, kamu telah mengantarkan hidayah untuk Mama" Mama memeluk dengan sayang, membuat Andina terharu.


"Adek lihat...Oma cantik ya..." Andina memanggil Athaya yang sedang memainkan robotnya.


Athaya menoleh melihat Oma nya. "Iya Oma syantik sepelti Mama...."

__ADS_1


"Arghh cucu Oma bisa aja...Oma jadi ge er nih," Mama memekik senang.


"Ma...aku kesini cuma nengok aja nggak bisa lama...sekarang mau mulai ke ruko lagi. Oh ya Marisa sama Papa kemana ?"


"Makasih nak, udah perhatiin Mama. Marisa berangkat kuliah, kalau Papa diundang Dinas Pertanian menjadi narasumber acara sharing pengolahan organik."


Andina menganggukkan kepala. Kemudian pamit untuk pergi ke ruko bersama Athaya.


***


Andina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ikut bersamanya Athaya yang duduk tenang di car seat memainkan robotnya.


Tujuan pertamanya adalah menuju Bank, untuk mengalihkan dana ke Syariah. Sekitar 1 jam urusan di CS selesai. Dengan ramah CS mengucapkan salam dan ucapan terima kasih atas kedatangannya.


Andina mendudukkan Athaya kembali di car seat. Tujuan selanjutnya ke ruko.


"Bunda Andin...." Andina yang sudah membuka pintu sisi kemudi menoleh ke kiri kanan mencari sumber suara yang memanggilnya.


"Bunda Andin....aku disini...." teriakan terdengar lagi. Andina menatap ke sebrang jalan, seorang anak perempuan melambaikan tangan. Anak itu berdiri bersama seorang pria tinggi besar yang menuntunnya, tersenyum menatap Andina.


...Bersambung...


*****


Wahhh...Andina, ada masa lalu apa ya ? 🤔🤔🤔


Hm, yang mau info novel kisah Nico, sinopsisnya bisa baca di igeh. @me_ niadar

__ADS_1


c u tomorrow 😍


__ADS_2