SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
67. Obrolan Santai Keluarga


__ADS_3

Keluarga Arya sedang berkumpul menikmati sore diruang keluarga yang luas. Athaya tampak anteng bermain lempar bola dikarpet bersama Onty Marisa. Kondisinya sudah membaik, tinggal masa pemulihan. Arya merebahkan badannya dikarpet yang empuk itu, dekat Athaya.


"Ma, Arya ingin ngasih hadiah sebagai ucapan terima kasih ke Andina, tapi apa ya ? Arya tidak ingin ngasih uang kesannya kayak ngasih upah baby sitter. Arya menganggap Andina sebagai orang spesial untuk Athaya." ujar Arya tampak serius, meminta saran sama Mama.


"Kan aku sudah bilang Kak...kasih mas kawin aja, sekalian bawa ke KUA. Gitu aja kok bingung..." ujar Marisa menimpali tanpa melihat ke arah Arya.


Arya merespon dengan melempar Marisa dengan bantal sofa. "Aww...Mama ih Kak Arya rese," jerit Marisa sambil mengusap-usap kepalanya. Athaya malah terlihat senang, ia tergelak mentertawakan onty nya.


"Tenang-tenang...soal itu biar Mama yang urus. Mama senang kamu ada perhatian seperti itu." Mama tersenyum membayangkan ide yang langsung ada dikepalanya.


"Perhatian yang wajar kan Ma...sudah biasa kan memberi reward kepada orang yang berjasa untuk kita. Memangnya mau ngasih apa Ma, jangan yang aneh-aneh ya Ma.. ?" ujar Arya penasaran.


"Pokoknya barang yang bermanfaat untuknya, nanti Mama kasih tahunya kalau sudah beli aja."

__ADS_1


"Hmm tapi Ma...jangan bilang itu dari Arya ya, takut dia salah faham ntar dikira Arya ada maunya gitu," ujar Arya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada maksud juga nggak apa-apa...Papa dukung kok, dia cocok buat kamu" Papa yang dari tadi fokus nonton tv ikut menimpali.


"Ishh nggak lah Pa...Andina sukanya cuma sama Athaya kok, dia mau berperan sebagai Mama demi Athaya katanya," Arya mencebik bibirnya, wajahnya tampak lesu.


"Anakmu udah jatuh cinta tuh sama dia. Kalau kamu juga suka sama dia, harus sering dekat dengannya biar bisa mencuri hatinya," balas Mama memberi semangat. "Dia cantik lho...Mama yakin pasti banyak yang naksir."


"Arya nggak percaya diri Ma...dia kan gadis pasti lebih memilih yang bujang."


"Itu kan hanya perasaanmu saja...kamu tuh harus berjuang kalau suka, waktu di rumah sakit kamu tuh kurang perhatian, sikapmu terlalu lempeng dan dingin, masa Mama kasih kesempatan makan bareng aja kamu kaku, banyak diemnya " Mama ikut menimpali, mengingatkan Arya.


Ternyata oh ternyata Mama benar-benar memata-matai.

__ADS_1


"Makanya Ma...Kakak tuh jangan sering disuruh ambil minuman dikulkas," celetuk Marisa dengan wajah datar.


"Hah...apa maksud dan hubungannya ?" Arya membalikkan badan menghadap Marisa, keningnya memgkerut.


"Dikulkas kan ada freezer, lama-lama hati Kak Arya nanti bisa beku." Marisa menjulurkan lidah mengejek kakaknya.


Arya langsung mendekati Marisa dan memiting lehernya diketiak. " Arghh ampun Kak ampun..., Mama toloooong..." Marisa berteriak-teriak. Athaya yang melihat itu semakin tertawa-tawa merasa lucu, dia malah tepuk tangan.


Mama dan Papa hanya menghela nafas dalam, sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd kedua anaknya itu.


****


Dengan berbagai pertimbangan, othor memilih menghapus visual para pemain, menjaga agar tidak ambyar dibenak para pembaca jika ternyata tidak cocok. So, silahkan berimaji sendiri membayangkan tokohnya ya.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya dengan Like dan Vote ya say 😍


__ADS_2