
Tok tok tok
Pintu ruang perawatan Athaya ada yang mengetuk. Mama dan Papa sedang ke kantin untuk makan siang, Marisa pun belum kembali dari sejak tadi pamit ke kantin. Hanya ada Arya yang menunggu anaknya.
Arya menoleh ke arah pintu, dahinya mengkerut heran dengan siapa yang datang. Pintunya ada kaca kecil yang bening tapi tidak terlihat wajah orang yang mengetuk pintu. Kalau itu keluarganya pasti akan langsung masuk. Bergegas Arya melangkah ke arah pintu. Membukanya..
Deg. Dirinya terpaku sesaat, melihat seulas senyum yang menampilkan lesung pipit diwajah cantiknya. Oh manisnya....pujinya dalam hati.
"Assalamualaikum Pak Arya," Andina menyapa masih dengan tersenyumnya.
"Eh Wa...Waalaikumsalam," Arya tersadar, sedikit gugup menjawab salamnya.
"Saya dapat kabar dari Marisa kalau Athaya sakit, boleh saya nengok Pak ?"
"Hai Din...sudah datang ?" Andina menoleh ke samping, ada Marisa berjalan mendekat ke arahnya. "Kenapa berdiri disini, ayo masuk..." Marisa menarik tangan Andina melewati tubuh Arya yang masih berdiri memegang handle pintu.
Andina menganggukkan kepalanya saat melewati Arya merasa tidak enak langsung menyelonong masuk. Arya faham, ia balas menganggukkan kepalanya.
Mereka bertiga mendekati ranjang Athaya yang sedang tertidur. Andina terenyuh melihat kondisi Athaya yang terbaring lemah, ia menyentuh jari tangan mungil dan mengusap pelan telapak tangan anak itu. Mata Athaya mengerjap terbuka, "Mama..." dengan lirih dan mata berbinar ia memanggil Andina.
__ADS_1
Deg. Mama...? kening Andina mengkerut, terkejut. "Hai adek...ini kaka datang...mana yang sakit hmm ? dengan lembut Andina mengusap keringat dikening Athaya.
Athaya berusaha untuk bangun ingin memeluk Andina. "Eits adek jangan bangun dulu...." Andina menahan bahu Athaya agar tetap berbaring. "Mama...peyuk hiks.." rengek Athaya manja.
"Kok aku dipanggil mama sih" (batin Andina heran)
"Ehem Din...nggak apa-apa ya untuk saat ini kamu dipanggil Mama oleh Athaya,ikut maunya dia, kata dokter itu bisa membantu mempercepat kesembuhannya," jelas Marisa seolah mengerti kebingungan Andina.
"Sa...kapan Rendi bilang begitu ?" Arya memicingkan matanya.
"Tadi Kak...saat makan dikantin aku ngasih tahu kalau Athaya ngigau terus manggil Mama Thaya..." jelas Marisa.
"Eh...gimana ini ?" Andina memandang Arya dan Marisa seolah minta pendapat.
"Ehm naik aja ke atas ranjang Din...maaf ya jadi merepotkanmu," ujar Arya merasa nggak enak.
"Nggak apa-apa kok Pak..." Andina naik ke ranjang, lalu posisikan tidur menyamping memeluk Athaya. Anak itu tampak berbinar, ia mendusel dusel wajah ke dada Andina mencari kenyamanan. Andina menahan tangan kanan Athaya karena infusannya ketarik-tarik.
Marisa memberi isyarat mata ke Arya untuk pergi agar Andina tidak canggung. Mereka berjalan menuju sofa, duduk disana.
__ADS_1
"Ma...ini tatit...ini tatit.." Athaya menunjuk ke arah tenggorokan dan perutnya. "Sabar ya dek...om dokter kan udah ngasih obat...sebentar lagi sakitnya hilang," hibir Andina sambil membelai sayang kepala Athaya.
Mama Papa dan dokter Rendi berbarengan masuk, mereka melihat pemandangan diatas ranjang pasien nampak tersenyum bahagia. Saat Mama Papa diluar tadi, Marisa sudah menceritakan semuanya.
"Wah..jagoan Om lagi sama siapa sih ?" Rendi menggoda Athaya yang nempel rapat dibadan Andina.
"Ini Mama Thaya Om..." jawab Athaya.
Rendi tersenyum simpul mendengar jawaban keponakannya itu. Malah Andina tampak malu dengan situasi itu.
"Sebentar Om periksa dulu ya.."
...BERSAMBUNG...
***********************
Jangan lupa dukung Author dengan LIKE
Beri juga poinnya dengan VOTE
__ADS_1
Laf u all 😍