
"Aku pilih Mas aja ya, Mas Arya..." ujar Andina tersenyum malu.
"Sebentar..!" Arya menegakkan punggungnya, duduk menghadap kedepan ke arah kolam renang.
"Ayo ulangi lagi, Din," ujar Arya dengan memejamkan kedua matanya.
Andina mengernyit, memperhatikan tingkah Arya yang dirasanya aneh. "Mas Arya..." ujarnya, mengikuti perintah Arya.
"Ulangi sekali lagi, Din," ujar Arya masih dengan memejamkan matanya.
"Mas Arya...." lirih Andina.
Arya membuka matanya, menoleh kesampingnya, tersenyum menatap Andina yang duduk diujung bangku.
"Tahu nggak, kenapa aku pejamkan mata ?" tanya Arya. Andina hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku sedang meresapi lirih suaramu, jadi teringat suara seseorang yang bernyanyi. Kamu kah tadi yang menyanyikan lagu 'Dia' ?" tanya Arya.
"Hehe...iya, itu aku. Jelek ya ?" ujar Andina terkekeh.
"Siapa bilang ? Justru aku terpesona. Aku tadi mendengar pas baru datang."
"Sekarang nyanyikan sedikit untukku ya ?" pinta Arya.
"Ah nggak ah...aku malu," Andina memalingkan wajahnya yang merona.
"Please, Din. Dikit aja deh part depannya ya ya... Aku lagi menyukai lagu itu baru-baru ini," ujar Arya dengan wajah memelas.
"Oke deh, tapi dikit aja ya." Andina menarik nafas, memandang lurus kedepan, menetralkan jantungnya yang bertalu melihat ekspresi melas pria tampan disampingnya.
Disuatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka
K**embali mengenal cinta
__ADS_1
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
Semua itu karna dia
Tanpa disadarinya , Arya merekamnya.
"Makasih ya, aku sangat menyukainya," ujar Arya tersenyum lebar menatap Andina.
(Ayo dong, tanyakan lagu itu buat siapa.)
" Mas Arya ternyata suka juga yang melow-melow, kirain sukanya genre rock, regge," Andina terkekeh.
(Bilang dong lagu itu untuk siapa. Kenapa aku berharap lagu itu ditujukan untukku.)
"Aku nggak punya idola tertentu, yang penting easy listening," jawab Arya. Hening, keduanya malah sibuk dengan perbincangam hati, saling menerka.
Suara nada dering dari hape Andina membuyarkan keduanya. Dilihatnya ada panggilan dari Safa.
"Astagfirullah...aku kelamaan pergi. Pasti Safa mencariku," ujar Andina. Ia lalu mengangkat hape nya, rupanya Safa mencarinya, mengajaknya pulang dan janjian bertemu dilobi.
"Mas Arya, aku duluan ya. Safa sudah menunggu, pamit Andina sambil berdiri merapihkan gaunnya.
"Aku antar ya pulangnya ? tawar Arya, ikut bangkit dari duduknya. "Nggak usah Mas, aku pulang bareng Safa dan Kak Dino lagi," tolak Andina.
"Hmm...baiklah. Ayo kita bareng ke dalam. Eh, tunggu !" tangan kiri Arya menahan lengan Andina, tangan kanannya terulur menyentuh bahu Andina, menepuknya perlahan. "Ini ada ada daun nempel," Arya memperlihatkan daun kering ditangannya.
Andina terpaku sesaat saat Arya meyentuh bahunya, ada desiran halus mengalir ke dada.
Oh, kirain...(batinnya)
Satu tangan Arya masih memegang lengan Andina. Ia menatap wajah Andina, netranya menatap lekat mata Andina yang bening dan menyejukkan. "Andina...kamu cantik sekali malam ini, terima kasih untuk waktunya" ujar Arya tersenyum tulus dengan pancaran wajah penuh binar bahagia.
"Mas Arya, bisa aja...," wajah Andina langsung merona, ia memalingkan wajahnya karena kembali jantungnya berdetak kencang.
(Kumohon, wajah ini jangan merona untuk orang lain. Aku nggak rela !) batin Arya.
__ADS_1
"Eh, ya udah masuk yuk," Arya mencoba mencairkan suasana karena jantungnnya juga berdegup kencang. Mereka melangkah masuk lewat pintu samping yang tadi dilalui, dan berpisah didepan lift.
*****
"Din, kamu dari mana sih ? Aku nyusul ke toilet nggak ada," Safa tampak cemberut menyambut Andina. " Hehe...sorry beb, aku tadi kebelet pipis tapi toilet penuh, terus aku nyari ke lantai 2 deh, lalu cari angin dulu ke luar, disamping yang ada kolam renang" jelas Andina tanpa memberitahu kalau dirinya ngobrol dengan Arya.
"Kita pulang sekarang ?" tanya Dino yang baru berpamitan dengan teman-temannya, datang menghampiri mereka. Keduanya mengangguk bersamaan.
*****
"Kamu dari mana, Ar ? Aku teleponin nggak diangkat," ujar Mauren menyongsong Arya yang baru masuk ke restauran. "Sorry, tadi keluar dulu ketemu klien dibawah," jawab Arya sambil melenggang menuju meja hidangan karena perutnya merasa lapar.
Ia lalu bergabung dengan tiga sahabatnya yang sedang tertawa-tawa menanggapi obrolan teman sekelasnya yang menceritakan saat dulu sering menjahili guru matematika yang killer.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, acara reuni berakhir. Semuanya berpisah meski masih merasa betah. Mereka saling bertukar nomer hape dan sepakat untuk membuat grup chat.
Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan kota mulai lengang karena hari sudah malam. Wajahnya tampak sumringah, sekali-kali sudut bibirnya tertarik. Saat lampu merah menyala, diraihnya hape yang tergeletak didashboard. Ia mengetikkan sesuatu, "Sudah sampe ?". Hampir 1 menit menunggu, bunyi notif terdengar.
"Sudah"
Arya tersenyum, lalu kembali mengetikkan pesan.
"Have a nice dream 😊"
Tring. Kembali notif terdengar.
"😊"
Arya melajukan kembali mobilnya saat lampu lalu lintas menyala hijau. Malam ini indah, batinnya.
********
Awassss bacanya jangan senyam senyum !
Cukup akoh aja yang ngetiknya senyam senyum sendiiri.
__ADS_1
Sedekah poinnya jangan lupa ya say.... 😍