SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
74. Pesta Malam Minggu (2)


__ADS_3

Arya PoV


Tiba di lobby aku melangkah masuk kedalam mencari arah restauran tempat acara reuni diadakan. Sepanjang jalan dekat Ballroom tampak berjejer rapi papan bunga ucapan happy wedding. Tamu tampak antri masuk ke dalam ballroom, sekilas kulihat dekorasinya yang mewah. Tapi tunggu, langkahku terhenti mendengar suara wanita bernyanyi rasanya familiar. Suaranya sangat merdu dan begitu menghayati lagunya. Itu lagu Dia-Anji, lagu yang baru-baru ini sering aku dengarkan saat di mobil. Liriknya seperti mewakili perasaanku. Aku nggak bisa melihat siapa yang bernyanyi karena posisinya jauh terhalang dekorasi bunga-bunha. Sementara aku ada didepan pintu masuk, dekat meja tamu.


Suara dering hape membuyarkan fokusku. Rendi dan yang lainnya sudah ada dilokasi, dilantai 2. Ya sudah, aku lanjut naik lift menuju lantai 2.


"Arya...what's up bro...!" teman-teman kelasku menyambutku dengan gembira, kami saling berpelukan. Banyak juga yang hadir sekitar 60 orang, teman satu angkatan dari beberapa kelas. Ternyata aku datang paling akhir.


"Ar, akhirnya kamu datang juga," Mauren tiba-tiba datang dan memelukku. Aku terkejut dengan tindakannya yang mendadak itu. Teman-teman yang lain datang mendekatiku, kita mengobrol mengenang masa-masa SMA, mengobrol soal pekerjaan, banyak hal pokoknya yang jadi bahan obrolan.


Obrolan terhenti saat MC memberi kesempatan ketua panitia untuk memberikan sambutan. Mauren maju memberikan sambutan dan ucapan terima kasih untuk kami yang sudah hadir. Saatnya yang ditunggu, acara hiburan. Band lokal memberikan persembahan lagu yang disambut antusias tamu yang hadir. Si Ricky dan Willi tampak jingkrak-jingkrak mengikuti irama, ada juga yang ikut bernyanyi.


Udara diruangan terasa panas karena hentakkan musik dan orang-orang yang berpesta. Aku duduk dikursi dekat kaca menonton teman-teman yang tampak bergembira. Sudut mataku menangkap siluet seseorang yang ku kenal, aku menoleh ke arah kaca untuk memastikan lagi. Ya benar, ini nyata, itu Andina. Aku memperhatikan dia masuk ke dalam toilet. Ah, aku akan menunggunya.


*****


Andina PoV


Lega rasanya dada ini setelah selesai bernyanyi. Aku duduk kembali ditempat Safa sambil meminum segelas minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokanku yang kering. Si Aris masih saja ngintilin kami, dia ikut gabung duduk disini. Aku pamit dulu mau ke toilet, ternyata toilet diruangan ini penuh. Aku yang sudah kebelet ingin pipis bertanya kepada petugas dimana lagi yang ada toilet. Aku diarahkan untuk ke lantai 2, ada toilet dekat restauran.

__ADS_1


Setelah keluar dari lift, aku buru-buru menuju toilet. Perut rasanya plong, aku sekalian merapihkan make up ku agar tetap terlihat segar. Saat keluar dari pintu, aku terkejut. Ada Pak Arya berdiri menatapku.


******


Author PoV


"Andina ?" Arya memandang wanita didepannya dari atas sampai bawah. Netranya mengunci tepat diwajah Andina. Arya tampak terpesona, menatapnya tampak berkedip. "Ya Tuhan, cantik sekali," hatinya bergumam.


"Pak Arya kok bisa ketemu disini ? tanya Andina yang langsung menyadarkan Arya dari keterpesonaannya. "Eh ya ya...lagi ada reuni SMA disini," ujar Arya menunjuk ke restauran.


"Kalau kamu, hmmm sepertinya menghadiri wedding ya ?" tebak Arya yang mendapat anggukan Andina. "Iya, nikahan ketua BEM ku dulu."


"Hmm boleh deh...saya juga gerah didalam," sahut Andina sambil tersenyum. Mereka lalu menuju lift ke lantai bawah.


Sepoi angin malam dan riak air kolam memberikan hawa sejuk disekitarnya. Mereka duduk dibangku yang sama memandang riak air yang timbul tenggelam tersapu angin. Ada beberapa orang yang juga duduk santai disana, mereka rata-rata berpasangan.


"Enakan disini ya adem daripada tadi didalam," Arya mulai membuka percakapan.


"Iya pak, disini cocok untuk semedi," ujar Andina sambil terkekeh mencairkan suasana.

__ADS_1


"Din, jangan terlalu formal dong. Jangan panggil lagi Pak ya, aku ingin kita lebih frendly," pinta Arya.


Andina menolehkan wajahnya menatap Arya. "Aku harus panggil apa dong ?"


"Hmm...ada 2 pilihan. Papa kan asli Bandung, kalau Mama asli Jogja. Berarti pilih Aa atau Mas ?" ujar Arya sambil tersenyum jenaka.


"Hmm pilih apa ya ?" Andina mengetuk-ngetuk telunjuknya ke pelipis, bibirnya dimanyunkan, seolah sedang berpikir keras.


"Cckk..mikirnya kayak mau jawab soal ujian aja," Arya tampak gemas melihat mimik muka Andina, spontan tangan Arya mengusap kepalanya.


"Aku pilih.....


*****


Aku pilih tidur dulu ya say...mataku sudah berat.


Maafkan bapernya tergantung lagi.


sampai besok lagiiii bye 😘

__ADS_1


__ADS_2