
Kembali tinggal dirumah ini, yaitu rumah kedua orangtuanya membuat Arya merasakan kembali ketenangan dan kenyamanan sebuah keluarga. Sejak memutuskan keluar dari rumah yang dulu ditempatinya bersama Vita, kini ia sudah 5 bulan tinggal kembali disini, menempati kembali kamarnya yang dulu.
"Ma Pa...nggak apa-apa kalau Arya tinggal lagi disini...Arya bukannya nggak mampu beli lagi rumah tapi nanti Athaya siapa yang jaga," Arya membuka percakapan saat semua berkumpul dimeja makan untuk sarapan pagi.
"Kamu kok ngomongnya gitu nak...tentu mama senang, rumah jadi rame lagi malah lebih rame dengan adanya cucu oma ini," Mama Rita menjawil pipi Athaya yang sedang asyik memakan roti.
"Mama berharap kamu segera mencari pendamping lagi Ar...yang bisa menyayangi Athaya, dia butuh kasih sayang yang lengkap, butuh sosok seorang ibu."
"Untuk saat ini Arya belum kepikiran ma...kegagalan kemarin jadi bikin Arya selektif mencari pendamping lagi" ujar Arya.
"Kakak sih...tadinya dibutakan cinta jadinya terperosok got," Marisa ikut menimpali.
"Diam kau...tahu apa anak kecil soal cinta," sentak Arya melotot ke arah Marisa yang dibalas Marisa dengan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Sudah-sudah...lagi makan malah ribut," Papa menengahi perdebatan kedua anaknya.
"Gimana keadaan di perusahaan..gak ada masalah kan ?" tanya Papa.
"Alhamdulillah Pa...semua aman terkendali. Laporan dari semua cabang juga bagus. Hanya pabrik sepertinya harus meningkatkan lagi produksi, beberapa supermarket complain telatnya pasokan barang," jelas Arya.
"Kamu harus bisa tangani itu..kalau perlu tambah SDM atau mesin-mesin produksi, kamu harus lebih tahu kebutuhan lapangan," ujar Papa mengingatkan.
"Iya Pa...Arya sudah koordinasi sama Ricky untuk mengurusnya. Arya berangkat dulu Ma Pa..." Arya bangkit dari duduknya selesai mengakhiri sarapannya. "Sayang...papi kerja dulu ya...jangan nakal sama Oma, oke..." Arya mencium kedua pipi anaknya dan mencium tangan Mama dan Papa.
"Waalaikumsalam..." serempak dijawab oleh Mama Papa dan Marisa.
"Ma...apa rencana hari ini ?" tanya Marisa setelah melihat kakaknya sudah melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Rencana apa ?" Mama pura-pura tidak mengerti arah pertanyaan Marisa.
"Alah si Mama pura-pura aja...," Marisa mencebikkan bibirnya.
"Ada apa sih...kalian main rahasia-rahasiaan sama Papa ?" Papa memicingkan matanya menatap bergantian ke arah Mama dan Marisa.
"Gini Pa...Mama dan Marisa punya misi untuk lebih mendekatkan cucu kita dan Andina, setelah cucu kita nempel sama Andina tinggal misi ke 2 mendekatkan Arya sama Andina.." Mama menjelaskan setengah berbisik seolah takut ada mata-mata yang mendengar.
"Mama...apa nggak berlebihan mengatur kehidupan pribadi anak kita ?"
"Pa...InsyaAllah Mama tahu yang terbaik untuk anak-anak. Kemarin Mama sudah mengalah mengikuti pilihan Arya, Papa kan tahu sendiri kalau Mama kurang sreg sama Vita tapi Arya keukeuh, itu sudah pilihan terbaik katanya, terpaksa Mama setuju. Nah sekarang lihat kan akibatnya." Mama dengan lantang menyuarakan uneg-unegnya.
"Baiklah...Papa percayakan sama Mama. Dan Marisa...kalau kamu punya pacar harus bilang sama Papa, bawa dia ke rumah, awas jangan ngumpet-ngumpet," ujar Papa mengultimatum anak bungsunya.
__ADS_1
"Isshh nggak dong Pa...mana berani lah. Aku belum punya pacar kan kata Mama fokus kuliah dulu sampe wisuda. Bisa di krek sama Mama," ujar Vita sambil mempraktekan tangannya ke depan leher.
...BERSAMBUNG...