SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
179. Ada Apa Dengan Athaya?


__ADS_3

Arya menghampiri Andina di walk in closet yang tengah memilihkan pakaian untuknya. Besok ia dan Ricky akan melakukan kunjungan kerja ke Jakarta, Surabaya lanjut ke Yogyakarta. Sengaja tanpa mengkonfirmasi kepada pimpinan cabang baik Jakarya, Surabaya maupun Yogyakarta. Sebab Arya tak ingin hanya membaca dari laporan tertulis. Ia selalu ingin terjun langsung melihat fakta di lapangan untuk sidak kinerja manajemen cabang.


Arya memeluk Andina dari belakang. Menyimpan dagu di bahu istrinya itu. "Kalau nggak ada masalah, 4 hari juga selesai. Aku cuma sidak aja." Tanpa ditanya, Arya menjelaskan dengan intonasi yang terpaksa. Tentu saja, apalagi alasannya kalau bukan karena enggan jauh-jauh dari istri tercintanya itu.


Namun kemudian pelukannya terlepas sebab Andina beralih menuju koper yang sudah terbuka, lalu menyusun semua pakaian yang akan dibawa.


Arya mendekat dan menarik Andina untuk duduk di pangkuannya.


"Ih lepas dulu ah. Aku belum selesai." Andina mencoba membuka belitan tangan Arya di perutnya. Namun terkunci.


"Papi, aku selesaikan dulu packing ya. Baru nanti ngobrol." Andina harus mengeluarkan jurus merayu Arya dengan menangkup wajah suaminya itu lalu memberikan kecupan di mata, hidung, pipi, terakhir di bibir.


Berhasil. Belitan di perutnya terlepas usai diberi jurus jitu. Andina beranjak dari pangkuan Arya lalu memasukkan peralatan mandi dan parfum ke dalam koper. Meski di hotel tentu saja tersedia peralatan mandi, namum Arya lebih suka membawa peralatan mandi pribadi sebab fanatik dengan merk dan aroma khasnya.


"Besok berangkat jam berapa?" Andina duduk di tepi ranjang dimana Arya sedang merebahkan badan dengan kedua tengan merenggang terbuka.


Arya menepuk lengan kanannya. Meminta Andina tidur di lengannya. Ia pun menyambut dengan melingkarkan tangan dan kaki di tubuh sang istri yang kini merebahkan kepala di lengannya.


"Berangkat jam 9, sayang." Arya menyesap leher jenjang yang menguarkan keharuman lembut. "Bekalnya 2 kali ya, malam ini sama besok pagi." Bisiknya berbicara di balik leher yang membuat Andina menggelinjang geli.


"Rakus amat ih." Andina yang terkurung dalam belitan tangan dan kaki Arya hanya bisa menggeleng.


"Kalau suami udah jarang meminta sama istrinya patut dicurigai dia punya 'mainan' di luar." Arya menggigit gemas daun telinga Andina sehingga yang empunya mendesah.


"Amit-amit deh. Awas papi kalau berani gitu!" Andina menjauhkan kepalanya dengan bibir memberengut.


Menjadi kesempatan buat Arya yang tidak menyia-nyiakan bibir manyun itu. Namun ketukan keras di pintu membuat Arya terjeda mema gut bibir yang manis dan candu itu.


"Mama...Papi....ini Lala."


"Ma...buka Ma..."


"Papi...Lala mau masuk."


Gedoran keras kedua kalinya terdengar, tampak tak sabar. Diiringi teriakan si princess yang nyaring. Andina memang mengajarkan anak-anak mengetuk pintu sebelum masuk ke kamar. Termasuk ia pun selalu mencontohkan mengetuk pintu jika mau masuk ke kamar Athaya dan Lala.


"Ma...Lala boleh masuk ya, plis!"


Andina terkekeh melihat Arya yang menelungkup dengan nafas turun naik. Gairah yang baru saja naik harus diredam gara-gara gangguan si ceriwis.


"Masuk, sayang...." Andina balas berteriak usai merapihkan rambut dan pakaian atas yang 2 kancingnya terbuka sebab ulah Arya.


Lala mendorong pintu lalu masuk dengan senyum malu-malu dan tangan menutup mulut.


"Ada apa nih. Kok senyum-senyum gitu." Andina menatap curiga tingkah Lala yang kini membelakanginya sambil cekikikan.


"Ma, Lala udah mandi."


"Lala emang anak pinter." Andina sengaja memberi pujian sebagai apresiasi. Ia menunggu kelanjutan ucapan Lala yang tambah membuatnya curiga sebab masih berdiri membelakanginya.


Arya yang terbangun, mendekati Andina yang duduk di tepi ranjang, tengah memperhatikan gerak gerik Lala.


"Kalau bicara nggak boleh membelakangi. Tidak sopan, sayang." Arya yang duduk merangkum bahu Andina, memberi teguran kepada si ceriwis.


"Lala malu, Papi. Hihihi..."


Jawaban centil Lala sambil memilin-milin ujung baju membuat Arya dan Andina saling pandang. Dengan kode anggukan, Arya perlahan berjalan melewati si ceriwis itu.

__ADS_1


"Ya Allah! Anak siapa ini---" Arya geleng-geleng kepala namun berujung tertawa. Membuat Andina penasaran untuk ikut beranjak ke depan Lala.


Andina menepuk kening melihat bibir Lala belepotan lipcream merah sampai menempel ke gigi. Yang bersangkutan malah cekikikan dan beralih menggelayut ke lengan Papi Arya.


"Lala masih kecil. Belum boleh pakai lipcream." Andina mengusap bibir Lala menggunakan tisu yang ditetesi baby oil.


"Kan Lala pengen cantik kayak Mama." Ujarnya membela diri. Dari pantulan kaca rias terlihat sang mama mengambil lembar tisu kedua untuk membersihkan sisa lipcream di dagu dan tangannya bekas membekap mulut.


"Begini udah cantik." Andina menatap Lala dari pantulan cermin yang kembali bersih. "Apalagi kalau tersenyum, tambah cantik deh."


Arya tersenyum menyaksikan interaksi ibu dan anak di depan meja rias itu. Ia telah bersiap pergi ke masjid bersamaan dengan adzan magrib berkumandang.


"Selama Papi nggak ada, Kakak harus jagain mama sama adek-adek." Arya merangkum bahu Athaya pulang shalat isya berjamaah di masjid. Keduanya berjalan kaki menuju rumah. "Laki-laki itu harus bisa melindungi. Kakak harus belajar itu." Pungkasnya sambil menepuk bahu anak pertamanya itu.


"Siap, Pi."


****


Sudah 2 hari Arya pergi ke luar kota. Andina tetap dengan rutinitasnya pergi ke kantor, membimbing Athaya dan Lala mengaji usai magrib dilanjutkan dengan belajar. Apalagi Athaya yang semakin dekat dengan waktu lomba, ia dengan sabar melatih kecakapan si sulung yang masih ada PR dalam hal durasi yang masih melawati batas 10 menit. Arya tak luput menyaksikan kegiatan malam anak dan istrinya melalui video call, apalagi Lala yang selalu ingin diperhatikan papinya itu selama belajar sampai selesai.


Namun siang ini kabar tak diduga datang dari sekolah. Bu Puspa mengabari jika Athaya mengundurkan diri dari perlombaan.


"Saya tanya alasannya, Athaya hanya menggeleng."


"Maaf bu Andina, apakah Athaya ada masalah di rumah?"


Andina berdiri, berjalan ke depan mejanya dengan kedua alis bertaut dan ponsel yang menempel di telinga. Membuat Safa yang berada di mejanya mendongak melihat Andina yang tampak gelisah berjalan ke sana ke mari.


"Tidak ada, bu Puspa. Tidak ada masalah di rumah."Jawab Andina dengan yakin.


"Saya belum lapor ke kepala sekolah soal ini. Barangkali bu Andina bisa membujuk Athaya di rumah."


Harap sang wali kelas dari sebrang sana. Yang kemudian disanggupi Andina untuk membujuk lagi Athaya sepulah sekolah.


"Ada apa, beb?" Safa tak bisa lagi menahan rasa keingintahuannya usai Andina menutup panggilan telepon.


"Athaya mengundurkan diri dari lomba." Andina berpindah duduk di sofa masih dengan raut keheranan. "Padahal semalam sudah berlatih. Malah udah sempurna menurutku."


"Alasannya apa katanya?"


Andina menggeleng. "Gurunya juga heran. Athaya bungkam saat ditanya."


"Menurutku jangan langsung ditanya pas pulang sekolah, beb."


"Takutnya lagi bad mood. Nanti aja malam pas santai."


Andina mengangguk setuju.


Sorenya ia menjemput Athaya dan Lala ke sekolah. Ia memang menyaksikan ada perubahan dari sikap si sulung yang menjadi pendiam dan lesu. Sepanjang jalan pulang pun hanya Lala yang tetap riang seperti biasanya.


"Kakak sakit?" Andina menoleh ke belakang melihat Athaya yang menyandarkan kepala, menjadikan tas sebagai bantal.


"Hah, kakak sakit?! Coba Lala pegang." Lala menggeser duduknya mendekati Athaya untuk meraba kening. "Nggak panas kok, Ma."


"Siapa yang sakit. Cuma ngantuk." Athaya memiringkan badan ke arah kaca jendela mobil.


Andina semakin yakin jika Athaya sedang ada masalah. Ia sangat tahu watak masing-masing anak yang berbeda-beda. Dan Athaya jika sedang bad mood, dia cenderung menjadi pendiam.

__ADS_1


"Kak, mama boleh masuk?" Andina mengetuk pintu kamar Athaya. Usai mengaji dan makan malam dengan cepat, si sulung beranjak lebih dulu naik ke atas. Dengan dalih mau belajar sendiri di kamar. Padahal biasanya belajar bersama dengan Lala di ruang keluarga.


"Kak...." Andina mengetuk pintu untuk kedua kalinya.


Terlihat handle pintu diputar dari dalam dan pintu terbuka sedikit tanpa ada orangnya yang keluar. Andina perlahan mendorong pintu dan menyaksikan Athaya yang baru duduk di depan meja belajarnya.


"Lagi ada PR apa?" Andina mendekat. Melihat buku-bukunyang terbuka di meja.


"Nggak ada PR. Cuma menghafal aja. Udah beres." Athaya menjawab tanpa menengok sedikitpun ke arah mama Andin. Memilih menyibukkan diri dengan menutup buku dan merapihkannya di sisi meja.


"Kalau udah selesai belajarnya, mama mau bicara sama kakak."


Andina menatap Athaya yang duduk bersisian di tepi ranjang sambil menunduk memeluk guling.


"Bu Puspa tadi telepon Mama, katanya kakak mengundurkan diri nggak jadi ikut lomba."


"Apa benar, Kak?"


Tanpa diduga Athaya mengngguk cepat. "Aku nggak mau ikut lomba. Jenuh, Ma."


"Kakak liat Mama." Andina memutar bahu Athaya agar menghadap dan menatapnya. Ia menelisik ke balik dua bola mat yang kini sama-sama saling menatap. "Jujur sama Mama, ada apa sayang?" Ia dapat menyaksikan sepasang mata bening itu sedikit berkaca berkat ucapan lembut yang menyentuh hati.


"Aku nggak mau ikut lomba. Mama jangan maksa." Buliran air bening pun jatuh membasahi kedua pipi Athaya yang kini terisak.


"Mama nggak pernah lho, Kak." Andina menyeka sudut mata dan pipi Athaya yang basah. "Kan kakak sendiri yang suka dengan mendongeng, dan Mama dukung bakat kakak."


"Tapi sekarang aku nggak mau ikut lomba. TITIK."


Ucapan Athaya yang bernada tinggi membuat Andina tersentak. Merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Athaya yang biasanya selalu lembut dan manja padanya.


Alhasil semalaman ini Andina tidur gelisah. Perubahan sikap Athaya tampak jelas. Biasanya membahasakan diri 'Kakak' kini berubah menjadi 'aku'. Belum lagi sikap diam dan marahnya. Ia tidak berhasil mengorek masalah apa sebenarnya yang menimpa Athaya. Ia belum sempat berkomunikasi dengan Arya sebab pada saat video call yang diterima Lala dan Al, ia masih di kamar Athaya.


Pagi hari ia menyempatkan menelpon Arya. "Papi, kapan pulang?"


"Kenapa sayang, udah malarindu ya." Jawaban genit dari sebrang sana yang kemudian merubah panggilan menjadi video call.


"Kok pucat, sayang?"


"Semalam nggak bisa tidur. Nggak ada yang meluk." jawab Andina tampak lesu menatap seraut wajah segar yang tampil di layar.


Arya memajukan bibir, memberi kecupan diiringi senyuman merekah dengan latar kamar hotel nuansa pastel. "Aku juga kangen istri cantikku." Arya menatap penuh kehangatan. "Siang ini mau lanjut ke Jogja, InsyaAllah lusa pulang."


"Aku tunggu di rumah. Miss you, Papi." Andina menyentuh layar, menelusuri raut wajah yang sosoknya sangat dibutuhkan saat ini. Namun ia menahan diri untuk mengeluhkan masalah yang terjadi di rumah. Ia akan berusaha selesaikan sendiri dengan berangkat ke sekolah pagi ini.


"Miss you like crazy, baby." Arya memberikan kissbye, menutup komunikasi pagi ini.


****


Mon maaf ya readers tersayang, bonchapnya telat. 😁. Coz waktunya harus dibagi-bagi.


Dan rencananya bonchap akan berakhir sekitar 3 bab lagi. Harap sabar menanti sampai benar-benar END. Dan mungkin ada story Athaya dewasa dengan judul baru tapi belum yakin sih. Lihat respon pembaca dulu. Banyak yg bosen apa bnyk yg tertarik. 😃


Sehat dan bahagia selalu utk aemuanya.


Salam


Me Nia

__ADS_1


__ADS_2