
"Din, ada tamu dibawah mencarimu," Safa menemui Andina yang sedang online dimeja kerjanya.
"Siapa, Fa ?" Andina mengernyit.
"Aku juga baru lihat. Dia nggak mau bilang nama, nanti saja katanya langsung kenalan sama kamu. Dia cewek Din, cantik dan seksi pokoknya," jelas Safa.
"Ya udah atuh aku ke bawah dulu...tolong lanjutin balas testimoni ya Fa," Andina menunjuk layar laptonya.
"Siap Bu Arya," Safa terkekeh dan langsung mendapat pukulan dilengannya.
"Ehmm...ada yang bisa saya bantu, mbak ?" tanya Andina tersenyum ramah, ia berdiri dibelakang tamunya yang sedang melihat-lihat sekeliling.
Tamu wanita itu membalikkan badannya. Menatap Andina dari atas sampai bawah, menilai seksama busana tertutup yang dikenakannya nampak anggun dan modis. Berbanding terbalik dengan pakaiannya yang serba minin dan ketat. "Apa kamu yang bernama Andina ?" tanyanya.
"Iya betul saya Andina. Maaf, mbak siapa ?"
"Perkenalkan, namaku Mauren temannya Arya. Lebih tepatnya teman SMA nya," ia tersenyum menjulurkan tangannya menjabat tangan Andina.
"Owh begitu. Hmm lalu ada apa ya ?" Andina mulai merasa tidak enak hati.
"Kalau bisa aku minta waktumu untuk mengobrol, tapi tidak disini. Kamu bisa tentukan tempatnya. Aku ingin bicara mengenai Arya," ujar Mauren.
"Hmm Baiklah, 1 jam lagi jam istirahat. Bagaimana kalau nanti kita janjian di cafe S ?" tawar Andina.
"Ok deal. Sampai ketemu disana, aku permisi dulu." Mauren melangkah menuju pintu. Disaat yang sama Ricky memegang pintu mau masuk ke dalam.
"Mauren, kok kamu bisa ada disini ?" Ricky mengernyit heran.
"Eh Ky....a aku habis ketemu dia," jawabnya dengan gugup, jempolnya menunjuk ke belakang ke arah Andina. "Aku duluan ya Ky, mau ke butik." Dengan tergesa-gesa menuju mobilnya.
"Kak Ricky, tumben kesini ?" tanya Andina, membuyarkan Ricky yang masih tertegun heran menatap ke arah Mauren.
"Oh iya, ini ada titipan dari Arya. Aku mau ke pabrik disuruh mampir dulu kesini," ujar Ricky sambil menyerahkan 1 kantong besar belanjaan berlogo Galaxy.
__ADS_1
"Makasih ya, ayo duduk dulu, Kak."
"Aku nggak bisa lama, Din. Mau lanjut ke pabrik sekarang. Oh ya, Safa nya mana ?" Ricky celingak celinguk.
"Safa ada diatas. Sebentar aku panggilkan ya," Andina mau melangkah menuju tangga.
"Eh nggak usah, Din....aku buru-buru. Salam aja untuk Safa," sahut Ricky. Ia segera pamit pergi setelah melihat jam tangannya.
Andina naik ke atas sambil menenteng kantong belanjaan. " Sudah pulang tamunya ?" tanya Safa.
"Sudah. Dia temannya Mas Arya, ngajak ketemuan nanti di cafe jam istirahat," jawab Andina sambil mengeluarkan isi kantong belanjaan. Ada buah-buahan segar, roti, makanan ringan, juga aneka minuman.
"Dia mau ngebahas apa sampai harus dibicarakan diluar ?" heran Safa.
"Aku juga nggak tahu, sama penasarannya seperti kamu. Kita lihat saja nanti," jawab Andina tenang.
" Betewe, itu kapan belanjanya....banyak amat."
"Ini dari Mas Arya, barusan ada Kak Ricky nganterin. Dia nitip salam sama kamu, Fa. Buru-buru langsung pergi mah ke pabrik katanya."
"Fa....mungkinkah dia itu pangeran kodok yang sedang kau tunggu ?" ujar Andina terkekeh geli.
"Hmm." Safa tetap fokus ke layar laptop dengan jari yang menari diatas tuts keyboard.
****
Mobil Andina tiba diparkiran Cafe. Ia masuk ke dalam sambil mengedarkan pandangan. Tampak seorang wanita melambaikan tangan. Ia pun berjalan ke arahnya.
"Maaf, sudah menunggu lama ya," sahut Andina.
"Tidak juga. Aku baru 5 menit disini. Mau pesan apa ?" Mauren menyodorkan daftar menu.
Andina menuliskan pesanan dan menyerahkannya ke pelayan. Mauren sudah lebih dahulu pesan. "Jadi apa yang mau dibahas, mbak ?" tanya Andina sudah gak sabar.
__ADS_1
"Hmm begini, waktu SMA aku menyukai Arya. Berbagai cara ku lakukan untuk menarik perhatiannya. Tapi nihil, dia sama sekali tidak melirikku. Padahal dia tidak sedang berpacaran dengan siapa pun," Mauren berbicara tenang. Ia mengaduk-aduk minuman dingin yang baru datang.
"Lalu saat kuliah, aku dengar dia berpacaran dengan Vita sampai akhirnya menikahinya. Lalu aku menyerah mundur tidak mengejarnya lagi. Gini-gini juga aku bukanlah tipe pelakor." lanjutnya sambil terkekeh.
Andina diam tidak menanggapi. Ia menunggu Mauren melanjutkan ceritanya.
"Sekarang aku kembali ke Bandung setelah pernikahanku hancur karena orang ketiga. Aku mencoba mendekati lagi Arya karena status kita sudah sama-sama single. Lagi-lagi aku nggak ada tempat dihatinya, dia hanya menganggapku teman tidak lebih." Mauren menyeruput minumannya.
"Makanya aku penasaran dengan sosok perempuan yang sudah mendapatkan hati Arya. Aku lihat, memang kamu sangat pantas untuk Arya," ujar Mauren menatap tajam manik mata Andina.
"Kenapa mbak menilaiku seperti itu ?" Andina yang baru membuka suaranya mengernyit heran.
"Dulu sebenarnya aku tidak setuju Arya menikahi Vita. Aku mengenal Vita lebih lama dibanding Arya. Obsesinya sangat besar untuk menjadi wanita karir. Kesiapan mentalnya untuk menjadi seorang Ibu, tidak ada. Aku ingin memberi tahu Arya tapi takut salah faham. Orang yang sedang dibutakan cinta akan sangat sulit menerima masukan dari luar. Nah, sekarang terbukti pernikahan Arya tak bertahan lama," jelas Mauren.
"Kalau aku lihat kamu beda, meski masih muda tapi pemikirannya dewasa, terlihat keibuan, apalagi kamu sudah mendapatkan hati anaknya dan keluarganya. Arya tipe lelaki yang setia, kamu akan bahagia memilikinya," lanjut Mauren.
"Hmm Mbak Mauren, sepertinya tahu sekali pribadi Mas Arya.."
"Ya ya...nggap saja aku stalker..." Mauren tertawa lepas.
Mereka melanjutkan dengan obrolan santai lainnya sambil makan. Andina membuka hapenya, ada pesan dari Safa kalau Athaya sudah datang.
"Mbak, aku harus pergi sekarang. Athaya sudah diruko bersama Oma nya," Andina bangun dari duduknya.
Mauren memeluk Andina penuh persahabatan. "Andina, semoga kamu berjodoh dengan Arya. Jangan lupa nanti undangannya ya,"
"Mbak juga semoga segera mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi," ujar Andina tersenyum tulus yang diaminkan Mauren.
*****
Terjawab sudah yang tidak ingin ada pelakor. Sammaaa, othor juga ogah, ada pelakor bikin cerita jadi ilfil.
Yang mau ikut nganter lamaran, sabaaaaarrr say.
__ADS_1
Biarkan alur mengalir natural, masa tiba-tiba loncat melamar. Biarkan dulu kita senyam senyum berjamaah...