
Andina tengah berada di ruang kepala sekolah didampingi Bu Puspa sebagai wali kelas Athaya. Ia menyampailan permohonan maaf atas keputusan yang dibuat sang anak, mengundurkan diri sebagai wakil sekolah diajang Lomba Bertutur tingkat nasional.
"Saya pribadi sebagai ibunya juga merasa kaget atas perubahan sikap anak saya sejak kemarin, Pak, Bu." Andina menatap silih berganti, Pak Bagja yang merupakan kepala sekolah juga kepada Bu Puspa. "Saya sudah membujuknya untuk tetap maju, tapi Athaya tetap pengkuh dengan pendiriannya."
"Terus terang Bu Andina, kami sangat terkejut dan menyayangkan mendengar berita ini." Pak Bagja menyampaikan keberatannya dengan sorot kecewa tergambar di matanya. "Athaya sangat berbakat dan kami merasa optimis dia akan lolos sampai grand final. Tapi kalau sudah bulat keputusannya apa boleh buat. Kami harus segera menunjuk pengganti Athaya."
Andina mengangguk. Ia pun kembali mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada sang kepala sekolah. Dan tak lama, ia keluar dari ruangan kepala sekolah bersama wali kelas anaknya itu.
"Bu Puspa, barangkali kemarin ibu melihat Athaya bicara dengan orang yang tak dikenal di lingkungan sekolah?" Andina menolehkan wajah menatap Bu Puspa yang berjalan bersisian menuju kelas. Ia masih menebak-nebak jika ada seseorang yang mempengaruhi pikiran Athaya. Tapi siapa?
"Saya tidak lihat, Bu Andina. Tapi di kelas saya lihat Athaya sering melamun dan menjadi pendiam."
Andina berhenti begitu sampai di ambang pintu kelas. Sempat menatap Athaya yang tengah menekuri buku pelajaran. "Nitip anak saya ya, bu! Kalau ada apa-apa tolong kabari saya."
Bu Puspa mengangguk. "Baik, Bu Andina."
Namun sore hari, Andina yang pulang ke rumah lebih awal dari kantornya, terheran melihat Lala pulang sekolah sendirian.
"Kakak nya mana?" tanya Andina kala si ceriwis menyalaminya.
"Kakak ke rumah temennya dulu. Katanya udah bilang sama Mama." Lapor Lala yang langsung bergabung dengan dedek Al bermain menyusun lego.
Kenapa Athaya berbohong.
Ia berinisiatif ke depan menemui pak Asep, sopir yang ditugaskan menjemput anak-anaknya itu. Yang dicari tampak tengah mengelap mobil.
"Pak Asep, kenapa Athaya nggak ikut pulang?" Andina dengan rasa was-was mulai mengintrogasi pak Asep yang kini duduk di kursi teras berhadapan dengannya.
"Lho, kata den Taya udah bilang sama bu Andin?!" Giliran pak Asep yang terkaget.
"Nggak bilang sama sekali. Dan kalau saya tau Athaya akan ke rumah temannya, pasti pak Asep saya kabari, hanya perlu jemput Lala aja."
"Waduh, maaf bu Andin." Pak Asep tampak panik dan merasa bersalah sudah melupakan aturan secara lisan yang dibuat majikannya tentang prosedur mengantar jemput anak-anak.
"Tadi pak Asep liat nggak Athaya naik mobil apa?" Andina berusaha berkata normal tanpa memarahi sopir yang sudah lalai itu.
"Saya liatin dulu dari dalam mobil waktu den Taya menunggu di depan sekolah. Sampe ada mobil CRV warna abu berhenti dan den Taya masuk ke dalamnya."
"Kalau sampe magrib belum pulang, kita cari!" Andina segera beranjak ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban Pak Asep. Kini ia tampak gelisah, berjalan mondar mandir tak menentu dengan batin berdoa berharap si sulung keadaannya baik-baik saja.
Sampai magrib menjelang, belum ada tanda-tanda Athaya pulang. Membuat seisi rumah pun ikut cemas.
"Ma, kenapa kakak belum pulang?" Lala yang sudah mandi menghampiri mama Andin yang tengah duduk dengan raut wajah gelisah. Segelas teh yang dibawakan Bi Idah bahkan belum disentuhnya sama sekali.
"Paling sebentar lagi pulang." Ia tidak mau Lala tahu jika kakaknya telah berbohong jika sudah minta ijin padanya. Jangan sampai nantinya ditiru oleh Lala.
"Assalamualaikum---"
Andina menjawab ucap salam dan langsung berdiri dengan wajah semringah mendengar suara orang yang sedang dibicarakannya itu.
"Alhamdulillah, kakak pulang. Mama khawatir nungguin dari tadi, sayang." Ia memeluk si sulung dengan persaan lega. Sementara menahan diri dulu untuk menginterogasi sebab melihat wajah Athaya yang murung.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu, Ma." Athaya melepaskan diri dari rengkuhan mama Andin dan berlari menaiki tangga.
Sabar.
Lala mengekori mama Andin menuju dedek Al yang bermain diawasi ceu Edoh. "Kenapa kakak dari kemarin jadi aneh ya, Ma. Batal ikut lomba, terus jadi pendiam. kayak lagi pe em es."
"Emang Lala ngerti PMS itu apa?" Andina mengernyit .
"Kata Zia teman Lala, kalau cemberut dan bete namanya lagi pe em es."
Andina mengulum senyum. Di tengah gundah oleh satu anak , ada satu anak lagi yang menghibur.
****
Suasana makan terasa hambar sebab Athaya tidak turun bergabung, tetap berada di kamarnya. Sudah 2 kali Lala menyusulnya namun selalu bilang belum lapar. Andina akhirnya membiarkannya dulu melihat Lala dan Al sudah tidak sabar untuk makan.
"Lala, belajar sendiri dulu ya. Mama mau nganterin makan ke kamar kakak." Ia mengajak Lala berpindah ke ruang keluarga usai makan.
"Tapi adek suka gangguin. Suka coretin buku." Lala mengerucutkan bibir, merasa keberatan.
"Ade main ditemenin bi Edoh tuh---" Andina menunjuk dengan dagunya ke arah Al yang bermain sepatu roda.
"Oke deh, Ma."
Andina menaiki tangga menuju kamar Athaya dengan membawa nampan berisi sepiring makan dan segelas air putih. Perlahan ia membuka pintu kamar yang tak dikunci setelah dua kali diketuk namun tidak ada sahutan dari dalam.
Pemandangan yang membuat hatinya melengos. Athaya tampak duduk di pojok kamar sambil memeluk lutut dengan wajah menunduk. Ia menaruh nampan di meja belajar dan segera mendekati anak pertamanya itu.
"Sayang, sini duduk sama Mama!" Dengan lembut ia meraih bahu Athaya untuk berdiri dan menuntunnya duduk di tepi ranjang.
Athaya masih mengatupkan mulutnya namun tampak matanya mulai berkaca.
"Ayo ceritain semuanya sama Mama. Jangan dipendam sendiri kalau kakak ada masalah." Andina mengusap pipi pemilik wajah tampan duplikat Arya itu.
"Benarkah aku bukan anak mama?!" Pertanyaan yang membuat Andina menghentikan usapannya sebab terkaget dengan pertanyaan di luar dugaannya. Ia menatap dalam kedua bola mata coklat yang tergenang air.
"Siapa yang bilang begitu, sayang?"
"Ayo cerita dari awal biar mama memgerti maksud orang yang bicara begitu sama kakak." Andina beranjak sejenak mengambil air minum agar Athaya bisa lebih tenang memulai cerita.
Flashback On
"Hei, sini!"
Athaya yang tengah berjalan di koridor menuju kelas, menghentikan langkahnya melihat lambaian tangan seorang ibu-ibu mengarah padanya.
"Tante, manggil aku?"
"Iya. Saya ada perlu sama kamu sebentar."
Bangku panjang di dekat play ground menjadi pilihan tempat duduk di tengah lalu lalang murid yang berdatangan.
__ADS_1
"Kamu Athaya, kan?"
Athaya mengangguk.
"Nama orangtuamu siapa?"
"Papi Arya dan Mama Andina." Athaya menjawab bangga dengan binar bahagia sebab orangtuanya itu memang menjadi idolanya.
"Kamu salah. Mama kandung kamu bukan Andina."
"Maksud tante apa?" Athaya terkaget dan mengerutkan keningnya.
"Andina itu mama tiri kamu, Athaya. Saya tahu siapa mama kandung kamu."
"Siapa tante?"
"Tante bohong kan?!" Athaya menggeleng tak percaya.
"Buat apa bohong nggak ada untungnya. Saya akan kasih tahu. Tapi ada syaratnya!"
"Syaratnya apa, tante?"
"Kamu harus mundur dari Lomba Bertutur. Nanti saya kasih tahu siapa ibu kamu sebenarnya. Saya punya fotonya."
"Selama ini kamu tinggal bersama ibu tiri. Tahu kan kalau ibu tiri itu suka jahat."
Athaya menggeleng, menyangkal. "Mama Andin sangat baik, sangat sayang sama aku. Mama ter the best." Ia menjawab dengan berapi-api, tak terima mamanya dijelek-jelekkan.
Wanita yang duduk di samping Athaya itu tersenyum menyeringai. "Sekarang aja baiknya, lama-lama akan kebuka kedoknya. Liat aja di sinetron tuh udah dicontoin."
"Aku nggak pernah nonton sinetron, mama bilang tidak mendidik." Athaya terus saja menyanggah, membela mama Andin.
"Kalau mama tirimu baik pasti ngasih tahu dong siapa mama kandungmu sebenarnya. Ini kan nggak. Pasti suatu saat ada niatan jahat tuh. Nanti yang akan disayangi cuma 2 adikmu aja yang bener-bener anak kandungnya." Wanita itu terus saja menghasut.
Athaya terdiam mendengar perkataan wanita dewasa di sampingnya itu. Mencerna semua ucapannya.
"Jadi gimana mau tau nggak?!"
Athaya mengangguk lemah, ragu.
"Syarat tadi penuhin dulu. Besok pulang sekolah ada mobil yang akan menjemput kamu. Saya akan kasih tahunya di rumah."
"Tapi---- tapi nanti bilang apa sama sopir yang jemput. Mama nggak akan ngijinin pergi kalau nggak jelas mau kemana."
"Nggak usah ijin sama mama tirimu itu. Bilang aja sama sopir mau main ke rumah teman, bilangin udah ijin sama mama."
"Tapi aku jadi berbohong. Bohong itu dosa, tante." Athaya menggeleng tak setuju.
Membuat wanita di sampingnya itu mendecak kesal sebab tidak mudah mempengaruhi pemikiran Athaya.
"Hanya sekali ini kok bohongnya. Jadi gimana? Cepetan udah bel nih."
__ADS_1
"Oke, tante. Aku akan mengundurkan diri."
Flashback Off