
Marisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Ricky. Arya hanya mendengus menahan jengkel.
"Sa....kamu jelasin !" perintah Arya, malas melihat wajah Ricky. Marisa masih saja tertawa sambil memegang perutnya yang jadi sakit karena tertawa terus.
"Ehm...jadi gini Kak..." Marisa berusaha menetralkan wajah untuk serius, ia menceritakan semuanya kepada Ricky perihal Athaya itu.
Ricky tampak manggut-manggut mengerti, " wih...halalin aja bro biar si mama selalu ada buat Athaya," ujar Ricky tersenyum smirk.
Arya hanya mendengus kesal melihat sahabatnya yang hobi usil itu. Ia sekarang lagi berfikir keras bagaimana caranya menenangkan anaknya karena pasti nanti akan menanyakan lagi Andina.
Untuk saat ini masih tenang karena sudah berhasil dibohongi kalau "mama" nya itu sedang sholat.
"Kak...aku pulang ya...soalnya besok ada jadwal kuliah pagi," ujar Marisa minta ijin.
Arya menganggukan kepalanya. "Ky...anterin Marisa pulang, lo nanti balik lagi kesini temenin gue soalnya Mama nggak bisa kurang fit katanya."
__ADS_1
"Ok bro
****
Andina duduk disamping Ibu sambil badannya menyender ke bahu ibunya. Mereka sedang menonton tayangan berita di tv. Keduanya memang kompak tidak menyukai menonton sinetron karena menurutnya kontennya kurang mendidik terlalu berfaham materialistis.
Zaki berada dikamarnya sedang belajar, sementara Ayah sedang berada di Garut mengurus lahan perkebunannya.
"Bu tadi teteh diruko cuma setengah hari, siangnya menengok Athaya, ia dirawat dirumah sakit." Andina membuka percakapan, melaporkan kegiatannya hari ini.
"Uluh...sakit apa nu kasep teh ?" Ibu menolehkan kepalanya ke samping, merasa terkejut.
"Terus Bu...dia jadi manggil teteh Mama...teteh sampai kaget dan bertanya-tanya apakah ada yang ngajarin gitu."
"Hah, Mama...? Waduh anak Ibu sudah jadi Mama !" Ibu menegakkan badannya karena kaget, sampai Andina yang sedang menyender terjerembab.
__ADS_1
"Ishh Ibu kalau kaget biasa aja atuh..." Andina memberengut. "Hehe...maaf atuh teh, beneran Ibu kaget dengernya, coba cerita atuh apa alasannya cenah.."
"Naluri teteh merasa dia itu haus sentuhan seorang Ibu...sampai-sampai dalam sakitnya mengigau manggil-manggil Mama..." Andina menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, matanya dipejamkan, menerawang mencoba menarik benang merah kejadian demi kejadian.
"Jadi maksudnya perhatian teteh selama ini masuk alam bawah sadarnya sebagai perhatian seorang Ibu ?" ujar Ibu menerka membuat kesimpulannya.
"Ya seperti itu Bu...teteh kasihan melihatnya. Makin hari makin jatuh cinta sama anak itu, wajah tampan nan polos tanpa dosa, teteh tulus sayang sama Athaya Bu..."
Senyum tipis terbit dari wajah Ibu, " kalau sama bapaknya ada rasa juga ?"
"Ishh Ibu mah...kalau sama Pak Arya biasa aja...teteh sama dia respect karena dia kan dulu majikan Ayah, dia dan keluarganya tidak sombong, tidak memandang rendah status orang, sangat baik terhadap keluarga kita." ujar Andina mengeles, ia rebahkan kepalanya dipangkuan Ibu
"Ibu mah hanya bisa mendoakan...semoga setiap langkah teteh selalu penuh kebaikan dan keberkahan, memberi manfaat untuk orang lain. Kalau teteh sayang sama anak itu sayangilah dengan tulus, untuk kedepannya biar Alloh yang mengatur jalan hidup teteh," balas Ibu sambil membelai lembit rambut Andina yang tidur dipangkuannya.
Jangan kasih kendor LIKE dan VOTE nya ya !
__ADS_1
Laf u all 😍
...BERSAMBUNG...