
"Apa benar ini tokonya Andina ?" Ternyata wanita paruh baya itu Mama Rita beserta Athaya.
"Oh betul bu...mari silahkan masuk...saya panggilkan dulu teh Andin di atas," Reni mempersilahkan Mama Rita masuk..bergegas ia ke lantai dua menemui Andina.
"Teh..ada tamu dibawah ?" ujar Reni. "Siapa Ren ?" tanya Andina. "Itu...Athaya sama ibu-ibu...mungkin neneknya."
"Oh ya udah aku turun dulu...tolong selesaikan ini ya Ren...susun dirak sesuai warna ya," Reni menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Andina menuruni tangga dengan cepat...saat tiba di ujung tangga Athaya berlari menghambur memeluk kaki Andina yang terbalut rok.
"Hallo dek Atha....kangen sama kaka hemm," Andina meraih Athaya dan memangkunya."Bu Rita apa kabarnya bu...," Andina menghampiri Mama Rita dan mencium tangan kanannya penuh khidmat.
"Alhamdulillah baik Din...ibu kesini nganter Athaya karena kangen sama kamu katanya..." Mama Rita beralasan dengan tersenyum. "Ibu boleh lihat-lihat Din..." Mama Rita menatap sekeliling ruangan toko. "Mangga bu boleh banget...".Andina mempersilahkannya.
__ADS_1
Mama Rita PoV
Seperti biasa pagi ini Arya datang mengantarkan Athaya ke rumah. Ada yang beda dengan hari-hari sebelumnya, kini ia membawa mobilnya sendiri setelah Wahyu berhenti kerja. Sebagai seorang ibu, aku merasa sedih melihat kehidupan rumah tangga anaknya. Rutinitas setiap hari menitipkan anak, mengantar dan menjemput tentunya sangat melelahkan. Tapi Arya anakku, tidak pernah mengeluh. Tapi aku tahu dibalik itu semua rumah tangga anakku sedang tidak-baik saja. Kemarin Vita menelepon menanyakan apakah Arya ada disini, itu sudah cukup mensiratkan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.
Yaaa...ngomong-ngomong soal Vita, dari awal sebenarnya aku kurang menyetujui Arya menikah dengannya. Tapi melihat kesungguhan Arya mencintainya, aku memilih mengalah demi kebahagian putraku. Dia kurang respect terhadap kami, sampai sekarang pun bisa dihitung dengan jari berapa kali dia berkunjung ke rumah mertuanya ini, sangat-sangat jarang.
Aku meminta alamat tempat kerja Andina pada Arya. Dengan alasan penasaran ingin main kesana melihat usahanya. Arya pun memberikannya hingga sampailah aku ke tempat ini dengan diantar sopir.
Author PoV
"Saya memulainya saat kuliah bu...tapi dari rumah. Lama-lama omset makin naik dan rumah tidak bisa lagi menampung barang stok jadi setelah lulus saya sewa ruko ini," ujar Andina menjelaskan.
"Maaf ya bu duduknya dikarpet...disini tidak ada kursi untuk tamu..."
__ADS_1
"Nggak apa-apa Din...santai aja. Oh ya kenapa kamu memilih wira usaha...bukannya melamar kerja dikantoran ?" tanya Mama Rita.
"Saya ingin membantu orang dengan menciptakan lapangan kerja bu...terlihat timpang soalnya, lulusan sarjana sangat banyak dibanding ketersediaan lowongan kerja. Hemmm juga sebagai planning masa depan jika kelak menikah saya masih tetap bisa mengurus keluarga, karena usaha seperti ini bisa dilakukan dari rumah jadi perhatian kepada suami dan anak tidak terabaikan," Andina menjelaskan dengan penuh keyakinan.
"Wah...ibu salut dengan pemikiranmu...dewasa sekali," Mama Rita tersenyum...ada rasa bangga dan kagum yang terpancar dari sorot matanya.
"Din...ini ada go*** antar makanan, udah dibayar katanya," Safa memberikan beberapa kantong makanan ke Andina.
"Lho aku nggak pesan makanan kok...salah alamat kali Fa...," Andina mengerutkan dahinya.
"Itu ibu yang pesan...ini makanan untuk kita semua...ayok kita makan bareng...dan 1 bungkus ini tolong kasih ke sopir ya...," Mama Rita menyodorkan 1 kotak nasi ke Safa untuk diberikan ke sopirnya.
"Alhamdulillah...rejeki anak soleh..." ujar Safa berseru kegirangan. Andina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum geli.
__ADS_1
*************
BERSAMBUNG