
Acara akad nikah selesai pukul 1 siang. Keluarga inti dan sahabat beristirahat di masing-masing kamar yang sudah dibooking menunggu waktunya resepsi yang dimulai pukul 7 malam.
Sepasang pengantin sudah berada didalam kamar Presidential Suite, kamar pengantin mereka. Tempat tidur king size dengan balutan sprei putih dan sepasang angsa diatasnya serta rangkaian bunga mawar putih dan untaian melati yang menjuntai diatas kepala ranjang menambah kesan romantis.
Seusai menutup pintu, Arya langsung memeluk Andina erat.
"Mas....aku gerah mau ganti baju dulu dan sholat Duhur keburu akhir..." Andina mencoba meronta dari dekapan Arya.
"Sebentar sayang....aku menahan diri dari tadi pengen meluk kamu. Aku kangen berat....gara-gara dipingit." Arya makin mengetatkan pelukannya dengan wajah menelusup diceruk leher Andina yang masih tertutup hijab.
2 menit berlalu....Andina menepuk punggung suaminya. "Mas, aku pusing pengen membuka asesoris dikepala nih...lepas dulu ya," ujarnya memelas. Arya langsung melepas pelukannya, menuntun Andina duduk didepan meja rias.
"Sini sayang, aku bantu..." Arya membantu membuka perentelan dikepala Andina.
"Mas, udah...aku bisa lanjut sendiri. Mas duluan mandi gih...sekalian sholat."
"Mandi bareng aja yuk...kita kan udah sah, sayang..." ujar Arya sambil mengecup pipi Andina. Arya mengulum senyum lihat dicermin, pipi istrinya merona malu.
"Eh gak gak mau...cepetan mandi keburu akhir..." Andina mendorong badan Arya menjauh darinya. Arya hanya terkekeh, dengan kilat ia kembali mencuri cium pipi Andina lalu melenggang menuju kamar mandi.
Arya keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk putih melilit pinggangnya. Air dari rambutnya yang masih setengah basah menetes ke tubuh atasnya yang polos.
"Sayang... ambilkan ba...." Arya menggantung kalimatnya karena terpana melihat pemandangan indah. Ia menelan salivanya menyaksikan Andina memakai bathrobe, kulitnya yang putih mulus dengan rambut hitam tergerai ikal bergelombang bagian bawahnya, melangkah dengan tersenyum mendekatinya.
"Mas ini bajunya...sekarang giliranku mandi ya..," Andina menyerahkan kaos dan sarung sebelum masuk kamar mandi. Ia memalingkan wajah malu melihat suaminya yang hanya memakai handuk.
Arya baru tersadar saat baju yang disodorkan Andina menyentuh kulitnya. Ia hanya mengangguk, pikirannya masih terhipnotis dengan pemandangan barusan.
__ADS_1
Selesai sholat, Andina belum melihat suaminya lagi semenjak keluar kamar mandi. Kini ia memakai gamis santai, merebahkan badannya diranjang. Rasa lelah jadi berkurang setelah mandi, masih ada waktu beberapa jam untuk beristirahat.
Ceklek. Suara pintu terbuka, dilihatnya Arya yang masuk dengan setelan kaos dan celana pendek selutut
"Dari mana Mas ?" Andina akan bangun dari tidurnya tapi terjungkal karena Arya bergerak cepat ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Andina. "Mas...mmnnuuachhh..." Arya membungkam mulut Andina dengan bibirnya.
Andina mencoba mendorong dada suaminya saat dirinya kehabisan nafas. "Mas, ishh...." Nafas Andina tampak terengah naik turun, ia menutup mukanya yang memerah dan dadanya berdesir.
Arya terkekeh melihat reaksi Andina seperti itu. "Jangan tegang, sayang....rilex..." Arya mengelus rambut Andina dengan tatapan mesra.
"Mas sih tiba-tiba gitu....aku belum siap. Ini ciuman pertama aku..." Andina kembali menutupi wajahnya dengan tangan, malu.
Arya kembali terkekeh, diciumnya kening Andina penuh perasaan. "Mas, turun dulu ih berat..." Andina menjatuhkan tubuh Arya ke samping karena merasa risih dengan adanya sesuatu yang keras menekannya.
"Mas, aku penasaran dengan mahar yang Mas Arya kasih. Kenapa sebanyak itu...katanya hanya seperangkat alat sholat." Andina menatap suaminya yang kini tidur menyamping menghadapnya dengan bertumpu satu tangan.
"Hmm, angka itu ada maknanya, sayang..." Arya menyusuri wajah Andina dengan telunjuknya.
"Sekarang 'triple A' nya juga jadi inisial nama Arya, Andina, Athaya. Maknanya 1, 3 adalah TIGA NAMA menjadi SATU KELUARGA. Semoga menjadi doa, ujian apapun yang nanti menimpa keluarga kecil kita, semoga kita tetap SATU tak tergoyahkan." Andina mengaminkan ucapan suaminya itu.
Arya mencium rambut Andina yang tergerai, membelainya lembut. Ia pandangi wajah Andina dengan tatapan dalam, matanya berkabut penuh gairah. "Sayang...kamu cantik sekali...aku beruntung memilikimu...aku mencintaimu Andinaku..."
Andina balas menatap dalam wajah Arya, satu tangannya mengelus lembut rahang kokoh suaminya. "Aku juga mencintaimu, suamiku..."
Getar-getar cinta membuncah, meluap tumpah tak terbendung lewat ungkapan perasaan kedua insan yang telah halal. Arya mengecup lembut bibir ranum istrinya, Andina memejamkan mata. Nalurinya mencoba mengikuti, menerima, setiap sentuhan yang dibuat suaminya.
"Buka mulutnya sayang....jangan tegang, biar aku dulu yang bermain...nanti kamu akan terbiasa..." Andina menganggguk patuh, matanya masih terpejam merasakan desiran aneh disekujur tubuhnya yang baru pertama ia rasakan.
__ADS_1
Tok tok tok.....terdengar pintu diketuk berkali-kali. Andina yang duluan tersadar, melepas ciuman dan tangan Arya yang sedang menjelajahi gunung kembarnya.
"Mas...ada yang ketuk pintu, buka dulu gih..." Andina terduduk sambil merapihkan pakaian dan rambutnya yang berantakan.
Arya berdecak kesal merasa terganggu, nafasnya sudah memburu...ingin melakukan lebih. Ia turun dari ranjang menuju pintu.
"Kak...maaf aku ganggu...ini Athaya nya nangis pengen ke Mama sama Papi..." Marisa yang berada dibalik pintu tertawa mesem lihat rambut kakaknya yang acak-acakan. Ya, ia gak sadar tadi Andina meremas rambutnya.
"Papi....mana Mama..." Athaya masih terisak, tangannya merentang minta digendong.
"Cup sayang...maafin Papi jadi lupa sama Thaya. Ayo Mama ada didalam..." Arya mencium pipi anaknya yang basah karena menangis.
"Ya udah Kak, aku pergi ya..." ujar Marisa sambil berlalu. Arya menutup pintu kembali.
"Hei adek....arghh Mama kangen...." Andina memekik bahagia, ia menghambur menuju Athaya, meraihnya kedalam pelukannya.
"Mama...Taya cali-cali dali tadi nda ada hiks..." Athaya kembali menangis, dirinya tampak merajuk.
"Uluh-uluh anak Mama...maaf ya tadi Mama abis mandi dulu. Udah dong jangan nangis...sekarang adek kan udah sama Mama dan Papi..." Andina mengusap sisa air mata dipipi Athaya.
"Taya mau bobo sama Mama tiap hali...kata Papi boyeh..."
"Iya sayang...mulai sekarang adek bisa bobo tiap hari sama Mama, " Andina mencium gemas pipi Athaya. Ia mengulum senyum melihat suaminya duduk di sofa dengan kepala terkulai lemas.
" Yank, jadinya bersambung nanti malam deh..." kini Arya yang merajuk. Andina hanya terkekeh menimpalinya.
************
__ADS_1
Othor mau selonjoran dulu ah.
Next, Resepsi dan MP....besok ya pemirsah. Sabarlah menunggu othor yang harus membagi waktu dengan pekerjaan. Always love u all 😍