SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
167. Teruslah Melangkah


__ADS_3

"Siapa yang menabur angin, akan menuai badai"


Kejahatan janganlah dibalas dengan kejahatan. Jika belum mampu membalas kejahatan dengan kebaikan maka tahan saja kejahatan itu. Tak perlu mengotori tangan yang sudah bersih, biarkan Tuhan yang membalas dengan caraNya.


"Aku tak pernah mendoakan keburukan untuk orang yang sudah mendzolimi kita. Kasihan sekali, nasibnya harus tragis seperti kakaknya..." ujar Arya menatap Andina yang tampak miris melihat berita. Arya terpekur sesaat, merenungi semua hal yang selama ini telah menimpanya.


"Semoga tidak ada lagi orang yang akan mengusik rumah tangga kita ya Mas. Aku selalu berdoa agar Allah selalu melindungi keluarga kecil kita..." Andina menatap lembut Arya. Pendar matanya menunjukkan rasa cinta dan sayang yang berlimpah untuk sang suami.


"Allah mengabulkan doa istri soleha, Alhamdulillah aku selalu selamat dari niat jahat orang-orang. Terima kasih sayang..." Arya mengecup kening dan kedua pipi Andina. Terakhir, mengecup kilat bibir ranum istrinya itu.


Mereka berjalan menuju teras. Mobil sudah siap mengantarkan Arya berangkat ke kantor, ia mengusap kepala sang istri penuh sayang setelah Andina mencium tangannya. Senyum manis si lesung pipit dan lambaian tangan sang istri adalah pengantar semangatnya untuk bekerja keras.


Andina memilih memantau kegiatan online shopnya dari rumah setelah kehamilannya menginjak bulan ke 9. Saat ini dirinya menunggu kedatangan Safa yang tidak lama lagi akan cuti, mempersiapkan pernikahannya.


"Athaya kemana beb, kok tak terdengar celotehnya..." Safa yang sudah duduk di ruang keluarga tampak celingukan.


"Lagi di rumah Oma nya, mau ikut beli hadiah buat baby A katanya..." Andina ikut duduk selonjoran di sisi Safa. Arya dan Andina sudah mengumumkan inisial baby A ke semua keluarga. Nama lengkapnya akan di beritahukan pas kelahirannya.


"Fa, mudah-mudahan aku belum lahiran pas nikahan kamu. Aku kan pengen jadi bridesmaid juga..."


"Aku juga berharap sama. Baby A sayang, nanti ketemu ontinya setelah onti nikah ya plis...biarkan Mama kamu mendampingi onti dulu..." Safa berbicara di atas perut Andina sambil mengusapnya.


Andina hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu. "Ini untuk pelunasan ke konveksi, jangan ngebut-ngebut bawa motornya ya, calon manten..." Andina menyerahkan amplop coklat berisi uang. Hari ini Safa akan menggantikan Andina ke konveksi mengambil pakaian yang sudah dipesannya untuk stok toko.

__ADS_1


Safa yang sedang memakan cake yang disuguhkan Bi Idah, hanya mengacungkan satu jempolnya.


"Fa, setelah nikah nanti masih bisa ke ruko atau jadi ibu rumah tangga saja?"


"Tenang aja beb, sebelum punya anak, aku masih tetap ke ruko. Aku sudah bicarakan hal ini sama A Iky. Nanti kan aku tinggal di apartemen, pasti jenuh sendirian ditinggal A Iky kerja..."


Andina mengangguk setuju. Ia tidak akan menghalangi jika Safa akan berhenti jika suaminya nanti tidak mengijinkan bekerja.


Safa meminta Andina menunjukkan kamar baru yang telah dipersiapkan untuk menyambut kehadiran baby girl. Andina pun mengajak masuk ke kamar barunya yang posisinya dekat, menghadap ruang keluarga.


*****


Tak terasa waktu begitu cepat bergulir. Tiga hari lagi perjalanan baru akan dimulai. Segala persiapan sudah kelar, hanya tinggal menunggu hari H.


Ia telah selesai memanjatkan doa dengan khusyu untuk kedua orangtua yang telah berpulang 10 tahun yang lalu karena kecelakaan beruntun yang menewaskan keduanya sepulang mengisi pengajian rutin.


Ayahnya seorang ustadz sekaligus pengusaha yang dihormati dan disegani masyarakat. Ibunya seorang ibu rumah tangga hebat yang selalu sabar mengajarkan anaknya mengaji dan menghafal Al Quran. Beliau juga selalu setia mendampingi sang suami ketika mengisi ceramah dari masjid ke masjid. Hingga takdir pun berkata, Tuhan berkehendak, mereka bersama dengan wajah tenang dan senyum damai menghadap sang Khalik. Meninggalkan seorang anak remaja 18 tahun yang baru lulus SMA. Ricky Al Farizi.


"Ayah, Ibu, tiga hari lagi aku akan menikah dengan seorang gadis yang aku cintai bernama Safa Fauzia, InsyaAllah ia soleha. Ayah, Ibu, terima kasih untuk bekal ilmu agama yang telah kalian wariskan, sehingga aku bisa kuat serta tegar berdiri dan melangkah sampai hari ini."


"Terimalah hadiah kecil dariku, sebuah masjid yang aku wakafkan atas nama Ayah dan Ibu. Semoga menjadi amal jariyah yang terus menerus mengalirkan pahala. Semoga kelak kita berkumpul kembali di SurgaNya. Ayah, Ibu, aku rindu..."


Ricky pun memeluk nisan keduanya dengan tertunduk. Bahunya yang terguncang menandakan pria itu sedang berusaha menahan tangis yang menyesak.

__ADS_1


Demi apapun, lirih curahan hati Ricky membuat ketiga pria tampan yang merupakan sahabatnya yang berdiri 1 meter di belakangnya tidak bisa menahan haru, mata mereka tampak berkaca-kaca. Arya mendongakkan wajahnya agar matanya yang menggenang, tidak menjatuhkan buliran air mata.


Arya maju menghampiri Ricky dan menyentuh bahunya yang masih tertunduk memeluk nisan.


"Ky, jangan sampai ada air matamu jatuh ke pusara. Itu akan memberatkan Ayah Ibumu. Ayo bangun Ky...." Arya menepuk bahu sahabatnya itu agar tidak terus larut dalam kesedihan.


Sontak Ricky berucap istighfar dan menghapus air mata di balik kaca mata hitamnya itu. Ia pun segera berdiri dan membersihkan celananya dari rumput kering yang menempel.


"Ky, lihatlah ke atas. Langit kini berubah teduh dan semilir anginnya sangat menyejukkan. InsyaAllah ini pertanda alam, kalau Ayah sama Ibu sudah tenang dan tersenyum berbahagia melihat anaknya yang soleh akan menikah." Arya kembali memberi motivasi agar Ricky tegar kembali seperti semula.


Ricky membuka kaca matanya, mendongak ke atas menatap langit biru dengan gumpalan awan putih yang meneduhkan tempatnya berdiri. Ia pun tersenyum lebar menatap langit yang dalam pandangan dan pikirannya menampakkan wajah teduh kedua orangtuanya, tersenyum menatapnya.


Rendi dan William ikut maju dan merangkul bahu di sisi kanan dan kiri Ricky, memberinya kekuatan.


"Terima kasih, kalian selalu ada untuk aku." Ricky menatap satu persatu sahabatnya dengan senyum tulus tersungging di bibirnya.


"Tentu saja akan selalu ada. Karena kita adalah KELUARGA." ucap Arya penuh penekanan. Mereka berempat pun bersatu saling merangkul.


Ricky cs melangkah meninggalkan pusara yang selalu bersih terawat. Taburan bunga mawar dan seikat bunga sedap malam yang segar menghias atas pusara memberikan semerbak harum mewangi tertiup angin.


...Sesungguhnya mendoakan untuk kedua orangtua, beristighfar (memohon ampun) bagi mereka, dan bersedekah untuk mereka, merupak bentuk-bentuk berbakti kepada orangtua setelah mereka meninggal....


...-----...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2