SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
168. Si Pitung Kepentok Ide


__ADS_3

Rumah besar Papa Roby malam ini tampak ramai. Semuanya berkumpul bersama dan akan menginap, karena besok adalah hari pernikahan Ricky. Mama dan Papa menemani Ricky bercengkrama dengan keluarga jauh mendiang orangtuanya yang datang dari luar kota.


Di ruang makan, para wanita baru selesai membuat cemilan pisang bakar keju, mereka duduk santai sambil bercanda tawa. "Kakak Athaya, kenapa nempel terus sama Mama sih, main sama Papi gih..." Marisa menggoda Athaya yang nempel terus di dekat Andina


"Nda mau onti. Kaka mau cama Mama...mau cium-cium adek...." jawab Athaya yang langsung menciumi perut Mama Andin. Andina yang sudah terbiasa dengan sikap posesif Athaya hanya menanggapi dengan tersenyum.


Celine mencubit pipi Athaya yang tingkahnya makin menggemaskan. "Dede bayinya nanti mau onti bawa ke Jakarta ya!" Celine ikut menggoda Athaya yang langsung memeluk erat perut Andina.


"No no...nda boyeh. Onti bikin aja syendili cama om Willi..." jawab Athaya polos. Ia masih ingat perkataan Papinya dulu, hanya Papi dan Mama yang bisa bikin adek.


Marisa dan Celine tertawa lepas mendengar jawaban polos Athaya. "Teh Andin, si Kakak siapa yang ngajarin..." tanya Marisa disela tawanya sambil memegang perut yang pegal karena terus tertawa.


"Siapa lagi kalau bukan Papinya...kalau menjawab pertanyaan Kakak tuh gak bisa asal. Daya tangkapnya kuat, dia akan mengingatnya terus. Alhamdulillah, aku ajarin menghafal juga sekarang sudah hafal 6 surah pendek." jawab Andina sambil mengusap-ngusap rambut Athaya yang duduk dengan tangan mungil memeluk perutnya.


Di taman belakang, Arya berjalan mondar mandir di depan Rendi dan William yang sedang bermain catur. Beberapa kali Willi menegur, karena tingkah Arya mengganggu konsentrasinya.


"Makanya kasih gue ide, masa si Ricky besok malam lolos begitu saja..." Arya duduk dekat Rendi dan mengetuk-ngetuk pelipisnya berharap ide cemerlang muncul.


"Susah bro, soalnya dia pulangnya ke rumah mertua. Gak mungkin kita bertiga masuk ke kamar penganten dengan mengendap-ngendap lewat jendela, bakal ketahuan sama orang rumah..." sahut Rendi tanpa mengalihkan perhatiannya dari papan catur.


"Bagaimana kalau nanti kita kirim pizza terus ditaburi obat pencahar, biar mules...." Arya menatap satu-satu, meminta pendapat kedua sahabatnya itu.


"Astaga Arya, gimana kalau Ricky gak memakannya tapi yang makan pizza malah keluarganya Safa. Bisa mules seisi rumah. Pengantin baru khususnya cowok, nafsu makannya berkurang, yang ada malah nafsu ingin segera memakan istrinya..." sahut William yang dibenarkan oleh Rendi. Arya hanya diam, dalam hati ikut membenarkan juga. Mereka beropini berdasarkan pengalamannya.


Arya hanya bisa membuang nafas berat. Benar-benar buntu, pikirnya.


****


"Mas Arya, kenapa gerak-gerak terus sih..." Andina membalikkan tubuhnya menghadap Arya yang tidur gelisah dan dilihatnya masih terjaga. Mereka tidak menginap di rumah Mama karena dekat, besok pagi akan kembali berkumpul.


"Maaf sayang, jadi terganggu ya?!" Arya mengusap kening Andina yang berkeringat. "Aku belum bisa tidur, memikirkan pernikahan Ricky besok..."

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Semua persiapan kan sudah final, tak ada kendala," Andina mengernyit.


Arya yang kaget sendiri karena keceplosan, hanya nyengir kuda. Ia bukan memikirkan soal acara besok, tapi memikirkan misinya yang harus dituntaskan. "Oh iya ya lupa, semua sudah aman ya." Arya hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Yank, HPL berapa lama lagi?" Arya mengelus perut sang istri dengan penuh sayang.


"Sebentar, hmm... kalau dihitung saat minggu lalu cek kandungan, berarti HPL seminggu lagi. Tapi kan bisa maju bisa mundur..." sahut Andina.


"Sayang, yakin mau melahirkan normal gak caesar saja? Katanya lahiran normal sakitnya ibarat 20 tulang patah bersamaan.." Arya kembali menanyakan Andina soal pilihan melahirkan. Dulu, maminya Athaya bisa melahirlan normal tapi memilih operasi caesar dengan alasan takut dengan rasa sakitnya.


"Aku ingin menikmati fase menjadi seorang ibu. Mengandung, melahirkan normal, dan fase seterusnya...sudahlah Mas jangan tanyakan itu lagi." Andina menutup pembahasan soal pilihan melahirkan karena Arya sudah sering bertanya hal itu dan jawaban Andina tetap sama, mau NORMAL.


"Baiklah sayang, aku akan menjadi suami siaga. Kita akan rawat dan mendidik bersama, anak-anak kita tanpa bantuan baby sitter. Aku gak mau anak kita tumbuh kembang di tangan orang lain..." Arya merapihkan rambut sang istri dan mengajaknya tidur kembali.


Arya mengecup perut Andina lama. Dalam hatinya berharap, semoga anaknya akan lahir ke dunia besok malam. "Kamu harapan terakhir Papi nak, besok malam lahir dengan lancar dan selamat ya, putri Papi."


****


Jam 7 pagi rombongan pengantin pria berangkat menuju Hall Center tempat berlangsungnya Wedding Ricky dan Safa. Sepanjang jalan, Ricky yang biasanya rame kini tampak diam karena tegang. Untung ia duduk di mobil paling depan setelah mobil patwal. Di dalam mobil pengantin Alpard, hanya ia dengan Mama Rita dan Papa Roby. Kalau ketigac cs nya ikut bareng, bisa habis jadi bahan ledekan.


Rangkaian acara adat Sunda berlangsung sampai akhir dengan ditutup sawer panganten. Semua berjalan lancar tanpa kendala dibawah kendali wedding organizer. Ketegangan yang sebelumnya nampak pada wajah kedua calon pengantin kini mencair menjadi rona dan senyum bahagia karena telah sah menjadi suami istri.


Tiba acara resepsi, Mama dan Papa menjadi orangtua pendamping Ricky di atas pelaminan. Arya cs dan istri-istrinya paling dulu naik menuju pelaminan memberi ucapan selamat. Bergantian mereka saling berpelukan dan berfoto dengan Raja dan Ratu sehari. Akhirnya, 4 sekawan sold out.


Sebuah kejutan diberikan Arya, Rendi, dan William untuk Ricky dan Safa. Mereka naik ke atas panggung setelah break adzan Duhur, dengan menggandeng para istri, memberi persembahan lagu untuk kedua mempelai.


"Sebuah lagu 'Kisah Romantis' by Glenn Gredly" sambut Arya saat intro mulai mengalun.


Mengejar dirimu takkan ada habisnya


Membuat diriku menggila

__ADS_1


Bila hati ini menjatuhkan pilihan


Apapun akan kulewati


Hari ini sayang sangat penting bagiku


Kau jawaban yang aku cari


Kisah hari ini kan kubagi denganmu


Dengarlah sayang kali ini


Permintaanku padamu


Seperti paduan suara, semuanya kompak menyanyikan reff.


Dan dengarlah sayangku


Aku mohon kau menikah denganku


Ya hiduplah denganku


Berbagi kisah hidup berdua


Huu hu u


Latihan seadanya saat kemarin tanpa sepengetahuan Ricky, sukses dibawakan saat ini dengan kompak dan ceria. Acungan jempol dan senyum lebar dari atas pelaminan menandakan sang mempelai tampak puas dan terkesan.


Usai tampil diatas panggung, disudut gedung tiga orang pria duduk melingkar dengan minuman dingin di tangannya.


"Ini penawaran terakhir! Siapa yang punya ide cemerlang untuk nanti malam, tinggal sebutkan angka, pengen ditransfer berapa?!" Arya menatap Rendi dan Willi silih berganti.

__ADS_1


Sungguh penawaran yang menggiurkan, tapi mereka hanya menggelengkan kepala. "Susah Bro, kalau TKP nya di hotel kita gak akan sulit bantu eksekusi." Willi mewakili bicara, Rendi ikut mengangguk mengiyakan.


Si Pitung Arya yang juga sama kehabisan akal bulus, hanya bisa berdecak. "Semoga ada keajaiban, enak aja si Ricky menang sendiri...."


__ADS_2