
Rendi meraih ponsel yang tergeletak di jok sampingnya yang sudah dua kali berdering panjang. Ia menatap sejenak nama pemanggil disela fikusnya menyetir. Ricky calling.
"Ren, posisi di mana?" Terdengar suara Ricky menyerobot mendahului.
"Di jalan Gatot Subroto, otw pulang. Ada apa?" Rendi memelankan laju mobilnya saat mobil di depannya menyalakan lampu sein hendak berbelok masuk ke mall.
"Pas banget. Kamu belok ke jalan laswi, ada tugas negara!"
Ia mencari tempat parkir untuk menghentikan mobilnya. Tugas negara menandakan ada hal serius menyangkut the leader 4 sekawan, Arya. Ia harus mendengarkan dulu kronologisnya sebelum bergerak.
"Jelasin, Ky!" Pintanya setelah mobilnya berhenti di tempat parkir.
Rendi mulai mendengarkan cerita Ricky dengan seksama. Cukup panjang dan membuat keningnya mengkerut. Sesekali tampak manggut-manggut dan berkomentar saat ada ucapan Ricky yang tak difahami.
"Oke. Aku jalan ke sana." Ia mengakhiri panggilan dengan kawannya itu. Tak lama terdengar notif pesan yang tak lain adalah kiriman shareloc dari Ricky.
Mobil Rendi memasuki parkiran sebuah butik. Cukup lengang, ada 2 mobil dan 3 sepeda motor terparkir di sana. Ia mendorong pintu kaca yang disambut sapaan ramah pelayan toko yang mengucapkan selamat datang.
"Mbak, saya mau ketemu owner butik ini, Ibu Tantri." Rendi langsung pada inti tujuannya datang ke butik.
"Saya sampaikan dulu ya. Maaf dengan siapa pak?"
"Dokter Rendi." Rendi menjawab lugas. Ia pun duduk di kursi tunggu yang ditunjukkan karyawan toko itu sembari matanya mengedar meneliti setiap busana yang terpajang.
"Mari ikut saya, pak dokter." Karyawan yang tadi sudah kembali dan mengajak Rendi mengikuti langkahnya ke lantai 2.
Rendi kini berhadapan dengan wanita cantik dengan rambu dikuncir kuda. Keduanya saling bertatapan dengan mata menyipit seolah sedang memindai apakah saling kenal sebelumnya.
"Maaf, apa yang bisa saya bantu?" Tantri mulai menyapanya dengan ramah.
"Kamu istrinya Hendrik bukan?!" Rendi menebak sebab merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya.
Dan ternyata Tantri mengangguk meski dengan ragu dan wajah bingung. "Kenal dengan suami saya?!" tanyanya ragu.
Rendi balas mengangguk. "Saya Rendi," ujarnya sambil mengulurkan tangan yang kemudian disambut jabat tangan Tantri yang menyebutkan namanya. "Saya dan Hendrik berteman. Apalagi perusahaan kakak ipar saya sering memakai vendor dia untuk setiap even."
Wah, bener-bener cari masalah ini orang.
Rendi menatap lurus Tantri yang kini duduk berhadapan di kursi sofa. "Apa kamu kenal dengan Arya Syahputra?"
"Yang mana ya?!" Tantri mengerutkan kening. Tampak berusaha mengingat nama yang disebutkan itu.
"Ceo jaringan Galaksi yang lagi naik daun, cabangnya banyak diberbagai kota. Dan baru-baru ini bersama keluarganya membeli saham perusahaan Merpati Travel." Ia sengaja membanggakan dan meyombongkan kredibilitas dan bonafiditas Arya berikut kekuasannya kepada orang yang sudah bermain-main dengan keluarganya itu. Tuman.
__ADS_1
Tampak raut wajah Tantri berubah menegang.
"Istrinya Arya itu bernama Andina, pemilik label muslim wear Triple A yang 2 bulan lalu rancangannya tampil Jakarta Fashion Week."
Wajah yang menegang itu mulai pias dengan jemari saling bertaut sambil menggigit bibir.
Rendi masih menatap tajam Tantri yang tampak gusar. "Arya itu yang 2 anaknya bersekolah di Abu Bakar fullday school. Namanya Athaya dan Aqilla. Dan Athaya harus mundur dari lomba tingkat nasional karena intimidasi."
"Iya-iya saya tahu profil Arya!" Tantri menyetop Rendi yang bersiap berucap lagi. "Dia pengusaha muda yang lagi viral kan?! Merpati Travel itu perusahaan orangtua saya. Oke, saya akui berita yang ini baru tahu kalau saham mayoritas sekarang dimiliki Arya. Terus apa hubungannya sama saya? Saya nggak ada waktu ngomongin orang, lagi banyak pekerjaan." Pungkasnya yang terlihat kesal.
"Jelas ada hubungannya." Rendi tetap bersikap tenang. "Kamu dalang utama yang sudah mengintimidasi Athaya. Sekarang waktunya mempertanggungjawabkan perbuatanmu!"
"Ini fitnah. Saya nggak tahu menahu soal itu. Memang anaknya Arya sekelas sama Raul anak saya. Jika Raul sekarang yang menjadi wakil, itu kewenangan sekolah. Tak ada sangkut paut dengan saya." Tantri berdiri dengan raut marah. "Sudahlah. Kamu pergi dari sini atau saya lapor polisi!" Gertaknya sambil mengacungkan ponselnya.
Rendi terkekeh sambil merubah posisi duduk menjadi bertumpang kaki. "Kokom sudah buka mulut, Nyonya Hendrik. Pilihan ada satu. Mau ikut saya ke rumah Arya or mau dijemput polisi untuk dipenjara?!"
****
Andina memilih pulang dulu ke rumah untuk melihat ketiga anaknya. Ada Ayah di teras yang lagi ngopi bersama kang Adang sambil mengawasi Al bermain ditemani ceu Edoh.
"Beres, teh?" Ayah Wahyu mencegat Andina yang akan menuju pintu.
"Belum, Yah. Nunggu Rendi lagi menjemput dalangnya." Andina kemudian pamit ke dalam menuju ruang keluarga. Ada Ibu yang lagi menemani Athaya dan Lala menghafal surat At Tin.
"Lala juga udah hafal. Lala dulu ya, nek." Pintanya dengan wajah memelas.
"Biar adil. Sama-sama aja bacanya." Ibu Desi menengahi daripada salah seorang ada yang cemberut.
Andina belum mendekat. Memilih memperhatikan kedua anaknya yang melantunkan surah At Tin dengan tahsin yang bagus. Kedisiplinan mengajari anak-anak membuahkan hasil. Nyes. Hatinya merasa disiram air es. Sungguh menyejukkan hati dan menyenangkan pandangan.
"MasyaAllah, anak-anak Mama pada pinter." Andina mendekat sambil memberi pujian dengan senyum merekah. Ia sepakat dengan Arya. Anak-anak harus diapresiasi agar tercipta hubungan yang harmonis antara anak dan orangtua. Saat diberikan apresiasi, anak akan menyadari bahwa ia dihargai dan dipedulikan, dengan begitu ia akan meningkatkan kesan baik pada orangtua.
"Ma, suara Lala bagus, nggak?" Lala mendekat dan bergelayut di lengan kiri mama Andin yang duduk di sofa.
Andina menepuk sebelah kanan agar Athaya ikut duduk di sisinya. Ia sempatkan meraba kening Athaya yang terasa sudah mendingan. "Suara Lala bagus, merdu. Kakak juga sama." ujarnya menanggapi Lala yang memang paling show up.
"Lala mau jadi penyanyi ya, Ma. Kan suara Lala udah bagus. Nanti Lala menjadi terkenal seluruh dunia mengalahkan K Pop." Lala berdiri merentangkan tangan mengekspresikan imajinasinya sambil berputar.
"Jangan, Lala. Jadi artis itu cape. Nanti dikejar-kejar fans. Kemana-mana nggak bisa main bebas." Giliran Athaya yang bergelayut manja di lengan Mama Andin sambil mengomentari adiknya itu yang menggoyang-goyangkan badan.
"Mending jadi hafizah internasional." Andina menanggapi sambil mengusap-ngusap rambut Athaya. "Terkenalnya bukan hanya di bumi tapi juga di langit."
"Wah, emang bisa gitu, Ma?" Lala menghentikan gerak centilnya beralih menatap sang mama dengan serius.
__ADS_1
"Iya dong. Di bumi maksudnya di dunia, Lala akan dikenal oleh seluruh penduduk bumi sebagai qoriah cantik dan saleha karena menjuarai berbagai lomba tahfiz tingkat nasional dan internasional. Semua orang yang mendengar bacaan Al Quran Neng Lala menjadi tersentuh hatinya untuk mengaji. Pahala besar buat anak cantik mama ini, pahala juga buat yang mendengarkannya.
"Kalau di langit dikenal siapa?" Lala tampak penasaran dan duduk bersimpuh dengan tangan bersidekap di pangkuan sang mama.
"Di langit akan dikenal dan menjadi pembicaraan seluruh malaikat. Bahwa ada anak cantik dan saleha yang suara merdunya digunakan untuk mengaji Al Quran. Sehingga para malaikat bangga dan mendoakan Lala agar mendapatkan rumah di surga untuk mama dan Papi dan semua keluarga." Terang Andina yang beralih mengusap poni Lala yang tengah mendongak dengan mulut menganga. Takjub.
"Aku juga mau jadi hafiz. Nanti rumah aku di surga ada mama dan Papi. Lala sama adek, nenek dan aki aja tinggalnya." Athaya mengeratkan pelukannya di lengan sang mama sambil memeletkan lidah ke arah Lala.
"Oh tidak bisa. Lala mau sama mama sama Papi." Lala beralih memeluk pinggang mama andin dan saling sikut dengan kakaknya memperebutkan posisi.
Andina melerai keduanya dan menjelaskan semuanya akan berkumpul bersama-sama dalam satu rumah di surga jika semuanya saleh dan saleha.
"Ma, main game boleh ya?! Athaya berdiri hendak bersiap mengambil ponselnya di kamar.
"Lala juga ya, Ma?" Lala ikut berdiri.
"Sudah belajar belum?!"
"Sudah."
Sudah."
Kompak Athaya dan Lala.
"Boleh kalau gitu. Mainnya di sini. Hanya 1 jam ya!"
Dengan bersorak riang Athaya dan Lala berlomba menaiki tangga untuk mengambil ponsel di laci yang kuncinya dipegang sang mama. Sebab Andina menjadwal anak-anaknya kapan menggunakan gadget. Apalagi anak-anak sudah tidur terpisah. Jangan sampai saat jam tidur malah bermain ponsel tanpa pengawasan.
Andina menghembuskan nafas panjang dengan punggung bersandar ke belakang. Bersamaan dengan Ayah Wahyu yang datang bergabung duduk di samping Ibu Desi. Tersirat ada beban yang tengah menggelayuti pikirannya Andina.
"Gimana tadi teh?" Ibu Desi yang sedari tadi senyum-senyum menjadi penonton anak dan cucunya mulai bersuara. Mumpung kedua cucunya belum datang.
"Rendi lagi menjemput Tantri. Menurut Ibu, nanti aku harus bersikap gimana?" Ia menolehkan kepala mengarah ke ibunya.
"Bersikap sesuai kata hati teteh. Ibu percaya teteh bisa bijak membuat keputusan dengan hati tenang dan kepala dingin. Arya mungkin akan lebih emosional. Tugas teteh mendinginkannya." Ibu menatap lembut anak sulungnya yang tampak terpekur menatap karpet.
"Teladan kita adalah kanjeng Nabi Muhammad. Meski beliau diludahi orang yang membencinya, dilempar batu orang yang menentangnya, tapi tidak dibalas dengan hal yang sama, padahal kuasa menyuruh malaikat Jibril menimpakan azab. Namun memilih membalas dengan akhlak mulia."
Andina merenungi kata-kata Ayah yang tersirat makna mendalam untuk diaplikasikan oleh dirinya dan Arya yang secara ego dan materi sangat mampu untuk membalas sampai puas hati demi memberikan pelajaran.
****
Waduduh... mau beres 3 bab jadi molor, mau dipadatkan nggak bisa. Sabar ya, mungkin 2 bab lagi story ini bener2 tamat. Jangan bosen dulu okay 😉
__ADS_1