SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
165. Sedekah Menolak Bala


__ADS_3

"Ayang, tenangkan diri dulu oke. Belum tentu Arya bersama Pak Asep. Tadi magrib kita pulang dari cafe berbarengan...mungkin Arya sudah di rumah."


Marisa langsung menghentikan tangisnya, benar juga apa yang dikatakan suaminya itu. "Aku akan telepon Kak Arya." Marisa mengeluarkan hapenya untuk menghubungi Arya. Nada dering terdengar dari saku jaket Pak Asep. Rendi yang sedang memberikan pertolongan pertama, langsung saja merogohnya.


"Sayang, hape Arya ada di Pak Asep," Rendi mengacungkan hape yang berbunyi karena panggilan dari Marisa. Saat Rendi dan Marisa saling diam dengan perasaan tegang, mobil Ricky datang dan parkir sembarang.


Ricky dan William berlari mendekat dengan wajah panik. "Apa yang terjadi Ren?" Ricky langsung bertanya. Tanpa menunggu jawaban, Ricky dan Willi melihat keadaan Pak Asep lalu berkeliling melihat kondisi mobil luar dan dalam.


"Apa perlu kita lapor polisi? Ini Pak Asep juga, ayo kita bawa ke rumah sakit!" William ikut bicara melihat situasi yang ia lihat.


"Kalian apa gak lihat ada yang aneh? Mobil Arya baik-baik saja, tak ada barang yang dicuri, hape Arya juga ada di saku pak Asep." Rendi mengungkapkan kejanggalan yang ia lihat supaya mempertimbangkan kembali apa perlu tidaknya lapor polisi.


"Dan kondisi pak Asep tidak usah khawatir, ia hanya pingsan karena pengaruh obat bius dan luka robek di pelipis saja. Kita bawa ke klinik terdekat aja untuk dijahit lukanya, perkiraan 1 jam lagi ia akan siuman," lanjut Rendi menenangkan kedua sahabatnya itu.


Saat semuanya berpikir keras, hape di saku celana Pak Asep berdering. Ricky berinisiatif mengambilnya, raut wajahnya mengkerut bingung.


"Dari siapa?" tanya Rendi. Membuat Marisa dan William pun penasaran.


"Dari 'Nyonya Arya'. Berarti teh Andin yang telpon. Pasti dia menanyakan Arya..." Ricky memandang tiga orang di depannya, seolah minta pendapat. Dan Rendi menyuruh mengangkatnya.


"Hallo"


*****


"Mas Arya kenapa belum tidur?" Andina yang terjaga, melirik suaminya yang sedang duduk di sofa membaca buku tentang Ekonomi Syariah.


"Nunggu dulu Pak Asep, sudah jam segini kenapa belum pulang juga..." Arya melihat jam yang menempel di dinding kamar, menunjukkan waktu 10.30 malam.


"Mau kemana sayang?" Arya menatap Andina yang turun dari ranjang.

__ADS_1


"Mau pipis. Ini Mas Arya pakai hapeku aja, takut ada apa-apa dengan Pak Asep." Andina menyerahkan hapenya sebelum pergi ke kamar mandi. Ia sudah tahu, hape suaminya tertinggal di cafe dan Pak Asep pergi lagi untuk mengambilnya setelah ada konfirmasi pihak cafe mengamankannya.


"Hallo"


Terdengar sahutan dari sebrang tapi bukan suara sopirnya yang menerima telpon darinya.


"Ricky! Kenapa kamu yang angkat, Pak Asep kemana?"


"Arya, Alhamdulillah...kamu baik-baik saja? aku kira kamu kenapa-kenapa..."


Arya menjauhkan teleponnya karena Ricky memekik dengan keras, membuat telinganya berdengung.


"Aku di rumah baik-baik saja. Hey, cepetan bilang ada apa dengan Pak Asep?"


Arya tampak tak sabar mendengar cerita Ricky. Dengan mimik serius ia mendengar dengan seksama kronologis versi Ricky. Akhirnya mereka janjian untuk bertemu di klinik.


"Sayang, Pak Asep ada yang menganiaya. Dia ditemukan pingsan dalam mobil oleh Rendi dan Marisa saat pulang dari praktek. Sekarang dibawa ke klinik, ada Ricky dan Willi juga disana..." jelas Arya sambil memakaikan jaketnya karena cuaca malam ini sangat dingin.


"Ya Allah, Pak Asep kasihan sekali...bagaimana kondisinya Mas ?" Andina tampak khawatir.


"Alhamdulillah tidak parah, kata Ricky hanya luka robek di pelipisnya. Aku ke sana dulu pakai mobilmu, tidur aja lagi ya. Jangan tunggu aku pulang...kamu harus banyak istirahat." Arya menyempatkan diri memagut bibir sang istri untuk menyalurkan rasa hangat mengaliri tubuhnya.


*****


Pak Asep telah siuman, ia duduk bersandar di bed ruang rawat dikelilingi oleh Arya cs yang siap memdengarkan ceritanya. Darah yang mengering di wajahnya sudah dibersihkan dan luka-lukanya sudah di tutup perban.


"Saya selesai mengambil hape di cafe, langsung berniat pulang. Saat melewati jalan sepi tiba-tiba ada dua motor menyalip dan menjegal jalan, otomatis saya mengerem mendadak."


Semuanya tampak mendengarkan dengan khusyu.

__ADS_1


"Mereka berjumlah 3 orang, mengira saya ini den Arya. Mereka memaksa saya untuk turun tapi saya menolak sampai baku hantam terjadi, salah seorang membekap saya sampai terasa pusing. Setelah itu saya gak tahu apa yang terjadi." Pak Asep mengakhiri ceritanya.


"Kak Arya harus hati-hati. Ada orang yang gak suka sama Kakak..." Marisa menatap Arya dengan cemas. Ia memang tidak tahu, kalau dulu Arya pernah terancam. Arya hanya mengusap kepala Marisa memberinya ketenangan.


Ricky berbisik kepada Rendi agar pulang duluan dengan Marisa. Dirinya baru saja menerima chat, ada kabar tidak baik dari orang kepercayaannya. Dan sebaiknya Marisa tidak usah tahu masalah ini.


"Bro, ada kabar Dea sudah bebas." Ricky menyampaikan informasi yang didapatnya setelah Marisa dan Rendi pergi.


"Kok bisa? dia kan divonis 2 tahun." Arya mengerutkan keningnya, heran sekaligus kaget.


"Ada orang dalam yang mengurusnya. Jadi dia bisa bebas dengan jaminan. Mungkin saja yang terjadi sekarang karena suruhan si Dea. Kamu harus waspada Ar!" Ricky mengingatka Arya akan kemungkinan bahaya yang mengintainya lagi. Ia beropini kalau Dea masih dendam sama Arya.


"Oke. Soal Dea, nanti kita pikirkan lagi, langkah apa yang harus ditempuh besok. Sekarang kita pulang dulu, kasihan Pak Asep harua istirahat." Arya mengajak semuanya pulang karena sudah larut malam. Pak Asep diantar oleh willi memakai mobilnya Arya.


*****


Di sebuah kamar hotel, seorang perempuan seksi berdiri berkacak pinggang dengan sorot mata penuh kemarahan. "Bodoh kalian semua! Dia bukan Arya tapi sopirnya." perempuan itu Dea. Yang masih penasaran ingin menghabisi Arya yang semakin dibencinya karena sudah menyebabkan dirinya merasakan bagaimana dinginnya tembok penjara.


"Saya beneran tidak salah lihat bos, wajahnya sama persis seperti dalam foto yang bos berikan. Setelah berhasil dibius, kami melihat ada orang berjubah putih berwajah dingin, datang mendekat sambil membawa senjata. Kami gak tahu dia datangnya dari mana, tiba-tiba saja sudah berdiri dekat kap mobil." salah satu preman menceritakan apa yang telah dilihatnya tadi.


"Kalian semua dasar preman kaleng! Sekarang pergi jauh-jauh dari kota ini. Karena besok pasti kalian akan dicari-cari preman suruhan Arya. Jangan sampai dia tahu kalau akulah dalangnya!" Dea melemparkan amplop ke lantai, tepat di hadapan mereka. Dan mereka pun buru-buru keluar dari kamar hotel itu.


Dea menggelayutkan tangannya di lengan pria setengah abad yang dari tadi hanya menyaksikan tanpa ikut campur. "Om, bisa bawa aku keluar negeri saat ini juga? Aku gak mau lagi berada di sini...." Dea berbisik sensual di telinga pria buncit itu.


"Tentu bisa sayang. Tapi tidak sekarang, aku ingin menghabiskan malam di kamar ini. Besok aku akan urus keberangkatanmu..." ujar pengusaha berperut buncit itu. Ia mendorong tubuh Dea sampai terlentang di kasur. Dea hanya pasrah saat pria itu menindihnya.


"Baiklah Arya, aku menyerah dan kalah. Kamu sulit sekali untuk disentuh. Banyak sekali yang melindungimu. Aku akan pergi jauh dari hidupmu dan dari negeri ini!"


Dea memejamkan matanya, bukan sedang menikmati sentuhan pria di atasnya. Ia hanya sedang pasrah atas kekalahannya, uangnya sudah terkuras hanya untuk mengejar Arya. Kini ia harus kembali menjadi wanita simpanan, demi menebalkan kembali tabungannya....

__ADS_1


__ADS_2