SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
141. Teror


__ADS_3

Assholatu khoirum minan nauum


Assholatu khoirum minan nauum.....


Allaahu Akbar Allaahu Akbar


Laa Ilaaha Ilallaah.......


Sayup-sayup suara adzan Subuh terdengar, menelusup ke alam bawah sadar Andina. Ia mulai mengerjapkan matanya yang terasa berat karena masih mengantuk. Selama tiga malam ditinggalkan Arya, Andina selalu terbangun jam 2 dini hari karena lapar.


Selama tiga malam itu juga Arya selalu video call bertanya kabar kegiatan keseharian Andina dan Athaya, lalu menemani Andina sampai tertidur.


Andina terduduk, sejenak mengumpulkan nyawa yang belum penuh. Selesai makan dini hari, ia melaksanakan Tahajud lalu tidur kembali jam 4 kurang. Makanya, saat ini matanya terasa sangat berat karena baru tertidur sekitar setengah jam.


"Neng, kenapa wajahnya pucat ? Apakah habis muntah-muntah ya?" pertanyaan Bi Idah membuat Andina menghentikan mengocek susu yang sedang diseduhnya. Selepas subuh Andina memilih tidur lagi, baru turun ke dapur jam 7 ini untuk menyeduh susu untuknya dan Athaya.


""Nggak kok Bi, aku hanya kurang tidur. Udah tiga malam ini aku terbangun setiap jam dua cuma untuk makan..." Andina terkekeh pelan kembali melanjutkan menyeduh susu punya Athaya.


"Wah, Neng Andin beruntung hamilnya anteng. Lebih baik banyak makan daripada susah makan, bibi mah dulu lihat nasi aja langsung mual..." Bi Idah menanggapi di sela mengulek bumbu untuk membuat nasi goreng.


*****


Siang hari di ruko.


Diatas meja Andina, terhampar banyak makanan. Ada cilok, siomay, gado-gado, sop buntut, jus strawbery, es buah. Semua dibeli oleh Safa langsung ke berbagai tempat berbeda karena Andina tidak mau memesan onlen.


Safa langsung merebahkan diri di karpet sepulang dari perburuan mencari makanan itu. "Ya Allah, sabar Safa....demi bumil agar tidak ileran..." Safa bicara sendiri sambil mengurut dadanya.


"Onti cape ya ?" celetuk Athaya yang ikut duduk didekatnya. Pipinya kembung dengan tonjolan bulat bergerak-gerak karena sedang mengunyah cilok.

__ADS_1


Safa yang tadinya payah, langsung tertawa lepas melihat Athaya yang tampak lucu saat memakan cilok. "Ha ha ha ha...kakak mulutnya kayak ikan Lohan..."


"Fa, sini dong bantuin makannya...ini kebanyakan. Aku cuma pengen mencicipi saja.." Andina yang sedang memakan sop buntut, melambaikan tangannya memanggil Safa. "Nih makan gado-gado sama es buahnya ya !" Andina mendekatkan wadah ke depan Safa.


"Din, plis jangan tiap hari suruh aku makan seperti ini ya! Aku bisa ikut lebar, hamil nggak, gendut iya," ujar Safa setelah duduk berhadapan dengan Andina.


"Makan aja beb, urusan gendut mah belakangan..." sahut Andina cuek. Ia beralih mencicipi siomay dengan bumbu kacangnya yang kental, matanya berbinar saat merasakan nikmatnya aroma tenggiri dari siomay yang ia kunyah.


"Segerrrr.. " Andina berseru senang setelah beralih menyeruput jus strawbery sampai habis.


Safa hanya menggeleng-gelengkan kepala, bergidik. "Beb, kamu punya perut karet ya...nggak engap apa makan sebanyak itu."


"Nggak dong....kan yang makannya berdua," sahut Andina tersenyum sambil mengelus perutnya.


Prang.


Gelas air putih yang ada di sisi kanan meja tersenggol lengan Andina sampai jatuh ke lantai dan pecah. "Astagfirullah...." pekik Andina. Ia menengok pecahan beling dan air yang tergenang di lantai.


"Bentar aku ambil lap dulu, Din." Safa beranjak ke dapur mini mengambil lap.


Andina berjongkok membereskan pecahan beling. "Aww!" Ia memekik pelan saat pecahan beling menggores telunjuknya hingga berdarah. Diisapnya telunjuknya itu.


Deg.


"Mas Arya !" tiba-tiba bayangan Arya melintas di pikirannya. Hatinya menjadi berdebar.


******


Medan

__ADS_1


Arya selesai memimpin rapat internal antar pejabat tinggi di cabang Galaxy Medan untuk mendengar langsung laporan setiap divisi dan melakukan evaluasi.


"Pak Brian, istri saya sedang ngidam ingin bika ambon yang di jalan Mojopahit. Bisa minta tolong OB untuk membelikannya ?" Arya akan mengeluarkan uang dari dompetnya tapi Brian sang kepala cabang menahannya.


"Tak usah bayar pak, biar dari saya saja. Saya mau kasih untuk oleh-oleh Pak Arya dan Pak Ricky," ujar Brian dengan sopan. Ia lalu menyuruh sekretarisnya melepon seseorang untuk membeli bika ambon.


Kini, mereka sedang berada di salah satu cafe terkenal di Medan. Brian dan sekretarisnya menjamu Arya dan Ricky untuk makan siang sebelum kepulangannya ke Bandung. Sambil menikmati hidangan, mereka berbincang santai membahas segala hal diluar pekerjaan.


Arya selalu bersikap friendly dan humble dengan semua bawahannya. Sehingga ia selalu disegani dan dikagumi seluruh karyawannya.


"Pak Arya mari kami antar sampai ke hotel. Nanti sore sopir kantor akan menjemput di hotel dan mengantar Bapak ke bandara," ujar Brian saat mereka berada di parkiran selesai makan.


Arya menganggukkan kepalanya. "Sebentar ya, saya mau telepon dulu..." Arya berjalan ke arah trotoar didepannya. Ia menuju pohon kiara payung agar teduh saat menelepon. Arya mendekatkan hape ke telinganya, menunggu Andina menjawab teleponnya.


Tanpa disadari, dua orang pria berboncengan dengan memakai helm fullpace datang mendekatinya. Sebuah sabetan pisau mengenai perutnya. "Arghhh!!!" pekik Arya keras. Hapenya terlempar, ia terhuyung memegangi perutnya yang mengeluarkan darah.


"Bro!" Ricky berlari cepat saat mendengar teriakan Arya, disusul Brian dan sekretarisnya. Semuanya terkaget dengan kejadian secepat kilat itu. Motor pelaku pun sudah tak terlihat. Tak lama tukang parkir ikut berlari mendekat. "Ada apa pak ?" tanyanya heran, menatap semuanya.yang nampak panik.


"Bawa mobil kesini cepat ! Kita harus ke rumah sakit !" ucap Ricky dengan panik. Brian langsung berlari mengeluarkan mobilnya. Ricky menyobek kemeja Arya yang sudah koyak, untuk menahan darah yang terus keluar. "Tahan, Bro!" ucap Ricky sambil memapah Arya memasuki mobil yang sudah ada didepannya.


Jalan raya di siang hari cukup lancar. Brian menjalankan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.


*****


"Misi berhasil Boss !" suara seseorang disebrang telepon memberikan laporan.


"Bagus." jawabnya. Ia melemparkan hapenya ke atas ranjang.


"Ini baru awal, Arya !" gumamnya. Bibirnya menyeringai puas. Ia menghembuskan asap rokok dari mulutnya sambil berdiri di tepi jendela kamar hotel memandang padatnya bangunan kota Medan.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2