SANG PENGASUH

SANG PENGASUH
76. Bunga-Bunga Bermekaran


__ADS_3

Arya membuka pintu kamar, dilihatnya Athaya masih terlelap. Ia mengganti sarung dan baju koko nya dengan pakaian santai, setelah melaksanakan Sholat Subuh dimasjid komplek bersama Papa. Masih terlalu pagi untuk memakai baju kerja. Ia menuju ranjang tempatnya tidur berdua dengan anaknya.


Kemarin minggu, waktunya quality time bersama anaknya. Ia habiskan waktu jalan-jalan mulai dari ikut jogging di car freeday, siangnya main ke wahana permainan sampai sore.


"Sayang...bangun dong sudah pagi," Arya mencoel pipi gembul anaknya. Athaya hanya merespon dengan menggeliatkan badannya berguling ke samping, matanya masih tetap terpejam. Arya terkekeh, ia lalu menggesekkan jambang halusnya ke pipi Athaya, "Ayo bangun...Papi mau ke ruko, mau ikut nggak ?" Athaya mengeliat-geliat karena geli, matanya mulai terbuka saat mendengar kata ruko.


Ia langsung duduk sambil mengucek-ngucek matanya. "Taya mau ke luko Papi..." ujar Athaya sambil menguap. Arya kembali terkekeh melihat tingkah anaknya yang antusias jika mendengar nama ruko.


"Memangnya mau apa ke ruko hmm," ujar Arya sambil mengusap-ngusap merapihkan rambut anaknya. "Taya mau ketemu Mama, Taya kangen Mama..." Arya tersenyum dan menciumi seluruh wajah anaknya penuh sayang.


"Sekarang kita mandi dulu yuk, nanti Papi anterin ke ruko," Arya menggendong anaknya ke kamar mandi.


***


Arya menuruni tangga sambil menggendong anaknya. Keduanya telah berpakaian rapih dan wangi. Wajah duo tampan itu tampak bahagia, tersenyum ceria. Sekali-kali Arya bersiul-siul, anaknya coba ikut-ikutan memanyunkan bibirnya.


"Pa...lihat tuh anak sama cucumu happy banget pagi-pagi gini..." ujar Mama yang sedang menyiapkan sarapan, menunjuk ke arah tangga.


"Bagus dong Ma...sudah lama nggak melihat wajah Arya sesumringah itu," sahut Papa.


"Pagi Oma...pagi Opa," Athaya yang makin aktif berbicara datang menyapa Oma Opa nya.


"Pagi sayang, wah sudah ganteng dan wangi cucu Oma ini mau kemana ?" Oma mencium kedua pipi Athaya yang sudah duduk dikursinya.

__ADS_1


"Taya mau ke luko sama Papi ," ujarnya jujur.


"Onty mau ikut ah ke ruko..." Marisa menyahut, ia datang bergabung untuk sarapan.


"Onty nda boyeh ikut, Taya pelginya sama Papi," jawab Athaya sambil mengunyah makanannya yang disuapkan oleh Oma.


Marisa dan Mama saling pandang penuh arti.


****


"Jadi menurut teteh mending ambil jurusan apa ?" tanya Zaki meminta pendapat. Tapi yang ditanya terlihat mengunyah makannya sambil senyum-senyum.


Zaki mencolek Ibunya sambil memberikan isyarat mata ke arah Andina. Ibu ikutan mencolek Ayah yang sedang menunduk fokus ke piringnya, memberi isyarat mata ke arah Andina. Semuanya jadinya saling memandang dan tersenyum.


Andina langsung terlonjak kaget. "Eh, mana...mana..." Andina memperhatikan piringnya.


Zaki langsung tertawa-tawa senang, berhasil menjahili kakaknya.


"Teh, dari tadi aku tuh ngomong panjang kali lebar berarti nggak didengar sama sekali ck..," Zaki mendecak kesal.


"Ah masa, emang kamu tadi bicara apa ?" Andina balik bertanya. "Males ah, cape ngulangnya juga," jawab Zaki. Selasai menghabiskan sarapannya, Zaki pamit berangkat sekolah.


"Yah, Alhamdulillah tabungan teteh sudah banyak. Teteh ingin membeli mobil, boleh nggak Yah," tanya Andina yang kini tinggal bertiga dimeja makan.

__ADS_1


"Ayah setuju-setuju aja, tapi pastikan dulu modal usaha jangan sampai terganggu," jawab Ayah.


"Insyaallah modal tetap aman, Yah. Teteh mengambil dari laba kok. Mobilnya nanti Ayah aja yang pakai, kan sekarang Ayah sering bolak-balik ke Garut biar lebih aman dan nyaman daripada pakai motor," ujar Andina.


"Syukurlah kalau teteh sudah mampu beli. Ayah paling nanti sekali-kali pakainya sesuai keperluan. Jadi teteh juga harus bisa nyetir nanti Ayah ajarin, biar bisa dipakai untuk kerja."


"Oke Yah, nanti sore kita ke showroom ya, teteh tunggu Ayah diruko."


"Mau beli mobil apa teh, cash atau kredit ?" tanya Ibu.


"Teteh mau Expander putih, Bu. Beli cash aja, teteh nggak mau pusing mikirin cicilan," jawab Andina.


"Ya kalau ada uang lebih bagus cash, Ayah setuju dengan pemikiran teteh," sahut Ayah.


Setelah mengobrol panjang, Andina pamit untuk berangkat ke ruko.


"Yah, anak kita sepertinya sedang jatuh cinta," ujar Ibu sambil tersenyum.


"Biarkan Bu, kita dukung aja. Ayah juga sudah ingin punya cucu," jawab Ayah ikut tersenyum.


*********


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2