
Kemesraan Arya dan Andina di rumah selalu membuat Bi Idah tersenyum sendiri, terkadang malu saat tak sengaja memergoki tuannya sedang mesra-mesraan dengan nyonya rumah. Seperti pagi ini, sopir sudah siap dengan mobilnya yang sudah kinclong di lap saat majikannya baru pulang dari hotel jam 7 pagi. Bi Idah yang akan menyapu ruang tamu jadi kembali lagi ke dapur karena melihat kedua majikannya berpelukan.
"Hadeuh...jadi era sorangan...(malu sendiri)." ucap Bi Idah tersenyum memegang dadanya.
"Mas, pak Asep sudah nunggu tuh....hayu ke depan..." Andina berbicara dengan wajah bersandar di dada suaminya yang bidang, setelah lama membiarkan Arya terus memeluknya.
"Hm"
"Mas Arya sayang.....sudah ya...aku mau jemput Athaya dulu ya..." ucap Andina lembut, tangannya yang melingkar dipunggung Arya diturunkannya.
"Aku tuh pengennya nempel terus sama istriku yang cantik ini...pakai pelet apa sih yank...aku jadi berat untuk pergi nih..." ucap Arya setelah melepas pelukannya.
"Mulai deh gombalnya....semalam apa kurang puas hmm..." sahut Andina sambil merapihkan kerah kemeja Arya.
"Tidak akan ada puasnya sayang...kamu sudah jadi candu buat aku. Nanti malam aku pakai gaya yang lain, yang bisa bikin kamu terus melayang...." Arya tersenyum lebar, jarinya mengusap lembut pipi Andina.
__ADS_1
"Ya Allah, Mas...pagi-pagi sudah mesum...sana ah berangkat..." Andina segera mencium tangan Arya dan menariknya ke luar rumah. Arya tertawa pelan, dia menurut pasrah saat Andina menariknya.
Lambaian tangan dengan senyuman penuh, mengantar kepergian Arya. Kaca jendela dibiarkan Arya terbuka, ikut tersenyum dan membalas lambaian tangan istrinya.
Andina saat masuk ke dalam, melihat Bi Idah sedang menyapu ruangan tamu sambil senyum-senyum. "Waduh si bibi sepertinya lagi seneng nih..." ledek Andina, sejenak berdiri memperhatikan Bi Idah.
"Eh Neng Andin....bikin kaget aja. Hehe gimana nggak seneng...hampir tiap hari bibi dapat vitamin..." Bi Idah terkekeh memegang sapunya erat.
"Vitamin apa bi ?" tanya Andina mengernyit.
"Ahhh bi Idah...jadi aku yang malu ini mah...maafin ya mas Arya suka gak tau tempat..." pipi Andina langsung merona merah.
"Nggak apa-apa neng...mesra itu tandanya bahagia. Bibi senang lihat den Arya yang sekarang. Wajahnya selalu terpancar bahagia, beda dengan pernikahannya yang dulu....ups maaf neng..." ujar Bi Idah menutup mulutnya, merasa keceplosan.
"Santai aja bi....memang dulu seperti apa....aku bukannya kepo, hm mungkin aku bisa ambil pelajaran dari masa lalunya..." Andina mengajak bi Idah untuk duduk dulu di kursi.
__ADS_1
"Maaf neng...bibi bukannya tidak mau cerita, soalnya ada aib istrinya dulu. Garis besarnya, Den Arya ingin istrinya berhenti kerja karena sejak naik pangkat istrinya sering pulang malam, lupa kewajiban mengurus anak. Karena gak nurut akhirnya sepakat cerai." Bi Idah menarik nafas menjeda ceritanya.
Andina tampak serius menyimak penjelasan bi Idah.
"Yang pasti neng... Den Arya orangya baik dan sabar, kalau marah tidak pernah teriak tapi bersikap diam dan menghindar. Bibi mah ikut bahagia lihat Den Arya yang sekarang, kelihatan lho neng....Den Arya sangat cinta sama neng Andin...." ujar bi Idah tersenyum lebar.
"Hm..masa sih bi...aku jadi geer deh..." sahut Andina mesem.
"
"Ya sudah bi....lanjut lagi kerjanya ya....aku mau ke rumah Mama jemput Athaya." Andina pamit sambil menepuk bahu bi Idah.
****
👧 : "kurang puas thor...kurang banyak..."
__ADS_1
me : "iya sabarrrrrrr...nanti sore atau malam 1 bab lagi. Huft protes aja...😛